Waspada Sesar Baru
Peristiwa gempa Cianjur menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat yang hidup di kawasan patahan. Analisis mengenai gempa dipicu pergerakan sesar baru menandakan, bahwa tak menutup kemungkinan ada banyak sesar baru yang belum teridentifikasi dan dapat memicu gempa cukup serius.
“Kejadian satu daerah (Cianjur) yang selama ini tidak disinggung ada patahan ternyata menghasilkan gempa bumi cukup besar. Mudah-mudahan ini menjadi pelajaran,” tutur Ismawan.
Baca Juga: Korban Gempa Cianjur 62 Orang Meninggal Dunia
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada mengenai bahaya gempa tektonik. Edukasi dan sosialisasi mengenai kawasan sesar perlu diperkuat di masyarakat, terutama bagi masyarakat yang benar-benar tinggal di jalur patahan. Hal ini mendorong masyarakat makin sadar akan potensi sesar tersebut.
“Meskipun di daerah kita disebutkan jauh dari patahan, kita tidak tahu ternyata ada beberapa retakan yang mungkin kita belum tahu,” kata Ismawan.
Apabila ditinjau dari kekuatannya, Irwan menilai, gempa yang terjadi pukul 13.21 WIB itu bukan tergolong gempa besar. Namun jumlah korban jiwa meninggal mencapai 268 jiwa per 22 November 2022 dan dimungkinkan akan bertambah. Kerusakan infrastruktur pun masif. Sebab hiposentrumnya tergolong dangkal, terdapat lapisan yang cukup halus, dan bangunan di atasnya tidak tahan gempa.
Baca Juga: Sumber Gempa Cianjur, Data Terkini 46 Orang Tewas dan 700 Orang Terluka
Pemetaan Sesar
Sementara Kepala Pusat Studi Bencana (PSBA) UGM, Dr. Muhammad Anggri Setiawan menjelaskan, upaya mitigasi bencana atau alat deteksi gempa yang dilakukan pemerintah dan peneliti selama ini, salah satunya yang paling intens adalah terhadap potensi gempa di Sesar Lembang dan Sesar Sumatra.
“Bisa dilakukan dengan menghitung seberapa cepat pergerakan bidang patahan atau sesar dengan acuan bahwa gempa merupakan siklus. Jika pernah terjadi saat ini, pasti pernah terjadi di masa lalu dan akan terjadi di masa depan,” papar Anggri.
Langkah awal yg perlu dilakukan adalah melakukan pemetaan guna mengidentifikasi secara spasial dimana saja keberadaan sesar pada suatu daerah. Kemudian tiap-tiap sesar perlu diestimasi rata-rata kecepatan pergerakannya.
Baca Juga: Cuaca Gala Dinner KTT G20 Bersahabat, Begini Cara Kerja Tim Penghalau Hujan
“Dengan data ini, kita bisa tahu mana sesar yang masih aktif dan tidak serta mana yang paling berpotensi untuk gempa di masa depan,” tegas Anggri.
Metode ini, menurutnya tidak sepenuhnya akurat karena memang aktivitas alam sangat dinamis. Namun dengan tersedianya data dasar dapat dijadikan acuan terbaik untuk skenario mitigasi di masa depan.
Hendra menjelaskan, sebagaimana umumnya morfologi wilayah pusat gempa bumi di darat, wilayah Cianjur yang mengalami gempa juga berupa dataran hingga dataran bergelombang, perbukitan bergelombang hingga terjal yang terletak di bagian tenggara Gunung Gede. Wilayah tersebut tersusun dari endapan kuarter berupa batuan rombakan gunung api muda (breksi gunung api, lava, tuff) dan aluvial sungai.
Baca Juga: Dampak Gempa Cianjur Korban Meninggal Dunia 5 Orang
“Sebagian batuan rombakan gunung api muda tersebut telah mengalami pelapukan. Umumnya, endapan kuarter bersifat lunak, lepas, belum kompak (unconsolidated) dan memperkuat efek guncangan, sehingga rawan gempa bumi,” jelas Hendra.
Selain itu, pada morfologi perbukitan bergelombang hingga terjal yang tersusun batuan yang telah mengalami pelapukan, berpotensi terjadi gerakan tanah yang dapat dipicu guncangan gempa bumi kuat dan curah hujan tinggi.
Golden Time
Lantaran wilayah Cianjur tergolong rawan gempa bumi, Hendra juga meminta peningkatan upaya mitigasi melalui mitigasi struktural dan non struktural. Kejadian gempa bumi ini berpotensi mengakibatkan bahaya sesar permukaan dan bahaya ikutan (collateral hazard) berupa retakan tanah, penurunan tanah, gerakan tanah, dan likuefaksi.
Baca Juga: Gempa Cianjur Mag5,6 Berpusat di Darat Bersifat Merusak
Irwan pun mengungkapkan, pergerakan Sesar Cimandiri yang menyebabkan gempa bukanlah yang pertama. Pernah pula terjadi gempa berkekuatan serupa pada 1970-an.
Ia menggarisbawahi ada pembelajaran yang bisa dipetik dari bencana gempa tersebut. Pertama, perlu pemahaman pemerintah, bahwa daerah tersebut memiliki potensi gempa. Pemahaman tersebut untuk menyiapkan penataan ruang dan kaidah pembangunan yang harus disesuaikan dengan struktur geologi serta jaraknya dari sumber gempa di tiap daerah.
Kedua, masyarakat juga harus melek literasi dan pengetahuan, bahwa mereka tinggal di daerah yang rawan gempa sehingga mitigasi dapat dilakukan.
Baca Juga: Gempa di Pantai Selatan Kupang Mag5,5 Timbulkan Kerusakan
Ketiga, terdapat waktu emas (golden time) untuk evakuasi yang hanya berkisar rata-rata 30 menit setelah gempa bumi. Upaya yang dapat dilakukan setelah bencana terjadi adalah memberikan respons yang terbaik.
“Kita harus belajar dari Jepang dalam memanfaatkan golden time ini,” kata Irwan.
Upaya yang dilakukan adalah menyiapkan rumah sakit darurat, pengungsian sementara, air dan sanitasi yang baik. Sebab, apabila hanya berfokus pada yang terluka dan mengesampingkan hal-hal vital yang harus dipersiapkan, orang yang selamat pun dapat menjadi korban selanjutnya.
“Harapannya, tidak ada lagi korban jiwa. Semua pihak dapat sama-sama belajar untuk mengantisipasi hal serupa kemudian hari,” kata Dosen Teknik Geodesi dan Geomatika ITB itu. [WLC02]
Sumber: Unpad, Kementerian ESDM, UGM, ITB
Discussion about this post