Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

IPCC: Krisis Iklim Memakan Korban Jiwa, Perbankan Harus Hentikan Pendanaan Batu Bara

Penggunaan energi batu bara turut menyumbang krisis iklim di dunia. Persoalannya, perbankan pun turut menyumbang pelanggengan penggunaan batu bara. Bagaimana sikap para ilmuwan dunia?

Rabu, 2 Maret 2022
A A
Ilustrasi konisi bumi akibat penggunaan energi fosil. Foto sumanley/pixabay.com.

Ilustrasi krisis iklim di bumi. Foto sumanley/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Saat ini ada empat bank di Indonesia yang masih mendanai proyek energi kotor batu bara, penyebab krisis iklim. Meliputi tiga bank milik pemerintah dan satu bank swasta terbesar. Menurut Koordinator Perkumpulan Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat (AEER), Pius Ginting, pinjaman bank dalam negeri terhadap industri batubara masih lebih tinggi, yakni sebanyak Rp89 triliun dalam periode 2018 – 2020 dibanding pinjaman untuk energi terbarukan yang hanya sebanyak 21,5 triliun.

“Pinjaman terhadap industri batubara memang harus dihentikan dari sekarang,” tegas Pius.

Baca Juga: 12 Orang Meninggal dan 14 Ribu Warga Mengungsi

Menurut Interim Indonesia Team Leader 350, Firdaus Cahyadi, peran mereka dalam mendanai krisis iklim melalui pendanaan ke energi kotor batu bara sangat mengecewakan. Misalnya, ada bank pemerintah yang beberapa kali mengklaim mendukung upaya pengurangan gas rumah kaca, penyebab krisis iklim. Namun ternyata masih mendanai batu bara.

“Ini sungguh mengecewakan,” tegas Firdaus.

Dalam laporan IPCC yang berkaitan dengan dampak, adaptasi, dan kerentanan ini ditekankan pentingnya peran masyarakat adat dan masyarakat lokal dalam mengatasi krisis iklim karena mereka memiliki pengetahuan tentang dunia, tentang alam.

Baca Juga: Rehabilitasi Mangrove untuk Pengendalian Perubahan Iklim dan Konservasi Penyu

“Penting untuk melibatkan mereka karena mereka yang tahu cara mengatasi krisis iklim,” ujar jurnalis lingkungan senior, Brigitta Isworo Laksmi.

Indonesia yang memiliki banyak masyarakat adat mestinya bisa mengambil langkah strategis dengan melibatkan mereka dalam merencanakan pembangunan untuk ketahanan iklim (climate resilient development). [WLC02]

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: batu baraEmisi gas rumah kacaIPCCKrisis IklimMasyarakat AdatPBBperubahan iklimUNEPWMO

Editor

Next Post
Evakuasi warga terdampak banjir Kota Serang, Provinsi Banten, pada Rabu, 2 Maret 2022. Foto BPBD Kota Serang.

Banjir Kota Serang, BNPB: 3 Orang Meninggal Dunia, 2 Orang Hilang

Discussion about this post

TERKINI

  • KLH/BPLH meninjau proses pencarian korban longsoran sampah di TPA Bantar Gebang, Bekasi, 8 maret 2026. Foto KLH/BPLH.TPST Bantargebang Longsor Lagi, Alarm Keras Pengelolaan Sampah Open Dumping
    In Bencana
    Senin, 9 Maret 2026
  • Ilustrasi sakit campak. Foto Kemenkes.Vaksinasi Penting karena Campak Cepat Menular dan Ada Risiko Jangka Panjang
    In Rehat
    Senin, 9 Maret 2026
  • Titik transfer batu bara melalui ship to ship di Kalimantan Timur. Foto Walhi Kaltim.Peninjauan Kembali RTRW Kalimantan Timur Harus Berpihak pada Nelayan dan Lingkungan
    In Lingkungan
    Minggu, 8 Maret 2026
  • Ilustrasi roti berjamur. Foto jackmac34/pixabay.com.Temuan Roti MBG Berjamur, Pakar Ingatkan Sebaiknya Tak Dikonsumsi
    In Rehat
    Minggu, 8 Maret 2026
  • Presiden RI Prabwo Subianto dan Presiden AS Donald Trumph. Foto White House/Setpres.Walhi: Perjanjian Dagang Resiprokal Indonesia-AS Melanggengkan Krisis Iklim
    In News
    Sabtu, 7 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media