Jumat, 13 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Anggota DPR Kritik Pernyataan Pejabat Publik Soal Banjir Sumatra Minim Empati

Rabu, 3 Desember 2025
A A
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto (tengah) saat menyampaikan perkembangan bencana Sumatra di Tapanuli Utara, 29 November 2025. Foto BNPB.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto (tengah) saat menyampaikan perkembangan bencana Sumatra di Tapanuli Utara, 29 November 2025. Foto BNPB.

Share on FacebookShare on Twitter

Ia menyoroti siklon Senyar yang memicu hujan ekstrem di Aceh dan Sumatera Utara karena bergerak tidak stabil dan terperangkap lama di Selat Malaka. Pergerakan yang lambat menyebabkan awan hujan terus terbentuk dan turun selama 2-3 hari di lokasi yang sama. Suhu permukaan laut yang hangat turut memperkuat konsentrasi awan hujan.

Baca juga: Jatam Tegaskan Longsor dan Banjir Bandang di Sumatra Akibat Ledakan Izin Ekstraktif

“Karena dia berputar terlalu lama, curah hujan ekstrem bertahan hingga tiga hari,” terang Faisal.

Untuk periode Desember hingga Februari ke depan, BMKG memprediksi potensi pembentukan bibit siklon tropis akan meningkat di perairan selatan Indonesia. Wilayah rawan termasuk Bengkulu, Sumatera bagian selatan, selatan Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, serta Papua bagian tengah dan selatan. Daerah berpenduduk padat diminta lebih waspada bila siklon berkembang dengan intensitas lebih kuat.

“Ini adalah daerah-daerah yang rawan terbentuknya bibit siklon yang bisa berkembang menjadi siklon tropis,” ungkap dia.

Faisal meminta masyarakat memperkuat langkah mitigasi untuk menghadapi potensi cuaca ekstrem dalam beberapa bulan ke depan. Pemantauan rutin terhadap peringatan dini menjadi kunci untuk mengurangi dampak bencana. Pemerintah daerah juga diharapkan memastikan infrastruktur dasar seperti drainase, jalur evakuasi, dan fasilitas publik dalam kondisi siap.

“Kewaspadaan perlu ditingkatkan karena puncak musim hujan berada di Januari dan Februari,” ucap dia.

Baca juga: Alasan Status Bencana Nasional, Pengerahan Sumber Daya Negara Percepat Pemulihan

BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) saat ini juga menjalankan operasi modifikasi cuaca di sejumlah wilayah terdampak untuk mendukung evakuasi dan distribusi bantuan. Upaya ini dilakukan untuk mengalihkan atau menyebarkan awan hujan agar tidak memperparah kondisi di area bencana.

Program serupa diterapkan di kawasan lain seperti Gunung Semeru dan Danau Toba yang menghadapi risiko lanjutan akibat perubahan cuaca.

“Intinya agar proses penyelamatan dan distribusi bantuan tidak terganggu kondisi cuaca,” imbuh dia.

Sementara Kepala BNPP/Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengklaim pengerahan kekuatan untuk operasi SAR di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat merupakan yang terbesar sepanjang 2024–2025. Lebih dari 6.000 personel dikerahkan sejak bencana hidrometeorologi melanda kawasan tersebut pada 25 November 2025. Kapasitas ini menunjukkan upaya maksimal untuk mempercepat pencarian dan penyelamatan di titik-titik terdampak.

Peralatan SAR yang digunakan mencakup helikopter, drone thermal, kapal laut, perahu karet, truk, dan berbagai kendaraan taktis yang dikirim dari sejumlah kantor SAR di Sumatera dan Jakarta. Basarnas menyatakan kekuatan ini masih dapat ditambah seiring kebutuhan di lapangan, termasuk dukungan kapal dan helikopter tambahan untuk menjangkau wilayah yang masih terisolasi. Penguatan ini diharapkan dapat mempercepat evakuasi dan membuka akses ke daerah yang sulit dijangkau.

Baca juga: Bencana Hidrometeorologi di Pulau Sumatra Menewaskan 174 Warga

Isu lingkungan penting masuk dalam pilkada

Sementara Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo menyoroti lemahnya kinerja kementerian dan lembaga yang memiliki otoritas di sektor kehutanan. Menurut dia, bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi setiap tahun, bahkan setiap saat, menunjukkan upaya pencegahan yang dilakukan masih belum efektif.

Firman juga menyoroti kerusakan hutan yang semakin tidak terkendali, meskipun laporan menunjukkan bahwa deforestasi telah menurun.

“Penebangan liar dan pembalakan hutan masih terus terjadi, dan bahwa negara perlu hadir untuk menyelamatkan hutan dari tangan-tangan kotor,” kata Firman dalam rilis tertanggal 1 Desember 2025.

Politisi Fraksi Partai Golkar ini menuturkan, negara perlu meningkatkan pengawasan dan penegakan hukum terhadap penebangan liar dan pembalakan hutan. Selain itu, negara perlu mengembangkan ekonomi berbasis hutan yang berkelanjutan, sehingga masyarakat dapat memperoleh manfaat dari hutan tanpa harus merusaknya.

“Dengan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan dan lingkungan hidup,” ujar legislator Dapil Jateng III ini.

Baca juga: Mimpi Kawasan Konservasi Jadi Rumah Aman Bagi Gajah Sumatra 

Ia berharap, Presiden Prabowo Subianto tegas dan konsisten dalam memberantas penebangan liar dan pembalakan hutan, demi kelangsungan hidup generasi sekarang dan yang akan datang. Sebab hal tersebut diamanatkan dalam UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.

“Harapannya, hutan dapat diselamatkan dan kelestarian lingkungan hidup dapat terjaga,” tegas Anggota Badan Legislasi DPR ini.

Menurut Pengamat Politik Ujang Komarudin, bencana berulang muncul karena minimnya perhatian kepala daerah terhadap kelestarian alam. Ia menilai penting memasukkan isu lingkungan dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada).

“Pemimpin daerah harus punya visi lingkungan agar siklus bencana tidak terulang,” kata dia.

Ujang juga meminta penegakan hukum yang tegas terhadap perusakan lingkungan.

“Instrumen hukum harus dijalankan. Siapa pun yang merusak lingkungan harus ditindak,” ujar dia. [WLC02]

Sumber: DPR, UGM

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Anggota DPR RIBencana SumatraBMKGIsu lingkunganMinim EmpatiPejabat Publik

Editor

Next Post
Kayu-kayu yang berserak usai banjir bandang di Sumatra Utara. Foto tangkapan layar kompas.com/youtube.

Berulang Kali Tapanuli Selatan Dihantam Banjir Bandang Gelondongan Kayu dari Hulu

Discussion about this post

TERKINI

  • KLH/BPLH meninjau proses pencarian korban longsoran sampah di TPA Bantar Gebang, Bekasi, 8 maret 2026. Foto KLH/BPLH.TPST Bantargebang Longsor Lagi, Alarm Keras Pengelolaan Sampah Open Dumping
    In Bencana
    Senin, 9 Maret 2026
  • Ilustrasi sakit campak. Foto Kemenkes.Vaksinasi Penting karena Campak Cepat Menular dan Ada Risiko Jangka Panjang
    In Rehat
    Senin, 9 Maret 2026
  • Titik transfer batu bara melalui ship to ship di Kalimantan Timur. Foto Walhi Kaltim.Peninjauan Kembali RTRW Kalimantan Timur Harus Berpihak pada Nelayan dan Lingkungan
    In Lingkungan
    Minggu, 8 Maret 2026
  • Ilustrasi roti berjamur. Foto jackmac34/pixabay.com.Temuan Roti MBG Berjamur, Pakar Ingatkan Sebaiknya Tak Dikonsumsi
    In Rehat
    Minggu, 8 Maret 2026
  • Presiden RI Prabwo Subianto dan Presiden AS Donald Trumph. Foto White House/Setpres.Walhi: Perjanjian Dagang Resiprokal Indonesia-AS Melanggengkan Krisis Iklim
    In News
    Sabtu, 7 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media