Ia menambahkan bahwa faktor dinamika atmosfer seperti gelombang ekuator dan fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) turut memengaruhi potensi cuaca ekstrem tersebut. Ia berharap, dengan informasi yang telah disampaikan, Kementerian PU dapat memanfaatkannya untuk mempersiapkan langkah-langkah mitigasi yang efektif.
Baca Juga: Usai Longsor dan Banjir Bandang di Deli Serdang, Tiga Orang dalam Pencarian
“Langkah antisipasi sangat penting untuk memastikan infrastruktur tetap kokoh menghadapi potensi bencana hidrometeorologi,” imbuh dia.
Diana menyatakan akan segera mengambil langkah konkret untuk memastikan kesiapan infrastruktur.
“Kami akan memperkuat tanggul, mengoptimalkan saluran drainase, serta meningkatkan pengawasan di wilayah rawan banjir dan longsor,” kata dia.
Baca Juga: KKP akan Luncurkan Peta Nasional Padang Lamun Akhir 2024
Lewat kerja sama yang erat, risiko bencana diharapkan dapat diminimalkan. Masyarakat pun dapat terlindungi dan pembangunan infrastruktur tetap berkelanjutan di tengah tantangan iklim yang terus berkembang.
Wamen Diana mengatakan untuk bersiap menghadapi arus Nataru 2024-2025 dan puncak musim hujan. Menjelang Nataru, pihaknya harus mengantisipasi bencana hidrometeorologi dan puncak musim hujan terutama di pertengahan Desember hingga awal Januari.
“Teman-teman Bina Marga saya mohon bisa melakukan pengecekan drainase di jalan supaya tidak terjadi penyumbatan yang bisa mengakibatkan banjir melimpah ke jalan. Bina Marga agar bisa menyiapkan aliran air di jalan tol supaya tidak banjir,” kata Diana. [WLC02]
Sumber: BMKG, Kementerian PU
Discussion about this post