Dia menjelaskan, iklim urban didefinisikan sebagai keadaan iklim yang sangat berbeda dengan wilayah rural sekitarnya yang disebabkan iklim karakteristiknya berbeda antara kota dengan rural. Iklim urban disebabkan adanya perkembangan perkotaan.
Baca Juga: Aktivitas 7 Gunung Api Meningkat, Badan Geologi Pastikan Tak Saling Berhubungan
Salah satu pemicu karakteristiknya adalah urbanisasi, perubahan lanskap, serta penggunaan semua properti di dalam perkotaan seperti energi, tata kelola air, dan tata kelola lahan.
Kenaikan Suhu Seiring Kepadatan Hunian
Siswanto menerangkan, berdasarkan hasil pencitraan satelit Landsat untuk Jakarta pada 1972, kawasan terbangun di Jakarta masih terbatas, vegetasi lebih dominan.
Demikian juga pada 1982, vegetasi masih terlihat dominan hijau. Suhu belum banyak berubah dengan rata-rata 28 derajat Celsius, meskipun suhu maksimumnya bertambah rata-ratanya dari 31,7 derajat celsius menjadi 32,2 derajat Celsius. Auhu minimumnya tidak terlalu jauh perubahannya, yaitu dari 24,3 derajat Celsius menjadi 24,7 derajat Celcius.
Baca Juga: Delapan Alasan Walhi Menolak Konsesi Tambang untuk Ormas Keagamaan
Lima belas tahun kemudian, pada 1997, terlihat warna merah atau kawasan hunian sangat ekspansif. Diikuti perubahan suhu udara dari rata-rata menjadi 28,4 derajat Celsius naik sekitar 0,4 derajat Celsius. Suhu maksimum yang tidak banyak perubahan dan suhu minimum malam hari 25 derajat Celsius.
Pada 2005, perkembangan kawasan hunian Jakarta semakin ekspansif hingga 2014. Terlihat kawasan hunian semakin padat di mana-mana hingga keluar batas Jakarta.
“Perubahan lingkungan kompatibel dengan perubahan iklim atau perubahan suhu, dalam hal ini yang terjadi di Jakarta,” kata Siswanto.
Baca Juga: Komisi IV DPR Soroti Bencana Akibat Pertambangan, Pemerintah Gas Pol
Ia memberikan gambaran pemahaman tentang lingkungan perkotaan. Lingkungan ini banyak didominasi oleh bangunan baik perumahan maupun komersial dengan kepadatan tinggi, permukaan yang beraspal, dan faktor lainnya yang menciptakan lanskap unik tersendiri.
Ia merinci Jakarta dari waktu ke waktu terus berubah. Di kisaran 1675-1725 terlihat pemukiman Jakarta belum padat serta masih nampak gunung-gunung.
Setelah VOC masuk sekitar tahun 1755-1785, Jakarta mulai berkembang, gunung-gunung sudah mulai tidak kentara. Tahun 2018, gunung-gunung atau perbukitan yang tadinya terlihat itu sudah menghilang.
Baca Juga: Jatam Desak Ormas Keagamaan Tolak Obral Konsesi Tambang dari Pemerintah
“Kami akan terus mengalami perubahan itu. Yang pasti perubahan lanskap dan lingkungan akan menghasilkan konsekuensi, salah satunya konsekuensi terhadap iklim,” tegas Siswanto.
Mengacu Laporan IPCC 2013 (AR5), aktivitas manusia sangat mungkin menjadi penyebab meningkatnya setengah rata-rata suhu permukaan global yang telah diamati dari 1951 hingga 2010.
Peningkatan ini memberi dampak langsung terhadap pemanasan global. Ada peningkatan kapasitas atmosfer menahan air sekitar tujuh persen per satu derajat Celsius dari tiap pemanasan yang menyebabkan peningkatan kandungan uap air di atmosfer.
Baca Juga: Drone Wingtra Gen-2 Memetakan Daerah Rawan Banjir Lahar Hujan Gunung Ibu
“Ini mempengaruhi siklus hidrologi, khususnya karakteristik curah hujan, mulai dari jumlah, frekuensi, intensitas, durasi, jenis dan kejadian ekstrem,” urai dia.
Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Albertus Sulaiman menambahkan, perubahan tersebut memerlukan penanganan serius terutama para peneliti yang mumpuni dalam sains iklim dan atmosfer.
“Masalah di dunia kita sekarang ini terkait dengan Sustainable Development Goals (SDGs), utamanya tentang kehidupan lebih baik dan berkelanjutan. Sains atau ilmu berperan untuk menyelesaikan masalah, terutama terkait dengan iklim urban perkotaan,” imbuh dia. [WLC02]
Discussion about this post