“Selama ini, lamun menyimpan karbon biru. Sedangkan spesies ini satu-satunya jenis mamalia laut yang benar-benar hanya mengandalkan vegetasi atau seagrass sebagai makanan utama,” ungkap Mira.
Karbon biru merupakan karbon yang tersimpan di ekosistem pesisir dan laut, seperti mangrove, padang lamun, dan rawa pasang surut. Selama ini, kajian tentang karbon biru lebih banyak berfokus pada vegetasi laut.
Baca juga: Prabowo Resmikan 55 Proyek Energi Panas Bumi dan Surya, Klaim Nol Emisi Karbon Tepat Waktu
Dari situ, ia mencermati, apakah spesies ini menghabiskan stok karbon saja atau juga memiliki peran lain dalam siklus karbon biru tersebut. Hasilnya menunjukkan, aktivitas herbivori dugong, termasuk asupan makanan, ekskresi, hingga interaksinya dengan lamun, ternyata juga memberikan kontribusi terhadap siklus karbon di wilayah pesisir.
Penelitian ini mengangkat pendekatan komprehensif untuk memahami bagaimana mamalia laut herbivora tersebut turut memengaruhi dinamika penyimpanan karbon di laut. Temuan awal menunjukkan dugong tidak hanya menjadi indikator kesehatan padang lamun, tetapi juga agen ekologis yang berperan dalam dinamika karbon di laut.
Jejak makan dugong turut memengaruhi laju pertumbuhan lamun dan mempercepat proses siklus biomassa ke dalam sedimen. Ini berpotensi meningkatkan penyimpanan karbon jangka panjang.
Baca juga: Komisi IV DPR Janji Undang Aktivis Lingkungan untuk Bahas UU Baru Kehutanan
“Peran dugong dalam ekosistem laut tidak hanya sebagai pemakan lamun, tapi juga sebagai penggerak proses ekologi yang lebih luas, termasuk dalam mitigasi perubahan iklim,” kata dia.
Penelitian ini menunjukkan bahwa interaksi dugong dengan lamun berpotensi meningkatkan proses dekomposisi dan penyerapan karbon di sedimen yang menjadikannya bagian dari solusi ekosistem terhadap perubahan iklim.
Tak hanya itu, diskusi lanjutan dalam forum juga menyoroti potensi penggunaan DNA lingkungan. Tujuannya untuk mengestimasi populasi dugong serta integrasi studi genetika dalam rencana aksi nasional perlindungan spesies tersebut.
Baca juga: Walhi Riau Ingatkan Penertiban Taman Nasional Tesso Nilo Jangan Represif dan Militeristik
Mira menyimpulkan, rangkaian penelitian ini menunjukkan bahwa dugong bukan hanya bagian dari keanekaragaman hayati laut. Tetapi juga berperan penting dalam stabilitas iklim melalui ekosistem pesisir.
Ia berharap penelitiannya dapat mendukung perumusan kebijakan konservasi berbasis sains. Juga memperkuat integrasi karbon biru dalam agenda mitigasi perubahan iklim nasional. [WLC02]
Discussion about this post