Keragaman varietas padi yang dipelihara masyarakat juga menjadi bagian penting dari sistem tersebut. Setiap keluarga atau bilik dapat menanam berbagai jenis padi lokal dalam satu musim, baik padi biasa maupun padi pulut, dengan karakteristik yang berbeda sesuai kondisi lahan.
Berdasarkan dokumentasi Hardiyanti (2025), dari sekitar 30 bilik yang disurvei, terdapat 237 jenis padi lokal yang ditemukan di Rumah Panjang Sungai Utik.
Keragaman tersebut sekaligus menjadi salah satu strategi masyarakat dalam menghadapi ketidakpastian lingkungan. Setiap jenis padi memiliki karakteristik yang berbeda sehingga penanaman berbagai jenis dapat mengurangi risiko apabila salah satu varietas tidak tumbuh optimal.
Kegiatan berladang setiap tahun juga berperan dalam mempertahankan keragaman genetik padi yang dimiliki masyarakat. Benih yang digunakan perlu terus ditanam dan diperbarui agar tetap dapat dipertahankan.
Dengan demikian, ladang tidak hanya menyediakan pangan bagi keluarga, tetapi juga menjadi ruang untuk mempertahankan pengetahuan lokal dan sumber daya genetik tanaman pangan.
Membentuk mosaik lanskap
Karena setiap keluarga memiliki lahan dan menentukan sendiri lokasi yang akan ditanami, lahan aktif di Sungai Utik tidak terkonsentrasi dalam satu kawasan yang luas. Dari waktu ke waktu, terbentuk mosaik lanskap yang terdiri atas ladang aktif, lahan bera dalam berbagai tahap suksesi, serta kawasan hutan yang lebih tua.
Menurut Endah, kondisi tersebut penting untuk memahami hubungan antara praktik manusia dan dinamika ekosistem. Ketika melihat sebuah ladang masyarakat Iban, yang terlihat sebenarnya merupakan satu bagian dari sistem sosial-ekologis yang berlangsung dalam rentang waktu panjang.
Api mungkin hanya berlangsung selama sekitar dua jam. Namun, sistem yang melatarbelakanginya berlangsung selama bertahun-tahun dan diwariskan lintas generasi. Di dalamnya terdapat pengetahuan tentang padi, benih, tanah, vegetasi, proses suksesi, hingga aturan sosial mengenai pemanfaatan ruang.
Memahami karhutla lebih kontekstual
Endah menekankan pengalaman di Sungai Utik tidak dapat serta-merta digeneralisasi untuk seluruh praktik penggunaan api di Indonesia. Kunjungan lapangan dalam waktu singkat juga tidak cukup untuk menggambarkan seluruh kompleksitas sistem masyarakat setempat.
Namun, pengalaman tersebut memberikan perspektif penting bahwa penggunaan api perlu dipahami berdasarkan konteks ekologis dan sosialnya.
Api yang digunakan dalam sistem perladangan tradisional dengan skala terbatas, teknik pengendalian tertentu, serta berada dalam lanskap yang dikelola secara berbeda tentu memiliki karakteristik yang berbeda dari karhutla yang tidak terkendali.
Dalam upaya memahami dan mencegah karhutla, perhatian tidak hanya perlu diberikan pada keberadaan api. Namun juga pada bagaimana, mengapa, di mana, dan dalam kondisi seperti apa api digunakan.
Pendekatan tersebut dapat membantu melihat persoalan karhutla secara lebih utuh. Sekaligus menghargai pengetahuan masyarakat lokal yang telah berkembang melalui interaksi panjang dengan lingkungannya.
“Di balik api ada padi, benih, pangan, adat, suksesi hutan, dan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi,” ucap Endah.
Pengalaman di Sungai Utik menjadi pengingat bahwa memahami hutan dan api berarti juga memahami manusia yang hidup bersamanya. Pengetahuan lokal tersebut dapat menjadi salah satu sumber pembelajaran untuk melihat hubungan antara manusia, api, lahan, dan ekosistem secara lebih menyeluruh. [WLC02]
Sumber: ITB






Discussion about this post