Sabtu, 28 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Inilah Riset Lintas Ilmu Momen Langka Gerhana Matahari Hibrida 20 April 2023

Momen langka Gerhana Matahari Hibrida menarik perhatian para periset berbagai keilmuan untuk melakukan penelitian. Apa sajakah yang diteliti?

Jumat, 7 April 2023
A A
Ilustrasi gerhana Matahari. Foto Buddy_Nath/pixabay.com.

Ilustrasi gerhana Matahari. Foto Buddy_Nath/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Pada 20 April 2023 nanti akan berlangsung Gerhana Matahari Hibrida. Disebut hibrida karena dalam satu waktu ada daerah yang mengalami fenomena Gerhana Matahari Total dan ada pula yang mengalami Gerhana Matahari Cincin. Perbedaan fenomena tersebut karena kelengkungan Bumi yang dilihat bergantung pada lokasi pengamatan.

“Ini fenomena cukup langka. Jadi momen yang baik untuk dilakukan riset antariksa,” kata Kepala Pusat Riset Antariksa BRIN, Emanuel Sungging dalam Gelar Wicara Gerhana Matahari Hibrida 2023 yang diselenggarakan Planetarium Jakarta di Taman Ismail Marzuki, Kamis, 6 April 2023.

Sebelumnya dalam siaran pers Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada 6 Maret 2023 lalu menjelaskan, Gerhana Matahari Hibrida terjadi ketika Matahari, Bulan, dan Bumi tepat segaris. Akibatnya di suatu tempat tertentu terjadi peristiwa piringan Bulan yang teramati dari Bumi lebih kecil daripada piringan Matahari. Sementara di tempat tertentu lainnya terjadi peristiwa piringan Bulan yang teramati dari Bumi sama dengan piringan Matahari.

Baca Juga: Sampah Meningkat 20 Persen, KLHK Gaungkan Ramadan Minim Sampah

Akibatnya, saat puncak gerhana di suatu tempat tertentu, Matahari akan tampak seperti cincin, yaitu gelap di bagian tengah dan terang di bagian pinggir. Sedangkan di tempat tertentu lainnya, Matahari seakan-akan tertutupi Bulan.

Gerhana Matahari Hibrid terdiri dari dua tipe gerhana, Gerhana Matahari Cincin dan Gerhana Matahari Total. Juga terdapat tiga macam bayangan Bulan yang terbentuk saat gerhana terjadi, yaitu antumbra, penumbra, dan umbra.

Di wilayah yang terlewati antumbra, gerhana yang teramati berupa Gerhana Matahari Cincin. Sementara di wilayah yang terkena penumbra, gerhana yang teramatinya berupa Gerhana Matahari Sebagian. Kemudian di daerah tertentu lainnya yang terlewati umbra, gerhana yang teramati berupa Gerhana Matahari Total.

Baca Juga: Ini Tahapan Konversi Motor BBM ke Listrik Lewat Platform Digital

Gerhana matahari hibrida akan berlangsung selama 3 jam 5 menit mulai dari durasi kontak awal hingga akhir apabila diamati dari Biak dengan durasi fase tertutup total 58 detik. Apabila diamati dari Jakarta, durasi kontak awal hingga akhir adalah 2 jam 37 menit dan persentase tertutupnya matahari hanya sebesar 39 persen.

Riset Lintas Keilmuan
Sungging dan timnya akan melakukan pengamatan di Biak Numfor yang berada tepat di lintasan gerhana matahari. Riset yang dilakukan meliputi riset korona, dampak gerhana pada ionosfer, dan perubahan kecerlangan.

Untuk mengukur korona akan menggunakan indeks flattening Ludendorf agar dapat melihat bentuk dan struktur korona. Nilai indeks yang dihasilkan akan diturunkan untuk mengidentifikasi aktivitas magnetik dan memprediksi siklus matahari. Indeks flattening Ludendorf merupakan parameter kuantitatif untuk menganalisis bentuk dan struktur korona global. Indeks ini juga menjadi salah satu indikator parameter medan magnetik matahari dalam jangka panjang.

Baca Juga: Penebangan Liar Picu Banjir Bandang Sumbawa 12 Rumah Hanyut

Sedangkan riset dampak gerhana ada inonosfer akan dilakukan dengan mengukur dinamika ionosfer. Sebab ionosfer berdampak pada akurasi GPS dan terkait komunikasi, terutama komunikasi maritim yang menggunakan kanal HF (High Frequency).

“Kami akan melihat saat terjadi gerhana (GPS dan komunikasi maritim) ada gangguan atau tidak,” ungkap Sungging.

Terkait kolaborasi riset atas fenomena gerhana tersebut, Pengajar Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB), Premana W. Premadi menyampaikan pihaknya mendapat kesempatan untuk bekerja sama dengan Pusat Hidro-Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal) untuk melakukan pengamatan gerhana matahari dari laut. Upaya ini diharapkan akan membawa data-data baru mengenai pengamatan gerhana matahari dari tengah laut.

Baca Juga: Polusi Udara Penyebab 5 Penyakit Respirasi Berisiko Kematian Tertinggi

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: BMKGBRINGerhana Matahari CincinGerhana Matahari HibridaGerhana Matahari Totalriset antariksa

Editor

Next Post
Gempa dangkal darat guncang Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Foto tangkap layar Google Earth berdasarkan koordinat episentrum gempa BMKG.

Gempa Dangkal Darat Guncang Kota Bukittinggi

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media