Upaya menemukan kembali tumbuhan gajo ini di TNGL diawali dengan penelusuran jalur ekspedisi tahun 1937 dan 1975 oleh ilmuwan Belanda seperti yang tercantum dalam spesimen herbarium. Kemudian dia menggunakan metode survei populasi gajo yang terfokus berdasarkan Brewer (2013) dengan sedikit modifikasi.
Baca Juga: Warga Sitimulyo Tolak TPSS Srimulyo di Bantul, Khawatir Cemari Sawah dan Lingkungan
“Kami melakukan survei yang difokuskan pada area dengan kemungkinan tinggi ditemukannya spesies target berdasarkan data dari spesimen herbarium, protologue, jejak kolektor, tutupan hutan, informasi warga lokal, pemburu, pendaki dengan intuisi yang akurat, dan tim yang kuat,” papar dia.
Hampir setengah abad belum ditemukan lagi keberadaan spesies ini. Namun Enggal dan tim berhasil menemukan kembali populasi gajo di habitat alaminya di ketinggian tempat 2.500-3.500 mdpl di Gunung Leuser. Sebanyak 34 pohon yang 73,5 persen di antaranya merupakan individu dewasa setinggi 20 m dengan diameter batang 2 meter.
Menurut dia, ekspedisi lanjutan perlu dilakukan untuk mengumpulkan benih, semai, dan spesimen herbarium.
Baca Juga: Sarang dan Anak Elang Brontok Ditemukan di SM Sermo Kulon Progo
“Kami berencana akan melanjutkan ekspedisi untuk pemulihan spesies gajo ini sekitar Agustus 2024, ketika musim berbuah,” kata Enggal.
Kepala Balai Besar TNGL Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Jefry Susyafrianto menjelaskan sejauh ini pihaknya telah menyusun Road Map Penelitian di TNGL Tahun 2021-2030. Ia berharap para periset BRIN dapat memberi dukungan riset konservasi keanekaragaman hayati di TNGL.
“Terutama dalam hal inventarisasi sumber daya alam dan konservasi spesies flora langka dan dilindungi,” harap Jefry. [WLC02]
Sumber: BRIN
Discussion about this post