Kamis, 2 Juli 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Inilah Riset Lintas Ilmu Momen Langka Gerhana Matahari Hibrida 20 April 2023

Momen langka Gerhana Matahari Hibrida menarik perhatian para periset berbagai keilmuan untuk melakukan penelitian. Apa sajakah yang diteliti?

Jumat, 7 April 2023
A A
Ilustrasi gerhana Matahari. Foto Buddy_Nath/pixabay.com.

Ilustrasi gerhana Matahari. Foto Buddy_Nath/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

“Kami tengah membuat konsep lebih lanjut terkait kolaborasi riset ini,” kata Ketua Panitia Ekspedisi Jala Citra 3 Flores 2023, Kolonel Laut Priyo Dwi Saputro selaku perwakilan dari Pushidrosal.

Timnya tertarik untuk mengamati apakah ada perubahan suara-suara yang dihasilkan biota dan mamalia laut selama terjadi gerhana. Selain itu juga akan melakukan riset tentang bagaimana dampak ionosfer bagi komunikasi HF.

“Apalagi kami di laut cukup bergantung pada frekuensi ini,” ungkap Priyo.

Baca Juga: Gempadewa: Indonesia Tak Butuh Pemimpin yang Terapkan Konsinyasi

Selain itu, riset disiplin ilmu lain juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan momen langka ini. Seperti peneliti dari disiplin ilmu hayati juga dapat ikut melakukan riset terkait ada tidaknya pengaruh proses terjadinya gerhana matahari terhadap perilaku makhluk hidup, baik tumbuhan atau hewan.

Peneliti bidang ilmu sosial juga dapat melakukan penelitian etnoastronomis, terkait bagaimana budaya yang timbul pada masyarakat terkait adanya gerhana matahari hibrida. Momen gerhana tersbut dinilai Sungging membawa kesempatan untuk melakukan kolaborasi lintas disiplin

Pengamatan dengan Filter Khusus
Permana juga mengingatkan dalam proses pengamatan dilarang sekali-kali melihat matahari maupun fenomena gerhana yang menyertainya secara kasat mata.

Baca Juga: Mitigasi Konflik dengan Gajah, dari Konvensional hingga Teknologi

Sebab pengamatan tanpa filter matahari menyebabkan gangguan kesehatan mata secara serius. Bahkan taraf tertentu dapat menyebabkan kebutaan

“Menggunakan peranti optis, seperti binokuler atau teleskop, harus disertai filter khusus matahari (solar filter),” jelas mantan Kepala Observatorium Bosscha ITB tersebut.

Lebih lanjut rilis BMKG menjelaskan, bahwa gerhana matahari adalah peristiwa terhalangnya cahaya matahari oleh bulan sehingga tidak semuanya sampai ke bumi. Peristiwa yang merupakan salah satu akibat dinamisnya pergerakan posisi matahari, bumi, dan bulan ini hanya terjadi saat fase bulan baru dan dapat diprediksi sebelumnya.

Baca Juga: Ini Sumber Gempa Padang Sidempuan Magnitudo 6,4 Dirasakan Cukup Kuat

Sebaliknya, gerhana bulan adalah peristiwa terhalanginya cahaya matahari oleh bumi sehingga tidak semuanya sampai ke bulan. Proses terjadinya selalu pada saat fase purnama.

Sepanjang tahun 2023 diprediksi terjadi empat kali gerhana, meliputi Gerhana Matahari Hibrid pada 20 April 2023, Gerhana Bulan Penumbra pada 5-6 Mei 2023, Gerhana Matahari Cincin pada 14 Oktober 2023, serta Gerhana Bulan Sebagian pada 29 Oktober 2023. Dari empat kali gerhana tersebut hanya Gerhana Matahari Cincin yang tidak dapat diamati dari Indonesia.

Gerhana matahari di Indonesia berlangsung beberapa kali, yaitu gerhana matahari total pada 1983 dan 2016, juga gerhana matahari cincin pada 2019. [WLC02]

Sumber: BRIN, BMKG

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: BMKGBRINGerhana Matahari CincinGerhana Matahari HibridaGerhana Matahari Totalriset antariksa

Editor

Next Post
Gempa dangkal darat guncang Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Foto tangkap layar Google Earth berdasarkan koordinat episentrum gempa BMKG.

Gempa Dangkal Darat Guncang Kota Bukittinggi

Discussion about this post

TERKINI

  • Penggusuran PT BSMJ di wilayah adat Muara Tae, Kabupaten Kutai Barat untuk sawit. Foto Dok. Kaoem Telapak.Kaoem Telapak Desak Ekspansi Sawit di Wilayah Adat Muara Tae Dihentikan
    In News
    Sabtu, 27 Juni 2026
  • Bentang alam Masyarakat Adat Kasepuhan Pasir Eurih di Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Banten. Komunitas ini mempertahankan sistem zonasi tradisional sebagai dasar pengelolaan wilayah adat yang diwariskan. Foto Dok. WGII.Paradoks Penetapan Taman Nasional, Pengetahuan Hidup Masyarakat Adat Terancam Punah
    In Lingkungan
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Laskar Talijiwo dari Pracimantoro, Wonogiri sampaikan penolakan tambang dan pabrik semen kepada Bupati Wonogiri, 25 Juni 2026. Foto Dok. Laskar Talijiwo.Temui Bupati Wonogiri, Laskar Talijiwo Sampaikan Tolak Tambang Gamping dan Pabrik Semen
    In News
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Ilustrasi sampah organik dari sisa buah-buahan. Foto Artis Digital/pixabay.com.Temuan Ombudsman DIY, Aktivitas TPS 3R Sokowaten Tak Berizin dan Sebabkan Pencemaran
    In News
    Senin, 22 Juni 2026
  • Acara ISWBC 2026 bertema Beyond Species: Rethinking Conservation in an Era of Uncertainty, 11 Juni 2026. Foto Leoni/UGM.Pejabat Kehutanan Bicara Peran Masyarakat Adat Menjaga Biodiversitas Saat Krisis Iklim
    In News
    Sabtu, 20 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media