Jumat, 23 Januari 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Perempuan di Garis Depan Krisis Ekologis

Sabtu, 13 Desember 2025
A A
FAMM Indonesia bersama Kaoem Telapak menggelar "FAMM Fest: mempertemukan Suara, Seni, dan Rasa" di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dalam rangka peringatan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 HAKTP) pada 10 Desember 2025.

FAMM Indonesia bersama Kaoem Telapak menggelar "FAMM Fest: mempertemukan Suara, Seni, dan Rasa" di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dalam rangka peringatan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 HAKTP) pada 10 Desember 2025.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Hilirisasi dan proyek strategis nasional (PSN) telah memperburuk ketidakadilan gender, mulai dari hilangnya akses lahan yang memiskinkan perempuan dan memperbesar beban kerja, hingga krisis kesehatan akibat polusi industri yang meningkatkan penyakit pada ibu, bayi, dan anak serta menambah kerja reproduktif perempuan.

Data deforestasi 2024 menunjukkan kerusakan signifikan, dengan catatan deforestasi netto 175,4 ribu hektare dari Kementerian Kehutanan dan 261.575 hektare dari Simontini, Kaoem Telapak mencatat hilangnya sekitar 3 juta hektare hutan akibat ekspansi sawit dalam dua dekade terakhir.

Meski tren 10 tahun menunjukkan penurunan, lonjakan dalam beberapa tahun terakhir menegaskan bahwa proyek-proyek ekstraktif tetap menjadi pendorong utama hilangnya hutan dan meningkatnya kerentanan ekologis.

Perluasan perkebunan sawit, pertambangan nikel untuk industri baterai listrik, proyek food estate raksasa seperti di Merauke seluas 2,29 juta hektare, serta berbagai PSN yang mengabaikan daya dukung ekologis telah menyebabkan kerusakan serius pada tanah, hutan, sungai, dan kehidupan sosial masyarakat.

Baca juga: 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Industri Ekstraktif Merusak Hidup dan Tubuh Perempuan

Masuknya pekerja laki-laki dalam jumlah besar juga memicu risiko sosial seperti kekerasan berbasis gender, pelecehan, pernikahan anak, dan perdagangan manusia, sementara perempuan disabilitas dan ragam gender semakin terpinggirkan karena proses konsultasi publik yang tidak inklusif.

Juru Kampanye Kaoem Telapak, Ziadatunnisa menyebutkan bahwa Kaoem Telapak melakukan riset tentang kebun-kebun sawit di Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Menurut Zia, ekspansi dari industri ekstraktivisme ini memunculkan banyaknya pelanggaran HAM terhadap masyarakat yang terdampak, terutama Masyarakat Adat yang kerap menjadi korban.

“Salah satu poin penting yang kami awasi adalah perizinan, karena seringkali operasi sawit itu berjalan tanpa adanya izin seperti di Riau. Akibat dari rusaknya alam dari ekspansi sawit, berimbas pada perempuan-perempuan adat. Mereka mulai kesulitan melakukan tradisi-tradisi seperti ritual dan upacara adat, sehingga pengetahuan lokal ini terancam hilang. Belum lagi akses sumber daya alam (SDA) yang kian lenyap akibat polusi dari industri sawit atau bahkan SDA tersebut tidak ada lagi,” kata Zia dalam siaran pers Kaoem Telapak, Jumat, 12 Desember 2025.

Di sisi lain, kekerasan berbasis gender terus meningkat. Sinergi data Kementerian PPPA, Komnas Perempuan mencatat 35.533 kasus kekerasan terhadap perempuan pada 2024, meningkat 2,4 persen dari tahun sebelumnya, dan 290 kasus femisida, menunjukkan pola kekerasan ekstrem yang berulang dan semakin brutal. Namun statistik ini belum mencatat kekerasan ekologis yang dialami perempuan akibat perampasan tanah dan kerusakan lingkungan.

Baca juga: Membaca Bencana Ekologis Sumatra

Koordinator Nasional FAMM Indonesia, Ija Syahruni menyebutkan, kekerasan terhadap perempuan tidak berdiri sendiri, ia terhubung dengan arah pembangunan negara yang semakin bergantung pada ekstraktivisme dan industri yang menggerus hutan, menghancurkan ruang hidup, serta memperdalam ketimpangan gender.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: HAKTPHari HAM InternasionalIndustri EkstraktifKaoem TelapakKeadilan GenderKeadilan IklimKrisis Ekologi

Editor

Next Post
Penanganan darurat bencana Sumatra, pengerukan Sungai Aek Doras, Kota Sibolga, Sumatra Utara. Foto BNPB.

Bencana Sumatra, Korban Tewas Mencapai Seribu Lebih

Discussion about this post

TERKINI

  • Advokasi RUU Masyarakat Adat oleh Koalisi Kawal RUU Masyarakat Adat. Foto Istimewa.RUU Masyarakat Adat Tak Kunjung Disahkan, Jutaan Hektar Wilayah Adat Dirampas
    In Lingkungan
    Selasa, 20 Januari 2026
  • Pembersihan fasilitas layanan kesehatan di Aceh pascabencana. Foto Dok. Kementerian PU.Komisi II DPR Minta Rekonstruksi Fasilitas Publik Pascabencana Sumatera Tuntas Dua Tahun
    In News
    Selasa, 20 Januari 2026
  • Bencana ekologis di Sumatra. Foto Walhi.Jalan Menyelamatkan Alam Sumatra Lewat Penegakan Hukum Adil dan Menyeluruh
    In Lingkungan
    Senin, 19 Januari 2026
  • Diskusi “Merawat Karst Gunung Sewu: Konflik Agraria, Air, dan Kuasa” di PSPK UGM, 14 Januari 2026. Foto Pito Agustin/Wanaloka.com.Pembangunan Pariwisata di Gunungkidul Ancam Ruang Hidup Kawasan Karst Gunung Sewu
    In News
    Senin, 19 Januari 2026
  • Ilustrasi gajah tua dengan sepasang gading yang utuh. Foto HFGVDCSS/pixabay.com.Gajah Kenya Mati Tinggalkan Gading Utuh, Bukti Hidup dalam Habitat Aman
    In Lingkungan
    Senin, 19 Januari 2026
wanaloka.com

©2025 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2025 Wanaloka Media