Jumat, 26 Juni 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Belajar dari Kearifan Lokal Kasepuhan Girijaya dan Tahura Atasi Perubahan Iklim

Dengan strategi yang terpadu, hutan tidak hanya berfungsi sebagai kawasan konservasi, tetapi juga sebagai pusat kegiatan ekonomi, ketahanan iklim, dan kesejahteraan masyarakat.

Kamis, 23 Oktober 2025
A A
Ilustrasi kearifan lokal masyarakat adat Kasepuhan Girijaya di Sukabumi, Jawa Barat. Foto Dok. IPB University.

Ilustrasi kearifan lokal masyarakat adat Kasepuhan Girijaya di Sukabumi, Jawa Barat. Foto Dok. IPB University.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Masyarakat adat Kasepuhan Girijaya di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat merupakan komunitas adat di wilayah dataran tinggi yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap sumber daya alam. Kini, mereka mulai terdampak perubahan iklim.

Wilayah tersebut kerap mengalami cuaca ekstrem, mulai dari hujan berintensitas tinggi yang memicu longsor ringan hingga periode kekeringan yang menurunkan debit air.

“Kondisi ini menunjukkan ada kerentanan nyata terhadap perubahan iklim di tingkat tapak. Namun, tradisi dan kearifan lokal yang dijaga menjadi strategi adaptasi dan mitigasi yang efektif,” kata mahasiswa Program Studi Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan Angkatan 2022, Rida Awaliah.

Baca juga: Walhi Tolak Proyek PLTGU Batang, Gunakan Gas Fosil Penyebab Emisi Gas Rumah Kaca

Ia dan timnya tengah melakukan riset melalui Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) berjudul “Mengurai Benang Merah Kearifan Lokal Kasepuhan Girijaya sebagai Kunci Resiliensi Masyarakat Lokal dalam Menghadapi Perubahan Iklim”.

Rida menjelaskan, istilah “benang merah kearifan lokal” merujuk pada nilai inti yang menghubungkan berbagai bentuk kearifan lokal masyarakat, meliputi sejarah, aturan adat, dan praktik ekologi yang selaras dengan lingkungan.

Mengingat Masyarakat Adat Kasepuhan Girijaya mempunyai keunikan yang masih menjaga tradisi turun-temurun di tengah tekanan perubahan iklim. Kearifan lokal tersebut terwujud dalam berbagai tradisi seperti Seren Taun, Rebo Wekasan, Hutan Larangan, dan penentuan tanggal tanam yang memadukan nilai spiritual dan ekologis.

Baca juga: Perdagangan Biawak Diperbolehkan, Tapi Jangan Merusak Ekosistem

“Larangan menebang pohon sembarangan dan menjaga hutan sebagai sumber kehidupan yang sakral merupakan bentuk nyata ketaatan masyarakat terhadap adat. Ini meningkatkan kesadaran ekologis dan memperkuat perilaku adaptif masyarakat terhadap perubahan iklim,” jelas ketua tim riset itu.

Dari hasil analisis awal menggunakan lima dimensi Climate Disaster Resilience Index (CDRI), tim menemukan resiliensi masyarakat Kasepuhan Girijaya tergolong tinggi, terutama dalam aspek sosial, ekonomi, dan kelembagaan. Analisis regresi ordinal logistik juga menunjukkan partisipasi dalam tradisi Rebo Wekasan dan penghormatan terhadap Hutan Larangan berpengaruh signifikan terhadap peningkatan ketangguhan masyarakat.

Rida berharap riset ini dapat dipublikasikan secara luas dan menjadi model adaptasi berbasis budaya lokal.

“Kami ingin hasil penelitian ini dapat diterapkan di daerah lain dan menjadi pijakan bagi kebijakan pengembangan masyarakat berkelanjutan,” imbuh dia.

Baca juga: Satwa Liar Masuk Permukiman, Sinyal Keseimbangan Alam Hutan yang Terganggu

Penelitian ini melibatkan anggota tim Anisa Nabhan Hanip (Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan), Yazmin Maulidya Meiranti (Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat), dan Wahyu Dewi Puspasari (Bisnis). Tim ini dibimbing Dosen Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Eva Rachmawati.

Peran strategis tahura

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Kasepuhan GirijayaKearifan Lokalkonservasi kawasan hutanperubahan iklimTaman Hutan Raya

Editor

Next Post
Dosen Departemen Geografi Lingkungan UGM, Dr. Emilya Nurjani. Foto kagama.co.

Emilya Nurjani, Sampaikanlah Peringatan Dini Cuaca Ekstrem dengan Bahasa Mudah Dipahami

Discussion about this post

TERKINI

  • Laskar Talijiwo dari Pracimantoro, Wonogiri sampaikan penolakan tambang dan pabrik semen kepada Bupati Wonogiri, 25 Juni 2026. Foto Dok. Laskar Talijiwo.Temui Bupati Wonogiri, Laskar Talijiwo Sampaikan Tolak Tambang Gamping dan Pabrik Semen
    In News
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Ilustrasi sampah organik dari sisa buah-buahan. Foto Artis Digital/pixabay.com.Temuan Ombudsman DIY, Aktivitas TPS 3R Sokowaten Tak Berizin dan Sebabkan Pencemaran
    In News
    Senin, 22 Juni 2026
  • Acara ISWBC 2026 bertema Beyond Species: Rethinking Conservation in an Era of Uncertainty, 11 Juni 2026. Foto Leoni/UGM.Pejabat Kehutanan Bicara Peran Masyarakat Adat Menjaga Biodiversitas Saat Krisis Iklim
    In News
    Sabtu, 20 Juni 2026
  • Para pejabat menunjukkan peta calon lokasi bandar antariksa di Distrik Biak Utara yang mengancam wilayah adat Warbon. Foto Istimewa.LBH Papua Nilai Rencana Pembangunan Bandar Antariksa di Wilayah Adat Warbon Cacat Hukum
    In Lingkungan
    Sabtu, 20 Juni 2026
  • Ilustrasi tawon yang berkoloni. Foto jcbeni.Pixabay.com.Tawon yang Berkoloni Mengenali Wajah Manusia yang Mengganggunya
    In IPTEK
    Jumat, 19 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media