Wanaloka.com – Sejak awal, pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) didesain untuk ramah lingkungan dengan meminimalkan produksi carbon. Namun target net zero emission (NZE) atau nol emisi karbon, menurut Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi akan sulit tercapai.
Sebab syarat yang harus dipenuhi untuk mencapai NZE adalah 100 persen pembangkit listrik menggunakan energi baru terbarukan (EBT), nol persen karbon dari kendaraan bermotor dengan BBM fosil, dan nol persen pencemaran lingkungan dari asap pabrik.
“Untuk mencapai 100 persen pembangkit EBT, PLN harus membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang tersebar dengan kapasitas sebesar 50 Mega Watt. Ditambah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA),” kata Fahmy, Kamis, 15 Agustus 2024.
Baca Juga: Pantai Selatan DIY Rawan Abrasi dan Sedimentasi
Sedangkan untuk mendukung pengembangan operasional kendaraan listrik, setidaknya PLN harus membangun ekosistem smart electric vehicle dalam rangka mewujudkan sarana transportasi ramah lingkungan yang menjangkau seluruh wilayah IKN.
“PLN juga membangun PLN Hub yang akan menjadi episentrum ekosistem transisi energi dan digitalisasi pertama sekaligus terbesar di Indonesia,” imbuh dia.
Fahmy berpandangan, jika IKN dikembangkan sesuai dengan design awal sebagai pusat pemerintahan, bukan sebagai kawasan industri, maka IKN sebagai Smart City dan Green City akan dapat diwujudkan. Sebaliknya, jika design bergeser selain pusat pemerintahan, melainkan juga sebagai kawasan industri dengan mengundang banyak investor asing, maka konsep Smart City dan Green City mustahil diwujudkan.
Discussion about this post