Selasa, 10 Februari 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Pemerintah Genjot Produksi Nikel, Walhi Region Sulawesi: Perusakan Lingkungan akan Nyata

Kandungan 52 persen cadangan nikel dunia ada di Indonesia. Pemerintah memaksimalkan untuk memproduksinya menjadi bahan baku sebelum dipasarkan. Alih-alih upaya melepas ketergantungan akan bahan mentah, penambangan nikel justru menjadi ancaman perusakan lingkungan, khususnya di Sulawesi.

Jumat, 14 Januari 2022
A A
Pencemaran Limbah Sedimen Bekas Tambang di Desa Lafeu, Sulawesi Tengah. Foto Dok Walhi Sulteng

Pencemaran Limbah Sedimen Bekas Tambang di Desa Lafeu, Sulawesi Tengah. Foto Dok Walhi Sulteng

Share on FacebookShare on Twitter

Direktur Eksekutif Daerah Walhi Sulawesi Selatan Muhammad Al Amin menjelaskan, saat ini 52 persen cadangan nikel dunia ada di Indonesia. Pemerintah pun terpikat menggenjot produksi nikel untuk kepentingan mobil listrik.

“Seharusnya pemerintah mempertimbangkan secara matang antara ingin melancarkan ambisinya sebagai negara produsen nikel terbesar ataukah ingin menjaga ruang hidup masyarakat,” kata Amin.

Baca Juga: Pelarangan Ekspor Batu Bara Bukan Solusi, Harus Percepat Transisi Energi Terbarukan

Mengingat saat ini, luas IUP tambang di Sulawesi mencapai 690.442 hektare berada dalam wilayah esensial. Bahkan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) ternyata telah melepas kawasan hutan seluas 48.821,98 hektare menjadi wilayah pertambangan melalui Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) untuk 74 perusahaan. Sementara kondisi eksisting luasan IUP nikel di Pulau Sulawesi terdiri dari 87.556 hektare di Sulsel, 92.604 hektare di Sulteng, dan 510.282 hektare di Sultra.

“Khusus untuk di Sulsel ada tujuh perusahaan nikel yang telah mendapatkan IUP. Dampaknya, telah terjadi pencemaran dan sedimentasi sangat parah di Danau Mahalona, sungai, pesisir, Laut, dan Pulau Mori di Luwu Timur,” tambahnya.

Selain itu, Amin juga menjelaskan bahwa sudah banyak perusahaan yang telah melakukan pencemaran, tetapi tidak dilakukan upaya penegakan hukum. Semestinya kepolisian melakukan penindakan terhadap perusahaan yang melakukan pelanggaran lingkungan.

“Jangan sampai kami bangga menggunakan kendaraan listrik, tetapi  tidak diketahui bahwa energi listrik tersebut berasal dari perampasan ruang hidup dan penghancuran ekosistem esensial di Sulawesi,” tukas Amin.

Baca Juga: Trend Asia: Larangan Ekspor Batu Bara Diduga PLN Terancam Krisis

Sementara Direktur Eksekutif Daerah Sulawesi Utara Theo Runtewene mengingatkan, situasi di Sulawesi Utara saat ini sudah sangat genting akibat provinsi tersebut dijadikan pintu gerbang kawasan Pasifik. Artinya, Sulut menjadi daerah prioritas pembangunan nasional yang konsekuensinya ada banyak proyek strategis dilakukan di sana. Beberapa di antaranya adalah kawasan ekonomi khusus dan pembangunan pelabuhan internasional sebagai jalur keluar-masuk melalui Pelabuhan Bitung.

“Nantinya, berbagai bentuk perusakan lingkungan hidup akan begitu nyata,” kata Theo.

Baca Juga: Pernah Terjadi di Gunungkidul, Daryono: Tragedi Wisata Danau Furnas Brasil Pelajaran Penting untuk Kita

Mereka menyatakan, kemajuan peradaban tanpa lingkungan hidup yang baik dan sehat tetap akan menimbulkan bencana. Oleh karena itu, Walhi Region Sulawesi akan tetap mengampanyekan secara lokal, nasional, dan internasional terkait daya rusak ekspansi pertambangan nikel bagi lingkungan hidup dan masyarakat di Pulau Sulawesi.

Melalui Catahu 2021, Walhi Region Sulawesi menuntut pemerintah untuk melakukan moratorium tambang nikel di Sulawesi, meninjau ulang izin-iin tambang nikel di Sulawesi, menyelamatkan hutan tropis Sulawesi, serta menyelamatkan rakyat Sulawesi dari kerusakan ekosistem lingkungan hidup. [WLC02]

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: bijih nikelIUPmoraatoriumnikelpencemaranpertambanganPerusakan lingkungansedimentasitambangWalhi Region Sulawesi

Editor

Next Post
Poster serial Layangan Putus. Foto Instagram @layanganputus.

Belajar dari “Layangan Putus”, Perempuan harus Pandai Baca Tanda Perselingkuhan

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi rumah adat Sumatra Barat. Foto IndrabinYusuf/pixabay.com.Program Gentengisasi, Pakar Ingatkan Rumah Tradisional di Indonesia Tak Seragam 
    In Rehat
    Minggu, 8 Februari 2026
  • Ilustrasi makanan daging. Foto johnstocker/freepik.com.Diet Karnivora Tidak Aman, Ini Risikonya
    In Rehat
    Minggu, 8 Februari 2026
  • Ilustrasi kelelawar di pepohonan. Foto ignartonosbg/pixabay.com.Pakar Ingatkan, Virus Nipah Berpotensi Menular Antarmanusia
    In Rehat
    Sabtu, 7 Februari 2026
  • Bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, 6 Februari 2026. Foto BPBD Tegal.Bencana Tanah Bergerak di Tegal, Dua Ribu Lebih Warga Mengungsi
    In Bencana
    Sabtu, 7 Februari 2026
  • Ilustrasi manusia terdampak cuaca panas ekstrem. Foto Franz26/pixabay.com.Dampak Cuaca Ekstrem, Suhu, Banjir dan Longsor Meningkat 16 Tahun Terakhir
    In News
    Jumat, 6 Februari 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media