“Pangan biru seperti ikan, rumput laut, dan kerang kaya nutrisi dan mempunyai jejak karbon yang lebih rendah daripada daging merah. Selain itu, pangan biru dapat menopang ekonomi masyarakat pesisir serta perairan darat,” papar Tukul.
500 resep ikan
Sementara Dosen Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM, Atin Prabandari menyorit kerja-kerja perempuan menjadi sebuah aspek yang kerap dilupakan dalam pembahasan mengenai pangan biru. Padahal, kerja-kerja perempuan mempunyai peran besar dalam pengelolaan pangan biru hingga dapat dikonsumsi.
Baca juga: Potensial Jadi Parfum Tropis Premium, Hilirisasi Kemenyan Harus Pertimbangkan Kelestarian Hutan
“Perempuan punya peran mayoritas dalam pangan biru, utamanya dalam pascapanen dan pengelolaannya. Angkanya ini lebih dari 60-70 persen,” ujar Atin.
Menurut dia, terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai peran perempuan. Pertama, bagaimana mengubah pola pikir masyarakat, khususnya dari aspek kultur dan ekonomi, termasuk bagi kalangan perempuan itu sendiri. Kedua, perlu juga mendokumentasikan kerja-kerja perempuan di bidang tersebut sehingga mencapai kesadaran bersama mengenai perempuan dan pangan biru pada masyarakat.
Selaras dalam hal pendokumentasian, Meilati Batubara dari NUSA Indonesian Gastronomy Foundation mengisahkan prosesnya dalam mendokumentasikan menu-menu lokal berbasis pangan biru. Mei dan timnya berhasil mengumpulkan 500 resep di seluruh Indonesia. Jumlahnya yang banyak ini berasal dari warisan moyang bangsa Indonesia yang jamak mengonsumsi hewan laut.
Baca juga: Catatan Walhi, Karhutla Berulang Bukti Negara Melindungi Korporasi Pembakar Hutan
Ia mencontohkan bagaimana ikan poro-poro yang menjadi panganan lokal masyarakat di sekitar Danau Toba. Ada pula nyale atau sejenis cacing laut yang menjadi menjadi panganan lokal khas masyarakat Pulau Lombok. Mei mendukung pendokumentasian dan pencatatan pangan lokal berbasis pangan biru sebagai kekayaan kuliner Nusantara.
Erwin Sabarini selaku perwakilan Climateworks Centre menyampaikan kegiatan ini mengajak masyarakat konsep Blue Food Nexus dengan pengalaman untuk mencicipi hidangan laut dan air tawar secara langsung.
Selain itu, kegiatan ini ditujukan untuk membuka dialog mengenai inovasi pangan biru dan menjadi ruang dialog seputar ketahanan pangan, kesehatan, laut, dan kebijakan iklim.
“Pangan biru itu bukan hanya mengenai bukan sekadar menu laut, tetapi juga wujud nyata aksi iklim yang berkeadilan,“ kata Erwin. [WLC02]
Sumber: UGM, IPB University







Discussion about this post