“Masalah sampah ini menjadi berlarut-larut, ya karena perilaku masyarakat yang belum mau berubah,” tegas dia.
Ia menambahkan penerapan teknologi pengolahan sampah sering terhambat karena tidak didukung rekayasa sosial memadai. Tanpa perubahan perilaku dan sistem pengelolaan yang tepat, teknologi yang tersedia sulit memberikan dampak nyata.
Baca juga: TPA Bantargebang Longsor Lagi, Pemerintah Harus Reformasi Tata Kelola Sampah
Hal ini menjelaskan mengapa berbagai teknologi pengolahan sampah belum sepenuhnya berhasil diterapkan di banyak daerah. Integrasi antara teknologi dan rekayasa sosial menjadi kunci keberhasilan pengelolaan sampah.
Wiratni menekankan dalam konteks pencegahan bencana serupa di masa depan, perguruan tinggi memiliki peran penting sebagai ruang uji coba berbagai inovasi. Kampus dapat menjadi laboratorium hidup yang mengintegrasikan pengembangan teknologi dengan pendekatan sosial.
Hasil pengujian tersebut kemudian dapat menjadi dasar rekomendasi kebijakan bagi pemerintah. Pendekatan tersebut ia yakini memungkinkan solusi yang dihasilkan lebih kontekstual dan mudah diterapkan. Contohnya, UGM mengembangkan model pengelolaan sampah berbasis komunitas di Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT).
Berlokasi di Berbah, Sleman, PIAT mengolah sekitar 8 hingga 10 ton sampah yang berasal dari kampus dan kawasan pemukiman sekitarnya. Sistem yang dibangun di fasilitas tersebut memadukan pengolahan sampah dengan pendekatan sosial untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat.
Menurut Wiratni, pendekatan skala mikro seperti ini dapat mengurangi ketergantungan pada landfill besar.
Baca juga: Kemarau Panjang, Pendampingan Penyuluh Pertanian untuk Mitigasi Risiko
“Di PIAT kami membangun ekosistem pengolahan sampah yang terintegrasi dengan berbagai pemanfaatan produk hasil olahan,” kata dia.
Sebagai bagian pengembangan sistem tersebut, UGM membangun ekosistem pengelolaan sampah yang terintegrasi di lingkungan kampus. Teknologi timbangan berbasis Internet of Things digunakan untuk memantau timbulan sampah sekaligus memotret perilaku warga kampus dalam menghasilkan sampah.
Produk hasil pengolahan seperti kompos, maggot, dan material bangunan kemudian dihubungkan dengan berbagai inovasi lain di lingkungan kampus sehingga memiliki nilai guna. Pendekatan ini menjadi wahana pembelajaran bagi masyarakat dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.
“Secara keseluruhan yang dibangun UGM bukan sekadar teknologi pengolahan sampah, tetapi ekosistem ekonomi sirkuler yang menjadi showcase kontribusi seluruh bidang kepakaran di UGM,” imbuh dia. [WLC02]
Sumber: UGM






Discussion about this post