Kamis, 28 Agustus 2025
wanaloka.com
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Rahadian Pratama: Teknologi Oxford Nanopore Menggali Potensi Kayu Hutan

Belum semua kayu hutan asli Indonesia yang beragam diketahui potensinya. Perlu teknologi khusus untuk menggalinya..

Selasa, 9 Mei 2023
A A
Dosen FMIPA IPB University, Dr. Rahardian Pratama. Foto biokimia.ipb.ac.id.

Dosen FMIPA IPB University, Dr. Rahardian Pratama. Foto biokimia.ipb.ac.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Departemen Biokimia IPB University, Doktor Rahadian Pratama memperkenalkan teknologi genome sequencing dengan Oxford Nanopore Technologies (ONT). Teknologi tersebut dinilai cocok untuk menggali kayu-kayu asli Indonesia yang memiliki potensial besar.

“Latar belakangnya (teknologi ONT), tanaman kayu hutan Indonesia jarang diminati dan digali potensinya,” jelas Rahardian dalam Webinar Pemanfaatan Oxford Nanopore Technology untuk Whole Genome Sequencing bersama Direktorat Riset dan Pengembangan Universitas Indonesia pada 2 Mei 2023.

Teknologi ONT merupakan teknologi terbarukan generasi ketiga dari sekuensing DNA. IPB University telah menggunakannya dalam beberapa penelitian tanaman tebang kayu hutan sejak 2020 hingga sekarang.

Baca Juga: Don’t Gas Asia, Seriuskah Indonesia Bertransisi ke Energi Baru Terbarukan?

Salah satunya saat digunakan untuk penelitian hutan eboni di Makassar. Kayu eboni merupakan salah satu tanaman yang rentan illegal logging. Para peneliti IPB University membuat metode analisis untuk mengidentifikasi kayu yang sudah ditebang. Penelitian terkait analisis filogenetik itu sudah terbit dalam berbagai publikasi nasional dan internasional.

Mahasiswa S2 IPB University juga telah menggunakan teknologi tersebut untuk meneliti beberapa pohon langka, yaitu Damar Mata Kucing (Shorea javanica) dan Pelahlar (Dipterocarpus littoralis). Pohon tersebut telah dimanfaatkan masyarakat untuk bahan bangunan rumah dan perahu, cat hingga parfum.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: illegal loggingIPB Universitykayu asli IndonesiaOxford Nanopore TechnologiesRahardian Pratamatanaman tebang kayu hutan

Editor

Next Post
Pusat gempa dangkal di Selat Sunda Banten pada Rabu, 10 Mei 2023, pukul 11.24 WIB. Foto tangkap layar Google Earth berdasarkan koordinat BMKG.

Gempa Dangkal 5,4 Magnitudo di Selat Sunda Banten

Discussion about this post

TERKINI

  • Ginseng Jawa (Talinum paniculatum). Foto Alam Sari Petra.Ginseng Jawa Lebih Aman Dikonsumsi Ketimbang Ginseng Korea
    In Rehat
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Gelaran Indonesia Climate Justice Summit (ICJS) 2025 hari pertama di Jakarta, 26 Agustus 2025. Foto Dok. ARUKI.ICJS 2025, Masyarakat Rentan Menuntut Keadilan Iklim
    In Lingkungan
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Kepala BMKG melakukan kunjungan ke UPT Stasiun Meteorologi (Stamet) Kelas I Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, 24 Agustus 2025. Foto BMKG.Akhir Agustus 2025, Potensi Karhutla di Riau Meningkat
    In News
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Lalat buah. Foto CABI Digital Library/digitani.ipb.ac.id.Pengendalian Lalat Buah dengan Teknologi Nuklir, Amankah?
    In IPTEK
    Senin, 25 Agustus 2025
  • Presiden Prabowo Subianto memimpin pertemuan tertutup soal penertiban tambang ilegal di Hambalang, Bogor, 19 Agustus 2025. Foto Laily Rachev/BPMI Setpres.Alasan Prabowo Tertibkan Tambang Ilegal agar Negara Tetap Memperoleh Pendapatan
    In Lingkungan
    Senin, 25 Agustus 2025
wanaloka.com

©2025 Wanaloka Media

  • Tentang
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2025 Wanaloka Media