Sabtu, 28 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Ada Alih Fungsi Tak Terkendali di Kawasan Hutan Hulu DAS Jabodetabek

Kawasan hutan yang seharusnya menjadi daerah resapan justru berubah fungsi menjadi pemukiman dan bangunan komersial, sehingga meningkatkan risiko banjir dan longsor.

Kamis, 20 Maret 2025
A A
Pihak Kemenhut menyampaikan analisa terkait banjir Jabodetabek 2025, 20 Maret 2025. Foto PPID Kemenhut.

Pihak Kemenhut menyampaikan analisa terkait banjir Jabodetabek 2025, 20 Maret 2025. Foto PPID Kemenhut.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Bencana banjir yang melanda berbagai wilayah, khususnya di Jabodetabek beberapa waktu lalu menjadi pengingat betapa penting menjaga keseimbangan ekosistem lingkungan, terutama di kawasan-kawasan hutan pada hulu Daerah Aliran Sungai (DAS). Keseimbangan eskosistem di tapak ini berperan penting dalam mengendalikan aliran air.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum (Gakkum) Kehutanan Kementerian Kehutanan, Januanto menjelaskan secara analitik ada temuan alih fungsi lahan tak terkendali di kawasan hutan di hulu DAS Ciliwung, DAS Kali Bekasi, DAS Cisadane, dan lain-lain. Kondisi itu turut memicu kekritisan kawasan dalam fungsinya untuk pengendalian tata air.

“Kawasan hutan yang seharusnya menjadi daerah resapan justru berubah fungsi menjadi pemukiman dan bangunan komersial, sehingga meningkatkan risiko banjir dan longsor,” terang dia saat media briefing di Kantor Kementerian Kehutanan di Jakarta, Kamis, 20 Maret 2025.

Dirjen Pengendalian DAS dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) Dyah Murtiningsih menambahkan, berdasarkan kajian memang penyebab banjir adalah alih fungsi lahan yang harusnya kawasan lindung, khususnya di Areal Penggunaan Lain (APL), yang kemudian menjadi kawasan yang terbangun. Akibatnya, lokasi tersebut yang seharusnya berfungsi sebagai resapan menjadi kedap air, sehingga terjadi limpasan air.

“Selain itu, terdapat alur sungai yang menyempit. Kami menemukan ada alur sungai yang harusnya 11 meter, menyempit menjadi 3 meter di DAS Ciliwung. Di atasnya sudah banyak pemukiman. Ini juga menyebabkan air melimpah,” terang dia.

Kondisi seperti itu terjadi juga di kawasan DAS Kali Bekasi, dimana kondisi sebagian besar pemukiman ditambah dengan kondisi sedimen sungai yang sangat banyak. Hal tersebut menyebabkan kapasitas tampung sungai menjadi berkurang sehingga airnya melimpah.

Penyebab banjir lainnya adalah fungsi drainase dan resapan air sangat minim. Hal-hal tersebut yang menjadi penyebab banjir di 4 DAS yaitu DAS Ciliwung, DAS Cisadane, DAS Kali Bekasi, dan DAS Angke Pesanggrahan.

Penertiban kawasan hutan

Langkah konkret yang dilakukan, pihaknya bekerja sama dengan Kementerian ATR/BPN untuk melakukan penertiban kawasan hutan dalam penyelamatan DAS. Sasaran kegiatan diarahkan di wilayah hulu DAS Ciliwung, DAS Kali Bekasi, dan lainnya.

Giat operasi dilakukan pada 9-11 Maret 2025 di seputaran wilayah Kabupaten Bogor, meliputi Kecamatan Cisarua, kawasan Sentul dan Jonggol. Kemudian giat operasi dilanjutkan pada 17-19 Maret 2025 di sepanjang DAS Cisadane.

Dari hasil giat operasi penertiban tersebut, selanjutnya dilakukan pendalaman-pendalaman terkait banyak bangunan yang berdiri tanpa perizinan di bidang kehutanan. Baik yang masuk di dalam kawasan hutan produksi, kawasan hutan lindung, dan konservasi.

“Kami telah memasang papan pengawasan di 50 titik. Juga meminta keterangan dari para pemilik bangunan maupun pemilik atau pelaku usaha yang diduga melanggar aturan,” terang Januanto.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: alih fungsi lahanbanjir JabodetabekKementerian KehutananRehabilitasi Hutan dan Lahan

Editor

Next Post
Rapat Koordinasi Pembentukan Satgas Pembangunan Giant Sea Wall di Jakarta, Rabu, 19 Maret 2025. Foto Dok. Kementerian PU.

Pembangunan Tanggul Laut Raksasa Pantai Utara Tahap B Dilanjutkan

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media