Mengonsumsi roti berjamur dapat menimbulkan berbagai dampak kesehatan, seperti gangguan saluran cerna, seperti mual, muntah, nyeri perut, atau diare. Untuk beberapa individu yang sensitif, jamur bisa memicu reaksi alergi. Bahkan jika makanan yang terkontaminasi mengandung mikotoksin dalam jumlah tertentu, dalam jangka panjang dapat berdampak lebih serius, misalnya gangguan hati atau efek toksik lainnya.
“Pada anak-anak yang sistem imunnya masih berkembang, risiko efek kesehatan bisa lebih besar dibandingkan orang dewasa,” ucap dia.
Roti berjamur tidak selalu telah melewati masa kedaluwarsa. Bisa saja roti belum melewati tanggal kedaluwarsa sudah berjamur karena perlakuan penyimpanan yang tidak baik, seperti di tempat yang terlalu lembap atau suhu terlalu hangat.
Sebab jamur dapat tumbuh lebih cepat dalam kondisi tersebut. Terlepas dari tanggal kedaluwarsa, sebaiknya roti yang sudah berjamur tidak dikonsumsi.
Ada beberapa ciri fisik yang menandakan roti tidak layak dikonsumsi. Antara lain muncul bintik atau bercak jamur, biasanya berwarna hijau, hitam, putih, atau kebiruan. Roti berbau apek atau asam yang tidak biasa, tekstur menjadi lembab berlebihan atau berlendir, dan ada perubahan warna pada permukaan roti.
Baca juga: Demi Hutan Adat, Masyarakat Adat Malind Gugat Izin Pembangunan Jalan 135 Kilometer
“Jika salah satu tanda tersebut muncul, sebaiknya roti tidak dikonsumsi,” pesan dia.
Agar kasus roti berjamur tidak terulang kembali, ia berharap kepada pihak terkait melakukan pengawasan kualitas pangan secara lebih ketat mulai dari produksi hingga distribusi. Melakukan kontrol masa simpan dan tanggal produksi pada setiap produk yang didistribusikan dan melakukan penyimpanan yang sesuai, misalnya pada suhu yang tepat dan lingkungan yang tidak lembap.
Tidak ketinggalan melakukan sistem pemeriksaan sebelum distribusi ke sekolah, sehingga makanan yang tidak layak bisa terdeteksi lebih awal.
“Jika perlu dilakukan pelatihan terkait keamanan pangan bagi pihak yang terlibat dalam penyediaan makanan sekolah. Saya kira dengan sistem pengawasan yang baik, risiko kontaminasi pangan seperti ini sebenarnya dapat diminimalkan,” imbuh dia. [WLC02]
Sumber: UGM






Discussion about this post