Wanaloka.com – Awalnya, ada rasa takjub ketika berdiri di depan meja buffet dan melihat barisan makanan yang seolah tiada habisnya. Acapkali kekaguman itu berubah usai mengambil makanan yang memenuhi piring, tetapi banyak yang terbuang menjadi sampah dan limbah organik (food waste) karena tak dimakan habis.
Dua Dosen Departemen Manajemen FEB UGM, Widya Paramita dan Arief Fathoni Argadian melakukan penelitian terkait perilaku berkonsumsi dengan penuh kesadaran (mindful consumption). Melalui penelitian berjudul Awe at the Buffet: Turning Wonder into Mindful Consumption, keduanya berupaya untuk memahami bagaimana rasa kagum (awe) mempengaruhi cara seseorang mengonsumsi makanan di hotel buffet.
“Pengalaman sehari-hari, seperti makan di restoran, menyimpan pelajaran besar tentang perilaku manusia dan tanggung jawab kita terhadap lingkungan,” jelas Widya, Jum’at, 17 Oktober 2025.
Baca juga: Serangan Hama Sebabkan Potensi Produk Pertanian Hilang Sebelum Dikonsumsi Capai 50 Persen
Mita mengakui restoran buffet hotel selalu identik dengan kelimpahan dan hidangan yang tersaji tanpa batas. Bahkan suasana makan pun dirancang untuk memanjakan para tamu.
Sayang, dibalik itu ada persoalan besar yang tersembunyi, yaitu soal fenomena plate waste. Makanan sudah diambil, tetapi pada akhirnya terbuang sia-sia.
“Fenomena ini tentu saja bukan sekadar soal dapur, tetapi juga cermin perilaku konsumsi manusia. Pertanyaannya, apakah rasa kagum yang muncul di meja buffet bisa diarahkan menuju perilaku yang lebih mindful?,” kata dia.
Baca juga: Catatan Kritis Walhi Satu Tahun Kebijakan Lingkungan Prabowo-Gibran: Kartu Merah!
Menanggapi persoalan tersebut, awe atau rasa kagum menunjuk pada persoalan sekaligus jawaban. Awe, bukan sekadar rasa kagum tetapi sebuah kondisi berupa emosi mendalam, dan biasanya muncul dari alam atau karya arsitektur. Meski dalam konteks ini, awe juga bisa hadir dari pengalaman buffet yaitu menu yang berlimpah, dekorasi yang memikat, atau pelayanan staf yang penuh perhatian.
“Dan dari perasaan itu, potensi mindful consumption bisa tumbuh. Konsumsi yang lebih sadar, penuh tanggung jawab, dan tidak berlebihan,” jelas dia.
Lantas, bagaimana proses itu terjadi? Menurut Mita, mindful consumption tumbuh melalui self-transcendence. Bahwa rasa kagum dapat membawa manusia pada kesadaran spiritual, empati pada mereka yang kelaparan atau kepedulian terhadap kelestarian bumi. Berikutnya, tumbuh pula self-efficacy, berupa keyakinan bila manusia mampu mengendalikan diri, mampu untuk mengambil secukupnya, dan meyakini langkah kecil yang mereka lakukan memiliki dampak nyata.







Discussion about this post