Selasa, 10 Februari 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Pertambangan Pasir Mengikis Benteng Alami Penahan Tsunami di Selatan Jawa

Jika harus membangun tembok laut buatan seperti yang dilakukan Jepang setelah tsunami 2011, maka biayanya bisa mencapai sedikitnya Rp14 triliun, setara 14 kali anggaran BNPB tahun 2025.

Minggu, 7 Desember 2025
A A
Punggungan pasir yang menjadi benteng alami tsunami di pesisir selatan Jawa. Foto Dok. BRIN.

Punggungan pasir yang menjadi benteng alami tsunami di pesisir selatan Jawa. Foto Dok. BRIN.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Di sepanjang pesisir selatan Jawa, dari Kebumen hingga Purworejo, Jawa Tengah terbentang benteng alami yang terbentuk ribuan tahun lalu. Punggungan pasir yang menjulang di balik garis pantai itu bukan sekadar tumpukan pasir biasa, melainkan dinding pelindung yang diciptakan alam untuk menahan terjangan tsunami.

“Jika punggungan pasir ini rusak, kita kehilangan perlindungan paling dasar dari tsunami,” kata Periset Pusat Riset Kebencanaan Geologi – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Eko Yulianto awal November 2025.

Benteng alam ini terbentuk lewat proses geologi ribuan tahun, dan fungsinya sangat penting bagi keselamatan warga pesisir. Sayangnya, tembok alam yang seharusnya menjadi pelindung masyarakat ini perlahan terkikis penambangan pasir yang semakin meluas.

Baca juga: Rantai Mikroplastik Hingga Masuk ke Tubuh Manusia

Terbentuk ribuan tahun

Hasil riset tim BRIN yang merupakan bagian dari program pendanaan Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) BRIN 2025 menunjukkan punggungan pasir di kawasan ini terbentuk sekitar enam ribu tahun lalu, ketika permukaan laut berada sekitar tiga hingga lima meter lebih tinggi dari sekarang. Secara ilmiah, formasi ini disebut Teras Laut Holosen Maksimum (TLHM).

Struktur alam yang terbentuk dari endapan laut purba ini berperan penting menjadi benteng alami tsunami. Punggungan pasir tersebut membentang sejauh sekitar 40 kilometer dengan ketinggian rata-rata antara 6 hingga 13 meter, berjarak hanya 400 hingga 500 meter dari garis pantai di wilayah Kebumen hingga Purworejo. Bahkan menjadi lebih jauh di Cilacap hingga delapan kilometer.

Perbedaan tinggi dan jarak dari laut inilah yang membuat tingkat kerawanan tsunami di setiap wilayah berbeda. Permukiman di Kebumen dan Purworejo yang berada di atas punggungan dengan ketinggian lebih dari sembilan meter di atas permukaan laut relatif lebih aman dari tsunami berskala menengah.

Baca juga: KSPL dan AJI Jakarta Luncurkan Buku Jejak Kemandirian Pangan Lokal

“Sebaliknya, kawasan Cilacap yang hanya berada di ketinggian nol hingga empat meter lebih rentan karena berada langsung di dataran pantai modern,” jelas Eko.

Secara morfologi, Cilacap jauh lebih rawan dibanding Kebumen karena datarannya lebih rendah dan lebih dekat ke laut.

Kajian kebumian menunjukkan zona megathrust di selatan Jawa-Nusa Tenggara mampu menghasilkan gempa besar hingga magnitudo 9,6, dengan siklus berulang setiap sekitar 675 tahun.

Gempa sebesar ini berpotensi memicu tsunami besar yang dapat menyapu hingga beberapa kilometer ke daratan. Dalam skenario seperti itu, benteng alami berupa punggungan pasir berperan sangat penting untuk memperlambat dan mengurangi kekuatan gelombang sebelum mencapai kawasan penduduk.

Baca juga: Update Bencana Sumatra, Korban Meninggal 867 Orang, Operasi Pembukaan Jalan Diintensifkan

Tembok laut lebih mahal

Kini benteng yang terbentuk gratis oleh alam ini justru terancam hilang karena penambangan pasir yang tidak terkendali. Padahal, jika harus membangun tembok laut buatan seperti yang dilakukan Jepang setelah tsunami 2011, biayanya bisa mencapai sedikitnya Rp14 triliun, setara 14 kali anggaran BNPB tahun 2025.

Jepang sendiri membangun tembok laut setinggi 12 hingga 15 meter sepanjang hampir 400 kilometer dengan biaya Rp138 triliun.

“Ironinya, kita justru mengikis perlindungan alami yang tak ternilai hanya untuk kepentingan sesaat,” ucap Eko.

Menghancurkan punggungan pasir sama saja dengan melepas pelindung terakhir masyarakat dari ancaman tsunami.

Baca juga: BMKG Ingatkan Potensi Hujan Lebat 5-11 Desember 2025

“Ini bukan hanya masalah geologi, tapi soal kemanusiaan,” tambah dia.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Benteng AlamiBRINPertambangan PasirTeras Laut Holosen MaksimumTsunami Selatan Jawa

Editor

Next Post
Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof. Bambang Hero Saharjo. Foto Dok. IPB University.

Bambang Hero, 1-2 Pohon Tumbang Itu Alami, Kalau Akibatkan Longsor Itu Ulah Manusia

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi rumah adat Sumatra Barat. Foto IndrabinYusuf/pixabay.com.Program Gentengisasi, Pakar Ingatkan Rumah Tradisional di Indonesia Tak Seragam 
    In Rehat
    Minggu, 8 Februari 2026
  • Ilustrasi makanan daging. Foto johnstocker/freepik.com.Diet Karnivora Tidak Aman, Ini Risikonya
    In Rehat
    Minggu, 8 Februari 2026
  • Ilustrasi kelelawar di pepohonan. Foto ignartonosbg/pixabay.com.Pakar Ingatkan, Virus Nipah Berpotensi Menular Antarmanusia
    In Rehat
    Sabtu, 7 Februari 2026
  • Bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, 6 Februari 2026. Foto BPBD Tegal.Bencana Tanah Bergerak di Tegal, Dua Ribu Lebih Warga Mengungsi
    In Bencana
    Sabtu, 7 Februari 2026
  • Ilustrasi manusia terdampak cuaca panas ekstrem. Foto Franz26/pixabay.com.Dampak Cuaca Ekstrem, Suhu, Banjir dan Longsor Meningkat 16 Tahun Terakhir
    In News
    Jumat, 6 Februari 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media