Sabtu, 26 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Ronny Rachman Noor: Flora Fauna Liar di Ambang Kepunahan

Eksploitasi tak berkelanjutan oleh manusia mengakibatkan tumbuhan dan hewan di muka bumi lekas punah. Kepunahan ini pun berdampak bagi keberlangsungan hidup manusia.

Kamis, 25 Agustus 2022
A A
Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof Ronny Rachman Noor. Foto ipb.ac.id.

Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof Ronny Rachman Noor. Foto ipb.ac.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Berdasarkan laporan terbaru The Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES), populasi flora (tumbuhan) dan fauna (hewan) secara global sudah mengkhawatirkan akibat aktivitas pertanian. Lantaran demi memenuhi kebutuhan pangan dan kebutuhan lainnya, deforestasi semakin tidak terkendali dan kualitas lingkungan semakin memburuk.

“Dan jika hewan dan tumbuhan yang dibutuhkan manusia sebagian besar punah, akan berdampak langsung pada kehidupan manusia karena mengancam keamanan pangan dunia,” kata Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof Ronny Rachman Noor.

Berdasarkan laporan IPBES saat ini, satu dari lima orang di seluruh dunia masih sangat bergantung pada sekitar 50.000 spesies hewan liar, tumbuhan, dan jamur. Baik untuk makanan, obat-obatan, kosmetik, pariwisata, bahan bakar, pendapatan dan tujuan lainnya.

Baca Juga: Menunggu Perkawinan Rasi-Slamet, IPB Aplikasikan Teknologi Pelestarian Spesies Langka

Belum lagi perburuan liar akibat perdagangan satwa liar yang marak setiap tahun mencapai nilai US$ 23 miliar. Perubahan iklim serta peningkatan permintaan satwa dan tumbuhan liar yang semakin tinggi akan mendorong lebih banyak spesies menuju kepunahan.

“Dampak eksploitasi sumberdaya alam yang tidak berkelanjutan merupakan faktor utama yang mendorong cepatnya laju kepunahan ini,” imbuh Ronny.

Eksploitasi alam secara masif ini mengakibatkan sekitar 35 persen ikan liar ditangkap berlebihan. Sekitar 1.300 jenis hewan dan 10 persen pohon liar juga terancam punah. Para pakar konservasi memperkirakan dalam beberapa puluh tahun mendatang, sekitar satu juta jenis tumbuhan dan hewan dapat saja punah.

Baca Juga: Perayaan Hari Hutan Indonesia 2022 Kampanyekan Hutan Kita Sultan

Upaya untuk memperlambat laju kepunahan adalah menekankan pola penangkapan ikan, perburuan hewan, dan penebangan yang berkelanjutan.

“Sehingga pemanfaatan sumberdaya alam tidak menyebabkan terganggunya keseimbangan alam,” kata Ronny.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: faunafloraflora fauna liarIPB UniversityIPBESkeanekaragaman hayatiketahanan panganProf. Ronny Rachman Noorterancam punah

Editor

Next Post
Jalur sadarehe Gunung Ciremai, Jawa Barat, resmi jadi jalur pendakian kelima yang menyajikan panorama padang savana. Foto ppid.menlhk.go.id.

Jalur Sadarehe Gunung Ciremai Resmi Jadi Jalur Pendakian Kelima, Ini Keindahannya

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media