Namun manfaat tersebut harus ditimbang dengan risiko kesehatan yang menyertainya. Risiko terbesar berkaitan dengan kesehatan jantung, ginjal, dan saluran cerna. Konsumsi pangan hewani tanpa sayur dan buah cenderung tinggi lemak jenuh dan kolesterol, yang berpotensi meningkatkan kadar kolesterol jahat atau low-density lipoprotein (LDL), terutama pada individu dengan riwayat dislipidemia. Tidak adanya serat juga dapat mengganggu metabolisme lipid.
Di sisi lain, asupan protein yang sangat tinggi dapat meningkatkan beban kerja ginjal, terutama apabila tidak disertai hidrasi yang cukup. Ginjal dipaksa menyaring limbah nitrogen lebih keras, sehingga meningkatkan risiko kerusakan ginjal, hingga gagal ginjal. Apalagi yang sudah memiliki riwayat penyakit ginjal.
Sementara pada saluran cerna, ketiadaan serat dapat menyebabkan konstipasi dan ketidakseimbangan mikrobiota usus. Asupan lemak tinggi juga memicu produksi asam empedu berlebih. Dalam jangka panjang, ini bisa merusak mukosa usus, memicu peradangan kronis, hingga meningkatkan risiko kanker kolorektal. Asam empedu sekunder yang tinggi dapat bertindak sebagai karsinogen bagi sel-sel usus.
Ia juga menyoroti hilangnya produksi asam lemak rantai pendek atau short-chain fatty acids (SCFA) seperti butirat akibat tidak adanya serat nabati. Padahal SCFA memiliki efek protektif terhadap kesehatan usus, sistem imun, dan metabolisme tubuh.
Baca juga: Dampak Cuaca Ekstrem, Suhu, Banjir dan Longsor Meningkat 16 Tahun Terakhir
“Risiko-risiko ini sering kali bersifat silent dan kumulatif,” ia mengingatkan.
Alternatif diet aman
Alternatif diet yang lebih aman, Sri Anna merekomendasikan pola makan yang seimbang dan telah terbukti secara ilmiah. Salah satunya adalah Mediterranean diet yang menyeimbangkan protein hewani dan nabati, tinggi serat, serta lemak tak jenuh. Diet ini terbukti menurunkan risiko penyakit tidak menular.
Pilihan lain adalah diet tinggi protein seimbang dengan porsi protein sekitar 20–25 persen energi, tetap mengandung karbohidrat kompleks dan serat. Diet ini lebih berkelanjutan dibandingkan diet ekstrem rendah karbohidrat.
Ia juga menekankan pentingnya menerapkan pola makan gizi seimbang dengan panduan “Isi Piringku” berbasis pangan lokal. Pola ini mudah diterapkan, sesuai budaya makan Indonesia, dan aman untuk populasi luas. [WLC02]
Sumber: IPB University






Discussion about this post