Jumat, 29 Agustus 2025
wanaloka.com
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Riset Bakteri Wolbachia Gantikan Kelambu untuk Kendalikan Malaria di Papua

Bakteri ini memiliki kemampuan untuk mengganggu siklus hidup patogen penyebab penyakit dalam tubuh nyamuk, serta memengaruhi reproduksi serangga.

Minggu, 6 Juli 2025
A A
Ilustrasi nyamuk Anopheles. Foto shammiknr/pixabay.com.

Ilustrasi nyamuk Anopheles. Foto shammiknr/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Penyakit tular vector, khususnya malaria, masih menjadi tantangan besar dalam sistem kesehatan global. Malaria sebagai salah satu penyakit tular vektor utama telah menyebabkan 2 miliar kasus dan 11,7 juta kematian sepanjang 2000 hingga 2023.

Tingginya beban penyakit ini menunjukkan perlu strategi pengendalian yang lebih inovatif dan berkelanjutan. Selain itu, pendekatan berbasis insektisida seperti kelambu berinsektisida dan fogging mulai kehilangan efektivitas karena resistensi nyamuk dan perubahan perilaku vektor.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memulai studi awal pendeteksian Wolbachia di daerah endemis malaria, yaitu Papua. Penelitian dilakukan di lima titik di Kabupaten Keerom, yakni di Sanggaria, Yatu Raharja, Ubiyau, Samanawa, dan Pitewi.

Baca juga: Delapan Virus Baru Teridentifikasi pada Kelelawar, Pakar Ingatkan Risiko Zoonosis

“Munculnya resistensi terhadap insektisida, pola penularan luar ruang (outdoor transmission), dan perubahan lingkungan mendorong kami untuk mencari solusi baru yang lebih ramah lingkungan. Salah satunya adalah pendekatan berbasis Wolbachia,” jelas Peneliti Ahli Madya BRIN Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman, Rusdiyah, dalam webinar bertajuk “Update Penyakit Tular Vektor; Berpotensi Menjadi Pandemi Berikutnya”, Rabu, 25 Juni 2025.

Wolbachia adalah bakteri endosimbion alami yang ditemukan pada sekitar 70 persen serangga dan diturunkan secara maternal. Bakteri ini memiliki kemampuan untuk mengganggu siklus hidup patogen penyebab penyakit dalam tubuh nyamuk, serta memengaruhi reproduksi serangga.

Nyamuk yang dikumpulkan berasal dari metode human landing collection (HLC) dan resting collection tahun 2023. Analisis dilakukan menggunakan metode polymerase chain reaction (PCR).

Baca juga: Ahli Meteorologi Ingatkan Waspada Kekeringan Meskipun Kemarau Basah

Dari total 1.701 nyamuk yang diperiksa, ditemukan empat spesies utama, yakni Anopheles punctulatus, koliensis, farauti, dan bancrofti. Wolbachia terdeteksi secara alami pada tiga spesies, dengan prevalensi tertinggi pada Anopheles punctulatus. Namun secara keseluruhan, hanya sekitar 2,9 persen dari total sampel yang terinfeksi.

“Meskipun prevalensinya rendah, temuan ini cukup signifikan karena menunjukkan Wolbachia memang ada secara alami pada nyamuk Anopheles di Papua. Ini membuka peluang intervensi berbasis pendekatan biologis lokal,” ujar dia.

Wolbachia mengendalikan vektor

Ia menguraikan tiga mekanisme utama bagaimana Wolbachia bekerja dalam pengendalian vektor. Pertama, inkompatibilitas sitoplasmik (CI), yakni telur dari nyamuk betina liar yang dikawini nyamuk jantan pembawa Wolbachia, tidak akan menetas.

Baca juga: KIKA Ingatkan SLAPP Ancaman Serius Kebebasan Akademik Saksi Ahli di Indonesia

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: bakteri WolbachiaBRINnyamuk Anophelespenyakit malariapenyakit tular vektor

Editor

Next Post
ARTificial Reef, instalasi seni karya Teguh Ostenrik untuk rumah terumbu karang.

Instalasi Seni Teguh Ostenrik untuk Rumah Terumbu Karang

Discussion about this post

TERKINI

  • Ginseng Jawa (Talinum paniculatum). Foto Alam Sari Petra.Ginseng Jawa Lebih Aman Dikonsumsi Ketimbang Ginseng Korea
    In Rehat
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Gelaran Indonesia Climate Justice Summit (ICJS) 2025 hari pertama di Jakarta, 26 Agustus 2025. Foto Dok. ARUKI.ICJS 2025, Masyarakat Rentan Menuntut Keadilan Iklim
    In Lingkungan
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Kepala BMKG melakukan kunjungan ke UPT Stasiun Meteorologi (Stamet) Kelas I Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, 24 Agustus 2025. Foto BMKG.Akhir Agustus 2025, Potensi Karhutla di Riau Meningkat
    In News
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Lalat buah. Foto CABI Digital Library/digitani.ipb.ac.id.Pengendalian Lalat Buah dengan Teknologi Nuklir, Amankah?
    In IPTEK
    Senin, 25 Agustus 2025
  • Presiden Prabowo Subianto memimpin pertemuan tertutup soal penertiban tambang ilegal di Hambalang, Bogor, 19 Agustus 2025. Foto Laily Rachev/BPMI Setpres.Alasan Prabowo Tertibkan Tambang Ilegal agar Negara Tetap Memperoleh Pendapatan
    In Lingkungan
    Senin, 25 Agustus 2025
wanaloka.com

©2025 Wanaloka Media

  • Tentang
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2025 Wanaloka Media