Keenam, gunakan alat berisolasi seperti kayu saat memberikan pertolongan. Ketujuh, lakukan pengecekan instalasi oleh teknisi bersertifikat sebelum menyalakan listrik kembali.
Baca juga: Tahun 2026, Tetaplah Bodoh
Di tengah meningkatnya risiko korsleting listrik saat musim hujan maupun di kawasan permukiman padat, kewaspadaan terhadap instalasi listrik menjadi semakin penting. Kebakaran akibat korsleting tidak pernah terjadi dalam sekejap, tetapi kerap bermula dari detail kecil yang luput dari perhatian.
Di sinilah literasi ketenagalistrikan berperan: semakin baik memahami cara kerja dan potensi gangguannya, semakin kecil peluang masalah kecil berkembang menjadi bencana.
“Rumah yang aman tidak hanya dibangun dari dinding dan atap, tetapi juga dari pengetahuan serta kehati-hatian yang diterapkan setiap hari,” imbuh dia.
Pertolongan pertama menghirup karbon monoksida
Peristiwa kebakaran di Rumah Toko (Ruko) Terra Drone di Kemayoran, Jakarta Pusat pada 9 Desember 2025 menewaskan 22 orang. Kebakaran yang terjadi di gedung perusahaan teknologi drone tersebut terjadi saat jam istirahat siang.
Baca juga: Kegempaan Meningkat, Gunung Bur Ni Telong di Aceh Berstatus Siaga
Kebakaran juga terjadi di kompleks apartemen Wang Fuk Court Hongkong pada 27 November 2025 yang menelan 159 orang tewas dan 79 terluka. Termasuk 9 warga negara Indonesia tewas. Baik korban tewas dalam peristiwa di Terra Drone maupun Wang Fuk Court Hongkong, pihak berwenang menyebut penyebab utama adalah menghirup karbon monoksida (CO).
Dokter spesialis paru di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta sekaligus dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Ika Trisnawati menjelaskan karbon monoksida memang beracun, sehingga sangat berbahaya apabila terhirup. Sebab senyawa karbon monoksida ini dapat mengganggu sel-sel hingga kerusakan pada organ.
Terlebih kasus kebakaran terjadi di tempat tertutup sehingga risikonya lebih besar. Sebab gas akan tetap berada dalam satu tempat dan tidak berdilusi.
“Gas cuma berputar-putar di situ saja sehingga yang terhirup konsentrasinya lebih besar ketimbang dengan yang di udara terbuka,” kata Ika, Senin, 29 Desembr 2025.
Baca juga: Libur Nataru di Yogyakarta, Potensi Hujan Lebat, Kemacetan dan Dampak Sosial Warga Lokal
Dalam peristiwa kebakaran, ketika korban masih tersadar, hal yang bisa dilakukan adalah dipindahkan ke ruang terbuka yang udaranya bersih. Apabila korban sudah tidak tersadar tetapi masih memiliki denyut jantung, lakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP), yaitu memompa jantung dan memberikan oksigenasi dengan napas buatan untuk memberikan oksigen sebanyak mungkin.
“Semakin cepat ditolong akan lebih baik. Semakin lambat, semakin sudah tidak bisa. Jadi, sudah terjadi kerusakan organ terutama otak,” papar dia.
Berkaca dari kasus kebakaran yang ada, tak menutup kemungkinan sebagian orang belum terbiasa untuk mempunyai detektor karbon monoksida yang penting untuk mendeteksi kebocoran, gas, hasil pembakaran, dan lain-lain. Perlu diperhatikan juga, rumah seharusnya selalu mempunyai ventilasi, memeriksa alat-alat yang menggunakan gas hingga sistem instalasi listrik. Apalagi sistem instalasi listrik itu yang paling sering menyebabkan kebakaran.
Kalau terjadi kebakaran, segera evakuasi. Kalau bisa cari kain untuk menutup hidung dan mulut. Lebih baik dibasahkan, itu lumayan untuk menyaring karbon monoksida walaupun tidak 100 persen. Kalau tidak ada, tutup dengan tangan. [WLC02]







Discussion about this post