Baca Juga: Emilya Nurjani: Pencemaran Udara Tinggi Dipicu Cuaca Musim Kemarau
“Kami selalu berpikir, jika ingin membuat perubahan jangka panjang, maka kami mulai dari pendidikan. Kami undang kepala sekolah di pulau Jawa, ya sementara ini. Kami kenalkan sistem ekonomi sirkular yang sederhana tapi berdampak besar,” papar Suci.
Namun menurut dia, banyak yang salah kaprah terkait ekonomi sirkular ini. Mayoritas hanya berfokus untuk mengelola sampah di tahap akhir saja. Padahal dari tahap produksi, distribusi, hingga konsumsi masing-masing menghasilkan sampah.
“Ini yang jarang kita diskusikan dan pahami. Setiap aktivitas kecil pun menghasilkan sampah,” ucap Suci.
Baca Juga: Tiga Pulau Indonesia Diguncang Lindu Hari Ini
Sekolah ekonomi sirkular tersebut memberi pemahaman pada sekolah-sekolah untuk mengurangi sampah dalam aktivitas pembelajaran. Seperti membawa alat makan dan minum sendiri, membuat eco break, dan pemahaman tentang memilah sampah.
“Perbaikan dalam budaya masyarakat ini juga harus didukung dengan perbaikan infrastruktur dan sistem. Jangan sampai ketika masyarakat sudah rajin, sudah memilah dan mengurangi sampah, tapi sistem pengelolaannya masih berujung di TPA saja. Jadi memang butuh kerja sama dengan berbagai pihak dan sektor, khususnya masyarakat dan pemerintah,” tambah Suci.
Baca Juga: Budy Wiryawan: Aplikasi IKAN Dukung Keberlanjutan Konservasi Perikanan
Terpisah, pengacara publik Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta Danang A. Kurnia menilai selama ini narasi darurat sampah hanya menganggap masyarakat sebagai penghasil sampah. Wacana yang dibangun adalah masyarakat dianggap sebagai kelompok yang tidak pernah sadar dengan sampah-sampahnya.
“Timbulan sampah itu masalah struktural yang harus diselesaikan secara struktural juga. Perlu ada berbagai pihak yang dilibatkan dalam persoalan darurat sampah di Yogyakarta,” tegas Danang. [WLC02]
Discussion about this post