Selasa, 10 Februari 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

I Gede Wenten: Integrasi Teknologi dan Seni akan Menjadi Sesuatu

Teknologi dan seni bukan mustahil berkolaborasi. Baik dari disiplin keilmuan, maupun dari orang-orang yang mumpuni dalam bidang teknologi dan seni. Produk-produk inovasinya sudah digunakan sehari-hari.

Selasa, 2 Agustus 2022
A A
Guru Besar ITB, Prof. I Gede Wenten. Foto itb.ac.id.

Guru Besar ITB, Prof. I Gede Wenten. Foto itb.ac.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Integrasi teknologi dan seni bukan hal muskil. Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi ITB, Prof. I Gede Wenten telah membuktikannya. Sejumlah proyek integrasi seni dan teknologi telah dilakukannya dengan menggandeng seorang perupa yang juga Dosen Seni Rupa ITB, Tisna Sanjaya. Salah satunya proyek filtrasi air sungai yang dinamakan Mata Air Ibu di Imah Budaya Cigondewah.

“Integrasi teknologi dan seni dimulai dari bagaimana alam bisa diubah menjadi lebih seni dan memiliki nilai jual,” kata Wenten yang juga Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Baca Juga: Crab Ball, Teknologi Memanen Kepiting Tanpa Mengganggu Populasi

Ia mencontohkan Proyek IGW Emergency Ultrafilter yang pernah diikutinya hasil kerja sama dengan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB. Proyek itu memanfaatkan alat filtrasi air manual dengan menggunakan pompa tangan yang bisa mengubah air kotor menjadi air yang jernih. Lambat laun, inovasi alat itu berkembang menjadi lebih efisien dan maksimal. Salah satunya ditandai dengan inovasi kesekian dari teknologi tersebut berupa IGW Green Ultrafilter yang meraih medali emas Ganesha Innovation Award. Cara kerja teknologi tersebut cukup sederhana, tetapi berdampak bagi lingkungan. Cukup memasukkan air kotor atau bekas banjir ke dalam alat dan mengubahnya menjadi air yang jernih kembali.

Kemudian soal blue economy atau ocean economy yang mulai dikembangkan saat ini, khususnya pada sektor living marine resource. Penerapannya di Indonesia berupa penggunaan keramba untuk budidaya ikan. Keramba adalah teknologi yang sederhana, tetapi berdampak besar. Menurut Wenten, teknologi itu bisa dikreasikan lebih baik lagi dengan membuat teknologi keramba yang canggih.

Baca Juga: Munif Ghulamahdi: Teknologi Budidaya Jenuh Air Jadi Solusi Kelangkaan Kedelai

Misalnya, bagian atap menggunakan solar panel untuk sumber pembangkit listrik. Kemudian dibuat control room di bagian tengah yang dilengkapi dengan teknologi penjernih air. Teknologi itu dapat menyulap air di sana menjadi air minum. Tak berhenti di situ, inovasi tersebut masih dapat dikembangkan lagi dengan membuat seawater desalination plant sekaligus untuk menghasilkan garam.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: ITBProf I Gede Wentenproyek filtrasi air sungai yang dinamakan Mata Air Ibu di Imah Budaya Cigondewahteknologi dan seni

Editor

Next Post
Dipicu hujan lebat dan jebolnya tanggul sebabkan Desa Anggoro di Kecamatan Abuki, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara dilanda banjir. Foto Dok BNPB

Lima Wilayah Sulawesi Tenggara Status Waspada Dampak Hujan Lebat Esok Hari

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi rumah adat Sumatra Barat. Foto IndrabinYusuf/pixabay.com.Program Gentengisasi, Pakar Ingatkan Rumah Tradisional di Indonesia Tak Seragam 
    In Rehat
    Minggu, 8 Februari 2026
  • Ilustrasi makanan daging. Foto johnstocker/freepik.com.Diet Karnivora Tidak Aman, Ini Risikonya
    In Rehat
    Minggu, 8 Februari 2026
  • Ilustrasi kelelawar di pepohonan. Foto ignartonosbg/pixabay.com.Pakar Ingatkan, Virus Nipah Berpotensi Menular Antarmanusia
    In Rehat
    Sabtu, 7 Februari 2026
  • Bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, 6 Februari 2026. Foto BPBD Tegal.Bencana Tanah Bergerak di Tegal, Dua Ribu Lebih Warga Mengungsi
    In Bencana
    Sabtu, 7 Februari 2026
  • Ilustrasi manusia terdampak cuaca panas ekstrem. Foto Franz26/pixabay.com.Dampak Cuaca Ekstrem, Suhu, Banjir dan Longsor Meningkat 16 Tahun Terakhir
    In News
    Jumat, 6 Februari 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media