Kamis, 18 Juni 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Begini Mekanisme Aliran Lumpur Saat Longsor Bandung Barat

Ada indikasi longsoran di hulu salah satu sungai pada sistem lereng selatan Gunung Burangrang yang menutup alur sungai tersebut dan membentuk sumbatan atau bendungan alam (landslide dam).

Jumat, 30 Januari 2026
A A
Ilustrasi mekanisme terbentuknya bencana longsoran di wilayah Kabupaten Bandung Barat. Ilustrasi Imam Achmad Sadisun/ITB.

Ilustrasi mekanisme terbentuknya bencana longsoran di wilayah Kabupaten Bandung Barat. Ilustrasi Imam Achmad Sadisun/ITB.

Share on FacebookShare on Twitter

Mitigasi berbasis ilmu pengetahuan

Meskipun sebagian besar area terdampak berada pada zona kerentanan longsoran yang relatif rendah hingga menengah secara regional, Imam menekankan area-area tersebut, terutama lokasi permukiman, berada di sempadan sungai yang berisiko tinggi terlanda aliran lumpur. Bahkan aliran debris dari hulu.

“Bahaya tidak selalu berasal dari lereng tempat rumah tersebut berada, tetapi bisa datang dari sistem aliran yang terhubung langsung dengan lereng terjal di bagian hulunya,” jelas dia.

Baca juga: Gayatri Marliyani, Kemungkinan Aktivitas Sesar Opak Akibat Tekanan dari Gempa Pacitan

Ia juga menyoroti pentingnya vegetasi dalam menjaga stabilitas lereng. Selain berfungsi secara mekanik melalui perakaran yang meningkatkan kohesivitas tanah, vegetasi juga berperan secara hidrologis dengan memperlambat kejenuhan tanah oleh air hujan.

Mitigasi dalam menghadapi bahaya aliran lumpur maupun aliran debris dapat dilakukan melalui tiga pendekatan utama. Pertama, upaya stabilisasi lereng di bagian hulu, khususnya di lereng-lereng yang berpotensi longsor sebagai sumber material, bahkan dapat menutup alur-alur sungai.

Kedua, pemantauan jalur aliran (flow track) menggunakan teknologi seperti geofon, sensor getaran, dan kamera pemantau untuk mendeteksi pergerakan material sejak dini. Ketiga, perlindungan di bagian jalur aliran hingga hilir melalui pembangunan struktur penghalang aliran lumpur/debris (debris flow barrier), tanggul pengelak (deflection wall), pagar pemecah aliran (debris fence) atau cekungan penampung aliran (debris flow catch basin).

“Yang paling merusak itu bukan airnya, tetapi material sedimen yang terbawa aliran. Jadi sistem mitigasi perlu difokuskan pada pengendalian sedimennya,” jelas dia.

Baca juga: BMKG Bantah Operasi Modifikasi Cuaca Jadi Pemicu Ketidakstabilan Cuaca

Sebagai langkah mitigasi non-struktural, Imam menekankan pentingnya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap tanda-tanda alam. Salah satu indikator yang kerap diabaikan adalah menyusut atau hilangnya aliran air sungai secara tiba-tiba saat hujan masih berlangsung. Itu dapat menandakan ada sumbatan atau pembendungan di bagian hulu.

“Jika sungai yang biasanya mengalir tiba-tiba surut saat hujan lebat, masyarakat harus waspada dan segera menjauh dari alur sungai,” kata dia.

Melalui kejadian ini, Imam berharap pemahaman masyarakat terhadap bahaya longsoran tidak lagi terbatas pada peristiwa runtuhnya suatu lereng. Melainkan juga mencakup risiko aliran bermuatan sedimen hingga aliran lumpur atau debris dari hulu yang dapat terjadi tanpa tanda visual yang jelas di area permukiman. [WLC02]

Sumber: ITB

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Aliran LumpurImam Achmad SadisunLongsor Bandung BaratPakar Geologi Longsoran ITBPotensi Bahaya Susulan

Editor

Next Post
Jalur aliran lumpur (mudflow) yang melintas Kampung Pasir Kuning hingga Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Foto Tim PPMB dan DPMK ITB

Longsor Bandung Barat Dipicu Interaksi Faktor Alam dengan Aktivitas Manusia

Discussion about this post

TERKINI

  • Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Meutia Samira Ismet. Foto itk.ipb.ac.id.Meutia Ismet: Tambang Nikel Teluk Buli Ancam Ekosistem Laut hingga Kesehatan
    In Sosok
    Sabtu, 13 Juni 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Baleg DPR Janjikan RUU Masyarakat Adat Selesai 2026, Apa Saja akan Diatur?
    In Rehat
    Sabtu, 13 Juni 2026
  • Sidang gugatan intervensi Walhi atas kasus gugatan KLH melawan PT TPL di PN Medan, 10 Juni 2026. Foto Dok. Walhi.Gugatan Intervensi Walhi, PT TPL Harus Pulihkan 29.939 Ha Kawasan Terdampak Senilai Rp2,6 Triliun
    In News
    Jumat, 12 Juni 2026
  • Dosen Geologi Fakultas Teknik UGM, Gayatri Indah Marliyani. Foto Kagama.coGayatri Marliyani: Gempa Bumi di Laut Mindanao Umum Terjadi
    In Sosok
    Jumat, 12 Juni 2026
  • Ilustrasi kemarau panjang. Foto Adege/Pixabay.com.BMKG Prediksi El Nino 2026 Bertahan hingga Awal 2027
    In News
    Kamis, 11 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media