Kandungan silika dan alumina dalam ampo sebagai adsorben yang memungkinkan padatan ini untuk menyerap dan mengikat zat-zat lainnya. Namun jika dikonsumsi dalam jumlah besar dan frekuensi yang sering memungkinkan potensi timbulnya iritasi pada pencernaan.
Baca juga: Teknologi Zat Antikarat Dikembangkan dari Ubi Ungu hingga Tembakau
“Karena ada gesekan partikel pada benda padat yang tidak larut tersebut pada usus manusia. Terlebih, pada lansia dan orang-orang yang memiliki kondisi rentan,” imbuh dia.
Untuk tetap mempertahankan ampo sebagai warisan budaya tak benda dalam masyarakat, Sri berpesan untuk tetap memperhatikan segi kesehatan dan keamanannya. Ia juga menyarankan untuk memperhatikan siapa, berapa, dan kapan waktu mengonsumsi ampo tersebut.
Mengingat jika dikaitkan dalam budaya, maka ampo itu dihadirkan pada waktu-waktu dan kondisi-kondisi tertentu.
Baca juga: Kematian Banyak Lebah Madu Penanda Ada Pencemaran Lingkungan
“Kondisi ini bisa dikaitkan dengan kondisi tubuh orang yang mengonsumsinya, yang saya maksud apakah ada kondisi sehat atau sakit tertentu,” ujar dia.
Selain itu, faktor usia sangat mempengaruhi karena balita dan manula sangat berisiko.
“Kalau ada kondisi, sedikit saja dalam pencernaannya pasti akan ada respon. Jadi dikonsumsi oleh orang-orang dewasa yang memiliki imun tinggi dan dengan jumlah yang terbatas,” pesan dia. [WLC02]
Sumber: UGM







Discussion about this post