Senin, 28 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Atasi Banjir Bandang dengan Memperbanyak Ruang Terbuka Hijau di Perkotaan

Berkurangnya hutan yang berubah menjadi area terbangun membuat air hujan lebih banyak menjadi aliran permukaan daripada masuk ke dalam tanah.

Rabu, 17 September 2025
A A
Banjir bandang Sembahe, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Foto tangkap layar visual BNPB.

Banjir bandang Sembahe, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Foto tangkap layar visual BNPB.

Share on FacebookShare on Twitter

BMKG memprediksi musim hujan akan datang lebih awal dibanding kondisi normal. Bahkan sebagian wilayah Indonesia mulai memasuki musim hujan sejak Agustus dan akan meluas pada September–November. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan angin kencang.

Baca juga: Pabrik PMT Disegel karena Ekspor Udang Beku Terkontaminasi Cesium, Ini Kata Pakar

Menanggapi prediksi BMKG tersebut, Pakar Hidrologi dan Pengelolaan DAS Fakultas Kehutanan UGM, Hatma Suryatmojo menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah daerah menghadapi perubahan pola musim.

Ia menekankan perlunya mitigasi struktural maupun non-struktural. Infrastruktur pengendali banjir seperti kolam retensi, normalisasi sungai, serta perbaikan drainase kota harus dipercepat.

“Di daerah rawan longsor, pembangunan terasering dan penahan tanah perlu dilakukan. Selain itu, solusi berbasis alam seperti reboisasi hulu DAS dinilai penting untuk jangka panjang,” ujar Hatma, Selasa, 16 September 2025.

Baca juga: Belajar Konsisten Menjaga Hutan dari Masyarakat Adat

Mayong, demikian ia akrab disapa, menuturkan datangnya musim hujan lebih awal ini, tidak lepas dari  adanya El Niño–Southern Oscillation (ENSO) dalam kondisi netral pada bulan Agustus lalu, tetapi Indian Ocean Dipole (IOD) tercatat negatif, sehingga Samudra Hindia menyuplai uap air ekstra ke wilayah Indonesia bagian barat.

Ditambah suhu muka laut lebih hangat sekitar 0,42°C di atas rata-rata, memicu pembentukan awan hujan lebih intens.

Disamping itu, perubahan iklim global juga berperan memperkuat intensitas hujan dan membuat pola musim semakin sulit diprediksi. Data menunjukkan 294 zona musim atau sekitar 42% wilayah Indonesia mengalami awal musim hujan yang maju dari normalnya.

Baca juga: Tumpukan Sampah dan Krisis Tutupan Hutan Perparah Banjir di Bali

Menurut dia, tantangan terbesar dari musim hujan yang lebih awal adalah meningkatnya risiko banjir bandang dan tanah longsor. Hal itu dipicu dampak deforestasi dan degradasi lahan di banyak DAS membuat banjir dan longsor lebih parah.

“Secara alami, hutan dan vegetasi menyerap air hujan dan mengurangi erosi, namun jika tutupan hutan berkurang, air hujan langsung terbuang sebagai aliran permukaan,” jelas dia.

Di sisi lain, ia juga menyoroti pentingnya riset, teknologi, dan kolaborasi lintas sektor. Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) oleh BMKG untuk meningkatkan akurasi prakiraan musim hujan hingga level kabupaten dinilai sebagai langkah positif. Peta kerentanan berbasis GIS juga dapat membantu pemda dalam mengenali titik kritis bencana.

Baca juga: Musim Penghujan 2025-2026 Datang Lebih Cepat

“Dengan kolaborasi yang kuat dan kesadaran masyarakat yang tinggi, diharapkan dampak bencana hidrometeorologi dapat diminimalkan,” tutur dia.

Ia juga berharap agar pemerintah menjadikan adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana sebagai arus utama pembangunan. Penguatan regulasi lingkungan, tata ruang yang ketat, serta investasi pada infrastruktur hijau perlu diprioritaskan.

Sebab kesiapsiagaan nasional tak akan berhasil tanpa kesadaran publik yang tinggi. Masyarakat perlu memahami bahwa pola iklim kini berbeda dibanding dulu, sehingga kesiapan mental dan sikap adaptif sangat penting. Edukasi perubahan iklim harus digencarkan, mulai dari sekolah hingga kelompok tani, agar publik mengerti langkah apa yang harus diambil ketika tanda-tanda cuaca ekstrem muncul. [WLC02]

Sumber: UGM

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Banjir BandangBencana HidrometeorologiBMKGruang terbuka hijau

Editor

Next Post
Aksi Draw the Line di Pantai Parangtritis, Bantul, DIY, 13 September 2025. Foto Hooma Creative/350.org

Seruan Aksi Iklim di 35 Kota di Indonesia dan 97 Negara Jelang KTT Iklim Brasil

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media