Selain untuk meningkatkan produksi kilang, RDMP perlu dilakukan untuk meningkatkan flesibilitas kilang agar dapat memproses bukan hanya crude yang mahal. Melainkan juga dapat memproses crude-crude lain yang kadar sulfurnya tinggi dengan source lebih banyak di dunia.
Nicke menginformasikan, RDMP Kilang Balongan dan upgrading fleksibilty Kilang Cilacap sudah rampung dilakukan. Berikutnya adalah memproses dua kilang tersebut dengan crude yang sulfur kontennya tinggi dan lebih murah harganya.
Nicke memaparkan, kilang tersebut lebih fleksibel dalam memproses, juga menghasilkan produk-produk dengan nilai tambah yang tinggi. Sebelumnya memproduksi premium lebih banyak, kini memproduksi Pertamax (RON 92) lebih banyak.
Baca Juga: Pelarangan Ekspor Batu Bara Bukan Solusi, Harus Percepat Transisi Energi Terbarukan
“Volumenya sama, tapi beda dong harganya. Yang dihasilan kan RON yang beda. Dari aspek lingkungan juga lebih bersih,” tutur Nicke.
Kilang Balongan ditargetkan mampu meningkatkan kapasitas dari 125.000 bph menjadi 150.000 bph. Sebetulnya mulai Mei 2022, produksi BBM jenis Pertamax meningkat 25.000 bph atau 9.125.000 barel tambahan per tahun.
“Dengan selesainya Kilang Balongan, kami berhasil menurunkan impor BBM sebesar 9.125.000 barel per tahun,” imbuh Nicke yang mengklaimnya sebagai kontribusi Pertamina dalam perbaikan defisit neraca perdagangan Indonesia. [WLC02]
Sumber: esdm.go.id
Discussion about this post