Dalam penelitian kolaborasi, Dede dengan University of British Columbia, dan Borneo Orangutan Survival Foundation, tim peneliti juga menemukan variasi warna yang belum pernah tercatat sebelumnya. Bahwa individu kucing merah ditemukan dengan beberapa variasi warna, yaitu warna abu-abu dan hitam, berbeda dari warna merah khas yang selama ini dikenal.
“Temuan ini telah kami publikasikan jurnal Cat News, termasuk sedang dalam proses publikasi pada jurnal internasional bereputasi lainnya,” kata Dede.
Selain spesies otter civet yang sempat hilang selama lebih dari satu dekade, penemuan lain sebelumnya juga mencatat kemunculan kembali kelinci belang Sumatera (Nesolagus netscheri). Pertama kali terdeteksi kembali pada tahun 1972 melalui camera trap, dan terdokumentasi kembali pada tahun 1998 dan di periode 2008–2010.
Baca juga: Komisi XII DPR Sidak ke Belawan, Temukan Industri Buang Limbah ke Laut hingga Timbun Limbah di Rawa
Ia menekankan pentingnya upaya dan aksi konservasi dan peran semua pihak, bukan hanya pemerintah, peneliti dan penggiat. Mengingat Indonesia sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, setelah Brasil dan Kongo.
“Kita sebagai warga negara Indonesia secara khusus memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kelestarian satwa liar asli Indonesia,” tegas Dede.
Selain itu, upaya konservasi terbaik untuk menjaga kelestarian tumbuhan dan satwa liar adalah menjaga habitat alaminya. Bahwa kita perlu menjaga habitat berbagai tumbuhan dan satwa langka dan mencegah habitat-habitat tersebut rusak. Langkah lain, adalah melakukan upaya konservasi eks-situ, seperti penangkaran untuk spesies-spesies langka, seperti yang dilakukan pada upaya pelestarian badak Sumatera. [WLC02]
Sumber: IPB University
Discussion about this post