Jumat, 29 Agustus 2025
wanaloka.com
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Peringkat Kedua Indeks Risiko Bencana, Indonesia Jadi Laboratorium Kebencanaan

Minggu, 21 Juli 2024
A A
Para narsumber acara Ngopi Bareng BNPB pada 18 Juli 2024. Foto BNPB.

Para narsumber acara Ngopi Bareng BNPB pada 18 Juli 2024. Foto BNPB.

Share on FacebookShare on Twitter

 Wanaloka.com – Mengutip dari World Risk Index (WRI) 2023, Indonesia menempati posisi kedua negara dengan indeks risiko bencana alam tertinggi setelah Filipina dengan skor 43,5 WRI. Tak heran, Indonesia menjadi laboratorium kebencanaan yang memiliki peran menjadi center of excellent dalam bidang kebencanaan. Sebab berbagai jenis sumber bencana alam yang terjadi di Indonesia sudah lengkap.

Berdasarkan data kejadian bencana, seharusnya banyak hal yang bisa dipelajari untuk dijadikan modalitas bahan studi sampai menjadi inovasi dan teknologi dalam pengurangan risiko bencana. Layaknya mendiagnosa suatu penyakit, pendekatan deteksi sumber bahaya dapat  dilakukan seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Pengetahuan tentang risiko, teknologi, diseminasi, dan respon masyarakat membentuk sebuah siklus yang dapat membuat sistem peringatan dini semakin akurat dalam mendeteksi bencana di masa depan,” kata Direktur Pemetaan dan Evaluasi Risiko Bencana BNPB, Udrekh saat acara NGOPI (Ngobrol Pintar) Bareng BNPB di Studio BNPB pada tanggal 18 Juli 2024.

Baca Juga: Jadikan Pengelolaan Sampah Gaya Hidup Menuju Zero Waste Zero Emission 2050

Idealnya, semakin berkembang ilmu pengetahuan dan teknologi, deteksi bencana akan semakin akurat dan dampak kerugian akan semakin berkurang. Hal ini sejalan dengan prinsip pengurangan risiko dan resiliensi berkelanjutan dengan salah satu komponennya yaitu mendorong Sains, Engineering, Teknologi dan Inovasi dalam unsur perencanaan pembangunan.

Perkembangan teknologi peringatan dini tidak lepas dari keterlibatan berbagai unsur termasuk akademisi, perekayasa, dan industri swasta. Komite Remote Sensing, Perkumpulan Pusat Kajian Teknologi dan Inovasi (CTIS) Agustan menjelaskan, ada berbagai macam produk EWS yang sudah dikembangkan oleh perekayasa dan peneliti untuk mendeteksi gejala alam hidrometeorologi dan seismotektonik. Baik berupa sensor tinggi muka air, Alat Deteksi Longsor (ADeL), SIJAMPANG, Rapid Timer, dan Rumah Tahan Gempa. Berbagai inovasi ini dinilai sudah siap diindustrialisasikan secara masal dan dimanfaatkan BNPB sebagai end user.

Deniji dari Pusat Studi Bencana Alam (PSBA) UGM adalah contoh lain dari inovasi teknologi kebencanaan anak bangsa. Alat ini mempunyai kemampuan mendeteksi naiknya muka air pada jalur aliran sungai sebagai alat peringatan dini yang akan diteruskan ke masyarakat melalui BPBD setempat.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Konferensi GFSRlaboratorium kebencanaanNgopi Bareng BNPBPameran ADEXCOWorld Risk Index

Editor

Next Post
Polusi udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Foto Manggala Agni VI Daop Tanah Laut.

Peran OMC Kini, Basahi Lahan Gambut Sebelum Karhutla Terjadi

Discussion about this post

TERKINI

  • Ginseng Jawa (Talinum paniculatum). Foto Alam Sari Petra.Ginseng Jawa Lebih Aman Dikonsumsi Ketimbang Ginseng Korea
    In Rehat
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Gelaran Indonesia Climate Justice Summit (ICJS) 2025 hari pertama di Jakarta, 26 Agustus 2025. Foto Dok. ARUKI.ICJS 2025, Masyarakat Rentan Menuntut Keadilan Iklim
    In Lingkungan
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Kepala BMKG melakukan kunjungan ke UPT Stasiun Meteorologi (Stamet) Kelas I Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, 24 Agustus 2025. Foto BMKG.Akhir Agustus 2025, Potensi Karhutla di Riau Meningkat
    In News
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Lalat buah. Foto CABI Digital Library/digitani.ipb.ac.id.Pengendalian Lalat Buah dengan Teknologi Nuklir, Amankah?
    In IPTEK
    Senin, 25 Agustus 2025
  • Presiden Prabowo Subianto memimpin pertemuan tertutup soal penertiban tambang ilegal di Hambalang, Bogor, 19 Agustus 2025. Foto Laily Rachev/BPMI Setpres.Alasan Prabowo Tertibkan Tambang Ilegal agar Negara Tetap Memperoleh Pendapatan
    In Lingkungan
    Senin, 25 Agustus 2025
wanaloka.com

©2025 Wanaloka Media

  • Tentang
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2025 Wanaloka Media