Sabtu, 30 Agustus 2025
wanaloka.com
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Studi Oxford, Transisi Cepat ke Energi Terbarukan Lebih Mahal adalah Salah

Acapkali pemerintah dan sejumlah pihak menunda transisi energi dengan alasan berbiaya mahal. Hasil penelitian justru menunjukkan, transisi energi harus secepatnya demi menekan risiko kerusakan planet.

Jumat, 16 September 2022
A A
Ilustrasi panel surya. Foto schropferoval/Pixabay.com.

Ilustrasi panel surya. Foto schropferoval/Pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Baca Juga: Genteng Energi Surya Buatan Mahasiswa UGM Bisa Dibersihkan Lewat Ponsel

Penelitian tersebut menunjukkan skenario win-win-win yang mengonfirmasi bahwa transisi cepat ke energi terbarukan menghasilkan biaya sistem energi lebih rendah dibanding bahan bakar fosil. Skenario juga menunjukkan, transisi menyediakan lebih banyak energi untuk ekonomi global dan memperluas akses energi ke lebih banyak orang di seluruh dunia.

Manfaat yang ditunjukkan dari transisi energi terbarukan melalui studi skenario “Fast Transition”, bahwa kemungkinan masa depan yang realistis untuk sistem energi bebas fosil pada 2050. Menyediakan layanan energi 55 persen lebih banyak secara global daripada sekarang dengan meningkatkan tenaga surya, angin, baterai, kendaraan listrik, dan bahan bakar ramah lingkungan seperti hidrogen hijau (terbuat dari listrik terbarukan).

Peneliti post-doktoral di Smith School of Enterprise and the Environment, Rupert Way menambahkan, studi masa lalu yang memprediksi biaya tinggi untuk transisi telah menghalangi perusahaan berinvestasi, Juga membuat pemerintah gugup menetapkan kebijakan mempercepat transisi energi dan mengurangi ketergantungan pada fosil. Tetapi biaya energi bersih telah turun tajam selama dekade terakhir, jauh lebih cepat dari yang diperkirakan pemodelan sebelumnya.

Baca Juga: Indonesia-Jepang Kerja Sama Transisi Energi, Investasi akan Dipermudah

“Penelitian terbaru kami menunjukkan, peningkatan teknologi hijau akan terus menurunkan biaya. Semakin cepat melakukannya, semakin hemat. Mempercepat transisi ke energi terbarukan merupakan pilihan terbaik. Bukan cuma untuk planet ini, tetapi juga untuk biaya energi,” kata Way.

Para peneliti menganalisis ribuan skenario biaya transisi yang dihasilkan model energi utama. Skenario menggunakan data 45 tahun biaya energi surya, 37 tahun biaya energi angin, dan 25 tahun untuk penyimpanan baterai. Temuannya, biaya riil energi surya turun dua kali lebih cepat dari proyeksi paling ambisius dalam model-model ini. Studi juga mengungkapkan, selama 20 tahun terakhir model-model sebelumnya sangat melebih-lebihkan biaya teknologi energi bersih masa depan.

Baca Juga: Manusia Tinggal Punya Waktu 7 Tahun Lagi untuk Menjaga Bumi

Sejak invasi Rusia ke Ukraina, biaya energi fosil telah meroket sehingga menyebabkan inflasi di seluruh dunia. Studi yang dilakukan sebelum krisis saat ini, menghitung fluktuasi menggunakan data harga bahan bakar fosil selama lebih dari satu abad.

Krisis energi saat ini menggarisbawahi temuan penelitian dan menunjukkan risiko apabila terus bergantung pada bahan bakar fosil yang mahal dan tidak aman. Penelitian menegaskan, respons terhadap krisis harus mencakup percepatan transisi ke energi bersih berbiaya rendah sesegera mungkin, karena akan bermanfaat baik bagi ekonomi maupun planet ini. [WLC02]

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: energi terbarukankrisis iklimkrisis keamanan nasionalmahalmurahOxfordtransisi energi

Editor

Next Post
Ilustrasi instrumen listrik. Foto image4you/pixabay.com

Migrasi Listrik 450 VA ke 900 VA Masih Wacana, Fokus Pendataan Subsidi

Discussion about this post

TERKINI

  • Ginseng Jawa (Talinum paniculatum). Foto Alam Sari Petra.Ginseng Jawa Lebih Aman Dikonsumsi Ketimbang Ginseng Korea
    In Rehat
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Gelaran Indonesia Climate Justice Summit (ICJS) 2025 hari pertama di Jakarta, 26 Agustus 2025. Foto Dok. ARUKI.ICJS 2025, Masyarakat Rentan Menuntut Keadilan Iklim
    In Lingkungan
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Kepala BMKG melakukan kunjungan ke UPT Stasiun Meteorologi (Stamet) Kelas I Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, 24 Agustus 2025. Foto BMKG.Akhir Agustus 2025, Potensi Karhutla di Riau Meningkat
    In News
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Lalat buah. Foto CABI Digital Library/digitani.ipb.ac.id.Pengendalian Lalat Buah dengan Teknologi Nuklir, Amankah?
    In IPTEK
    Senin, 25 Agustus 2025
  • Presiden Prabowo Subianto memimpin pertemuan tertutup soal penertiban tambang ilegal di Hambalang, Bogor, 19 Agustus 2025. Foto Laily Rachev/BPMI Setpres.Alasan Prabowo Tertibkan Tambang Ilegal agar Negara Tetap Memperoleh Pendapatan
    In Lingkungan
    Senin, 25 Agustus 2025
wanaloka.com

©2025 Wanaloka Media

  • Tentang
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2025 Wanaloka Media