Rabu, 18 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Begini Mekanisme Aliran Lumpur Saat Longsor Bandung Barat

Ada indikasi longsoran di hulu salah satu sungai pada sistem lereng selatan Gunung Burangrang yang menutup alur sungai tersebut dan membentuk sumbatan atau bendungan alam (landslide dam).

Jumat, 30 Januari 2026
A A
Ilustrasi mekanisme terbentuknya bencana longsoran di wilayah Kabupaten Bandung Barat. Ilustrasi Imam Achmad Sadisun/ITB.

Ilustrasi mekanisme terbentuknya bencana longsoran di wilayah Kabupaten Bandung Barat. Ilustrasi Imam Achmad Sadisun/ITB.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Peristiwa longsor di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada Sabtu, 24 Januari 2026 dini hari lalu tidak dapat hanya dipahami dampak alih fungsi lahan. Pakar Geologi Longsoran Institut Teknologi Bandung (ITB), Imam Achmad Sadisun menilai kejadian tersebut merupakan hasil dari interaksi faktor alamiah yang kompleks dengan berbagai faktor manusia, sehingga menghasilkan mekanisme aliran lumpur (mudflow) yang dipicu kejadian longsoran di bagian hulu sistem alirannya.

Wilayah Bandung Barat termasuk dalam lingkungan geologi yang berada pada produk-produk vulkanik tua, yang secara alamiah memiliki lapisan pelapukan yang relatif tebal. Batas antara tanah hasil pelapukan dan batuan dasar yang relatif lebih kedap air, kerap menjadi bidang gelincirnya. Kondisi ini semakin diperlemah hujan dalam durasi panjang yang menyebabkan air meresap dan mengisi pori-pori tanah hingga jenuh.

“Ketika pori-pori tanah sudah jenuh air, kekuatan geser material pembentuk lereng akan menurun drastis. Pada kondisi inilah, lereng sering tidak lagi mampu menahan beratnya sendiri,” papar Imam.

Pemicu longsor tidak hanya ditentukan durasi hujan, melainkan juga intensitasnya. Dalam Ilmu Bumi dikenal hubungan antara durasi dan intensitas hujan. Hujan dengan intensitas sedang, tetapi berlangsung lama dapat sama berbahayanya dengan hujan sangat lebat dalam durasi singkat.

Baca juga: Petani Korban Penembakan di Pino Raya Dikriminalisasi

Ada material kiriman dari hulu

Salah satu temuan penting dalam kejadian ini adalah ada indikasi longsoran di hulu salah satu sungai pada sistem lereng selatan Gunung Burangrang yang menutup alur sungai tersebut dan membentuk sumbatan atau bendungan alam (landslide dam). Akibat tertutupnya alur sungai, aliran air tertahan sementara dan membentuk genangan di bagian hulu, bersamaan dengan akumulasi sedimen berupa lumpur, pasir, hingga bongkah batu.

Ketika bendungan alam ini tidak lagi mampu menahan tekanan air dalam volume tertentu, bendungan jebol dan memicu aliran lumpur (mudflow) ke arah hilir mengikuti jalur sungai yang ada. Aliran ini bukan sekadar air, melainkan aliran lumpur yang kerap mengandung bongkah-bongkah batu dan ranting-ranting kayu yang bergerak cepat dan memiliki dampak kerusakan lebih dahsyat.

“Rumah-rumah warga sebenarnya tidak longsor pada lereng-lereng tempat mereka berdiri, tetapi terdampak material longsoran yang dikirim dari hulu melalui alur sungai,” ujar dia.

Umumnya, karakter aliran semacam ini memiliki daya rusak jauh lebih tinggi dibandingkan aliran air biasa karena muatan sedimen sangat besar. Fenomena ini lebih tepat dikategorikan aliran lumpur (mudflow) atau bisa menjadi aliran debris (debris flow).

Baca juga: Longsor Bandung Barat, KLH Sebut Ada Kerapuhan pada Struktur Tutupan Lahan

Hal ini pula yang dapat menjelaskan mengapa terdapat kerusakan yang parah sepanjang jalur alirannya atau yang berada di kawasan bantaran sungai yang ada. Meskipun wilayah tersebut tidak berada langsung di zona sumber longsoran.

Imam juga mengingatkan ada potensi bahaya susulan, mengingat masih ditemukan indikasi sumbatan-sumbatan di bagian hulu sungai. Jika hujan kembali terjadi dengan intensitas tinggi, maka akumulasi air di balik sumbatan-sumbatan tersebut berpotensi kembali jebol dan kembali memicu aliran lumpur yang membahayakan wilayah hilir.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Aliran LumpurImam Achmad SadisunLongsor Bandung BaratPakar Geologi Longsoran ITBPotensi Bahaya Susulan

Editor

Next Post
Jalur aliran lumpur (mudflow) yang melintas Kampung Pasir Kuning hingga Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Foto Tim PPMB dan DPMK ITB

Longsor Bandung Barat Dipicu Interaksi Faktor Alam dengan Aktivitas Manusia

Discussion about this post

TERKINI

  • KLH/BPLH meninjau proses pencarian korban longsoran sampah di TPA Bantar Gebang, Bekasi, 8 maret 2026. Foto KLH/BPLH.TPST Bantargebang Longsor Lagi, Alarm Keras Pengelolaan Sampah Open Dumping
    In Bencana
    Senin, 9 Maret 2026
  • Ilustrasi sakit campak. Foto Kemenkes.Vaksinasi Penting karena Campak Cepat Menular dan Ada Risiko Jangka Panjang
    In Rehat
    Senin, 9 Maret 2026
  • Titik transfer batu bara melalui ship to ship di Kalimantan Timur. Foto Walhi Kaltim.Peninjauan Kembali RTRW Kalimantan Timur Harus Berpihak pada Nelayan dan Lingkungan
    In Lingkungan
    Minggu, 8 Maret 2026
  • Ilustrasi roti berjamur. Foto jackmac34/pixabay.com.Temuan Roti MBG Berjamur, Pakar Ingatkan Sebaiknya Tak Dikonsumsi
    In Rehat
    Minggu, 8 Maret 2026
  • Presiden RI Prabwo Subianto dan Presiden AS Donald Trumph. Foto White House/Setpres.Walhi: Perjanjian Dagang Resiprokal Indonesia-AS Melanggengkan Krisis Iklim
    In News
    Sabtu, 7 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media