Selasa, 24 Februari 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Bahaya Korsleting, Pemicu Utama Kebakaran Rumah dan Karbon Monoksida

Banyak instalasi listrik tersembunyi di balik dinding atau plafon sehingga gangguan seperti rembesan air atau gigitan hewan tidak mudah terdeteksi.

Sabtu, 3 Januari 2026
A A
Ilustrasi gas karbon monoksida akibat kebakaran gedung. Foto Jenniferbeebeart/pixabay.com.

Ilustrasi gas karbon monoksida akibat kebakaran gedung. Foto Jenniferbeebeart/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Keenam, gunakan alat berisolasi seperti kayu saat memberikan pertolongan. Ketujuh, lakukan pengecekan instalasi oleh teknisi bersertifikat sebelum menyalakan listrik kembali.

Baca juga: Tahun 2026, Tetaplah Bodoh

Di tengah meningkatnya risiko korsleting listrik saat musim hujan maupun di kawasan permukiman padat, kewaspadaan terhadap instalasi listrik menjadi semakin penting. Kebakaran akibat korsleting tidak pernah terjadi dalam sekejap, tetapi kerap bermula dari detail kecil yang luput dari perhatian.

Di sinilah literasi ketenagalistrikan berperan: semakin baik memahami cara kerja dan potensi gangguannya, semakin kecil peluang masalah kecil berkembang menjadi bencana.

“Rumah yang aman tidak hanya dibangun dari dinding dan atap, tetapi juga dari pengetahuan serta kehati-hatian yang diterapkan setiap hari,” imbuh dia.

Pertolongan pertama menghirup karbon monoksida

Peristiwa kebakaran di Rumah Toko (Ruko) Terra Drone di Kemayoran, Jakarta Pusat pada 9 Desember 2025 menewaskan 22 orang. Kebakaran yang terjadi di gedung perusahaan teknologi drone tersebut terjadi saat jam istirahat siang.

Baca juga: Kegempaan Meningkat, Gunung Bur Ni Telong di Aceh Berstatus Siaga

Kebakaran juga terjadi di kompleks apartemen Wang Fuk Court Hongkong pada 27 November 2025 yang menelan 159 orang tewas dan 79 terluka. Termasuk 9 warga negara Indonesia tewas. Baik korban tewas dalam peristiwa di Terra Drone maupun Wang Fuk Court Hongkong, pihak berwenang menyebut penyebab utama adalah menghirup karbon monoksida (CO).

Dokter spesialis paru di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta sekaligus dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Ika Trisnawati menjelaskan karbon monoksida memang beracun, sehingga sangat berbahaya apabila terhirup. Sebab senyawa karbon monoksida ini dapat mengganggu sel-sel hingga kerusakan pada organ.

Terlebih kasus kebakaran terjadi di tempat tertutup sehingga risikonya lebih besar. Sebab gas akan tetap berada dalam satu tempat dan tidak berdilusi.

“Gas cuma berputar-putar di situ saja sehingga yang terhirup konsentrasinya lebih besar ketimbang dengan yang di udara terbuka,” kata Ika, Senin, 29 Desembr 2025.

Baca juga: Libur Nataru di Yogyakarta, Potensi Hujan Lebat, Kemacetan dan Dampak Sosial Warga Lokal

Dalam peristiwa kebakaran, ketika korban masih tersadar, hal yang bisa dilakukan adalah dipindahkan ke ruang terbuka yang udaranya bersih. Apabila korban sudah tidak tersadar tetapi masih memiliki denyut jantung, lakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP), yaitu memompa jantung dan memberikan oksigenasi dengan napas buatan untuk memberikan oksigen sebanyak mungkin.

“Semakin cepat ditolong akan lebih baik. Semakin lambat, semakin sudah tidak bisa. Jadi, sudah terjadi kerusakan organ terutama otak,” papar dia.

Berkaca dari kasus kebakaran yang ada, tak menutup kemungkinan sebagian orang belum terbiasa untuk mempunyai detektor karbon monoksida yang penting untuk mendeteksi kebocoran, gas, hasil pembakaran, dan lain-lain. Perlu diperhatikan juga, rumah seharusnya selalu mempunyai ventilasi, memeriksa alat-alat yang menggunakan gas hingga sistem instalasi listrik. Apalagi sistem instalasi listrik itu yang paling sering menyebabkan kebakaran.

Kalau terjadi kebakaran, segera evakuasi. Kalau bisa cari kain untuk menutup hidung dan mulut. Lebih baik dibasahkan, itu lumayan untuk menyaring karbon monoksida walaupun tidak 100 persen. Kalau tidak ada, tutup dengan tangan. [WLC02]

Sumber: ITB, UGM

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: FK-KMK UGMKarbon MonoksidaKorsleting ListrikSekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB

Editor

Next Post
Ilustrasi buah dan kulit manggis. Foto pixabay.com.

Kulit Manggis Mengandung Antioksidan Alami dan Antidiabetes

Discussion about this post

TERKINI

  • Pencemaran di sungai-sungai di Jabodetabek. Foto Dok. Walhi.Pencemaran Sungai-sungai di Jabodetabek Berulang Setiap Tahun
    In Lingkungan
    Selasa, 17 Februari 2026
  • Padang lamun. Foto ugm.ac.id.Ada 16.312 Data Keanekaragaman Hayati Kurun 2020-2024 di Indonesia
    In Rehat
    Selasa, 17 Februari 2026
  • Air melimpas ke jalan raya Purwodadi-Semarang, akibat tanggul tidak mampu menampung debit air di Dusun Mlati, Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Senin, 16 Februari 2026. Foto BPBD Kabupaten Grobogan.Banjir Rendam 34 Desa di Grobogan, Beberapa Tanggul Jebol
    In Bencana
    Senin, 16 Februari 2026
  • Peneliti BRIN melakukan penelitian di Sungai Cisadane. Foto Dok. BRIN.Sungai Cisadane Tercemar Pestisida, Peneliti BRIN Bagikan Strategi Mitigasi Darurat
    In Lingkungan
    Senin, 16 Februari 2026
  • Citra satelit terkait potensi monsun Asia yang menguat. Foto Dok. BMKG.Monsun Asia Menguat, Waspada Potensi Hujan Lebat di Aceh hingga Papua
    In News
    Minggu, 15 Februari 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media