Wanaloka.com – Laporan State of the Global Climate 2024 dari World Meteorological Organization (WMO) menunjukkan tahun 2024 merupakan tahun terpanas sepanjang sejarah. Anomali suhu global telah melampaui ambang batas 1,5°C dibandingkan periode praindustri.
Data observasi menunjukkan tren kenaikan suhu yang konsisten, baik secara global maupun regional di Indonesia.
“Kondisi ini berdampak langsung pada peningkatan intensitas dan frekuensi cuaca ekstrem yang memicu bencana hidrometeorologi,” ujar Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Andri Ramdhani dalam diskusi Dialektika Demokrasi bertema “Cuaca Ekstrem, Sinergi dan Kolaborasi Bersama Atasi Bencana” di Ruang Command Center, Gedung Nusantara, Kompleks DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis, 5 Februari 2026.
Sejalan dengan data BMKG dalam kurun waktu 16 tahun terakhir (2010–2025) yang menunjukkan tren peningkatan kejadian banjir dan tanah longsor yang terus meningkat, seiring dengan tren kenaikan suhu dan perubahan iklim. Wilayah dengan tingkat kejadian tertinggi tercatat di Jawa Barat, disusul Jawa Tengah, Jawa Timur, Aceh, serta sejumlah wilayah lain di Sumatra.
Baca juga: Gajah Mati Tanpa Kepala di Riau, Indikasi Kuat Tindak Pidana Perburuan Liar
Rata-rata suhu nasional Indonesia pada 2024 mencapai 27,52°C, tertinggi sejak pencatatan dilakukan. Dampaknya, bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, dan kebakaran hutan kini mendominasi lebih dari 90 persen kejadian bencana nasional.
Selain peningkatan suhu, tren hujan ekstrem juga menunjukkan eskalasi yang signifikan. Curah hujan di atas 150 milimeter per hari kini semakin sering terjadi, bahkan pada beberapa kejadian mencapai 300 hingga 400 milimeter per hari.
“Kondisi ini inline dengan tren perubahan suhu dan perubahan iklim yang terjadi secara global,” jelas dia.
Sistem peringatan dini
Kondisi tersebut menuntut peningkatan kesiapsiagaan dan kewaspadaan, khususnya dalam menerjemahkan informasi dan peringatan dini BMKG ke dalam pemetaan kerentanan wilayah oleh pemerintah daerah. Terlebih, tantangan ke depan tidak hanya berasal dari perubahan iklim global. Melainkan dari perlunya penguatan integrasi strategi mitigasi bencana yang hingga kini dinilai belum sepenuhnya optimal.
Baca juga: Gempa Dangkal Pacitan 6,4 Magnitudo, Daryono: Gempa Jenis Megathrust
Dalam konteks mitigasi, Andri menekankan penting penguatan Sistem Peringatan Dini Multibahaya (Multi-Hazard Early Warning System/MHEWS) yang terintegrasi, sejalan dengan inisiatif global Early Warning for All (EW4All). Sistem ini mencakup empat pilar utama, yakni pengetahuan risiko bencana (disaster risk knowledge), deteksi dan pemantauan (detection, observation, and monitoring), kesiapsiagaan dan respons, serta diseminasi informasi yang efektif kepada masyarakat.






Discussion about this post