Meski struktur jembatan memberikan perlindungan optimal bagi tawon, keberadaan kawanan dalam jumlah besar di ruang publik berpotensi membahayakan manusia. Sengatan tawon dapat memicu reaksi alergi, bahkan meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas akibat kepanikan pengendara.
Ramadhani melihatnya sebagai dua sudut pandang, apakah sebagai ancaman yang harus dikendalikan, atau bukan suatu masalah besar manusia sehingga dapat dibiarkan.
“Ujungnya kembali pada sudut pandang manusia. Apakah fenomena ini dipandang sebagai ancaman atau tidak. Jika sudah berpotensi membahayakan, tentu perlu dimitigasi,” ujar dia.
Keberadaan populasi tawon yang besar di sekitar lokasi juga membuka peluang terjadinya peningkatan jumlah koloni dalam waktu singkat. Keputusan mitigasi perlu mempertimbangkan tingkat risiko terhadap keselamatan publik.
Baca juga: Desain Kota Pesisir Berbasis Iklim Berpotensi Turunkan Suhu hingga 2 Derajat Celsius
Manusia tidak bisa sepenuhnya mengontrol pergerakan tawon. Namun, mitigasi masih dapat dilakukan, misalnya dengan membuat struktur tertentu menjadi tidak nyaman bagi tawon melalui pendekatan teknologi atau penggunaan senyawa kimia yang aman dan terkendali.
Selain itu, perbaikan kualitas lingkungan sekitar dan menjaga keberadaan musuh alami tawon, seperti burung juga menjadi faktor penting dalam pengendalian populasi secara alami.
Melalui fenomena ini, Ramadhani mengajak masyarakat untuk lebih bijak memaknai fenomena alam yang tidak biasa.
“Wajar jika manusia merasa takut. Tapi selama mereka tidak diganggu dan tidak menimbulkan bahaya besar, kita sebenarnya bisa hidup berdampingan,” pesan Ramadhani.
Pada akhirnya, fenomena seperti ini mengingatkan, bahwa infrastruktur manusia sering kali dibangun di atas ruang hidup makhluk lain. [WLC02]
Sumber: ITB






Discussion about this post