Sabtu, 26 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Difabel Masih Minim Akses Informasi Mitigasi Bencana

Selasa, 3 Oktober 2023
A A
Para siswa difabel netra di SLB melakukan simulasi bencana gempa. Foto wanaloka.com.

Para siswa difabel netra di SLB melakukan simulasi bencana gempa. Foto wanaloka.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Bencana bisa datang kapan saja, sehingga diperlukan upaya pengembangan sistem mitigasi. Tak heran, mitigasi bencana menjadi bagian dari rencana pembangunan berkelanjutan (Suistanable Development Goals/SDGs). Persoalannya, kelompok rentan seperti masyarakat dengan keterbatasan fisik, intelektual, mental, maupun sensorik belum mendapatkan perhatian khusus terkait mitigasi bencana.

“Konteks mitigasi bencana sudah banyak upaya yang dilakukan. Tapi untuk difabel, saya lihat masih belum dan perlu diupayakan bersama. Kita masih perlu bantuan dan referensi dari negara-negara lain,” kata Sekretaris Dewan Guru Besar UGM, Prof. Baiquni dalam serial diskusi bulanan SDGs yang digelar Fakultas Geografi UGM, bertajuk “Literasi dan Kesiapsiagaan Bencana bagi Difabel” pada 29 September 2023.

Sementara, lanjut Baiquni, Yogyakarta memiliki potensi besar karena ada banyak mahasiswa kuliah di sana. Mereka bisa belajar dengan mendampingi kelompok difabel, seperti ikut membina, mengajarkan, dan sosialisasi terkait kebencanaan dengan peta taktual.

Baca Juga: Dadan Kusdiana: Kejar Emisi Nol Bersih Lewat Revisi Kebijakan Energi Nasional

Apalagi Yogyakarta merupakan salah satu daerah dengan potensi bencana cukup tinggi. Beberapa tahun terakhir, bencana seperti gempa, tanah longsor, hingga ancaman tsunami sempat terjadi. Walaupun tidak memakan korban jiwa, tetapi tahapan mitigasi masih memerlukan evaluasi.

Baiquni menambahkan, salah satu upaya yang dapat membantu masyarakat difabel untuk memahami kondisi alam di daerahnya adalah melalui buku panduan. Isinya ada peta taktual, juga arahan-arahan khusus bagi masyarakat difabel.

“Jadi ketika sesuatu terjadi, mereka akan mengerti apa yang harus dilakukan,” imbuh Baiquni.

Secara mendasar, terdapat fase-fase penanggulangan bencana yang harus dilakukan, mulai dari kesiapsiagaan hingga tahap mitigasi. Berbeda dengan sebelumnya, penanganan bencana tidak lagi berfokus pada tahapan tanggap darurat setelah bencana terjadi. Namun jauh sebelum bencana terjadi, fokus penanganan harus diprioritaskan pada tahap preventif.

Baca Juga: NCW: Sebelum Rempang, Xinyi Glass Tak Komitmen Investasi di Gresik dan Babel

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: buku panduankelompok difabelkelompok rentanmitigasi bencanapeta taktualSuistanable Development Goals

Editor

Next Post
Presiden Jokowi pimpin ratas bahas fenomena el nino. Foto Dok. BPMI Setpres.

Tiga Fokus Mitigasi El Nino Hasil Rapat Terbatas Presiden

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media