Senin, 30 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Indonesia Kaya Sumber Hayati, Tapi Bahan Baku Obat Masih Impor

Upaya menuju ketahanan kesehatan nasional dengan kemandirian obat menjadi tantangan Indonesia. Salah satunya dengan memaksimalkan potensi keanekaragaman hayati.

Rabu, 24 Agustus 2022
A A
Ilustrasi tanaman herbal. Foto sipa/pixabay.com.

Ilustrasi tanaman herbal. Foto sipa/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Baca Juga: Jangan Kebanyakan Pakai Obat Kumur, Ini Alasannya

Pertama, pengembangan bahan baku obat berbasis bioteknologi, herbal terstandar atau fitofarmaka, dan kimiawi.

“Ini jadi prioritas utama,” kata Siswandono.

Kedua, mengembangkan industri farmasi untuk memproduksi bahan baku obat dan eksipien secara mandiri. Terutama yang sangat dibutuhkan masyarakat, seperti parasetamol, asetol, amoksisilin, hingga vaksin.

Ketiga, mendorong industri farmasi untuk mengembangkan bidang riset dan pembangunan untuk memproduksi bahan baku obat dan eksipien secara mandiri.

Keempat, mengembangkan perkebunan tanaman obat untuk suplai bahan baku obat. Kelima, membuat pusat penelitian pengembangan obat terpadu dengan peralatan canggih dan terkini yang dapat diakses dan digunakan seluruh akademisi dan lembaga penelitian di Indonesia.

Baca Juga: Kata Ahli Kesehatan dan Hukum Islam Unair Soal Legalisasi Ganja Medis

Sementara tantangan pengembangan bahan baku obat adalah industri kimia dalam negeri belum mampu menyediakan bahan kimia yang dibutuhkan untuk pembuatan obat. Selain itu, industri bahan baku obat memerlukan investasi besar dengan tingkat kegagalan yang cukup tinggi.

Selain itu, kurang ada sinergi antara akademisi, pengusaha, dan pemerintah.

“Hasil penelitian yang dilakukan seringkali tidak dimanfaatkan secara komersial atau dikembangkan sampai skala industri, karena kurang diminati kalangan bisnis,” ungkap Siswandono. [WLC02]

Sumber: kemkes.go.id, unair.ac.id

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: bahan baku obatbioteknologiindustri farmasikeanekaragaman hayatiKemenkesP4TOPEDpenemuan obat barupengembangan obatUnair

Editor

Next Post
Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof Ronny Rachman Noor. Foto ipb.ac.id.

Ronny Rachman Noor: Flora Fauna Liar di Ambang Kepunahan

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media