Jumat, 29 Agustus 2025
wanaloka.com
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Jatam Tegaskan Proyek Baterai Kendaraan Listrik di Halmahera Bukan Solusi, Tapi Ecocide

Proyek itu hanya dinikmati negara industri maju dan segelintir elit politik-pengusaha nasional, sementara warga Halmahera dibiarkan menderita, lingkungan rusak, dan krisis kesehatan merajalela.

Senin, 30 Juni 2025
A A
Presiden Prabowo Subianto meresmikan peletakan batu pertama Proyek Ekosistem Industri Baterai Kendaraan Listrik Terintegrasi di Karawang, Jawa Barat, 29 Juni 2025. Foto Dok. Kementerian ESDM.

Presiden Prabowo Subianto meresmikan peletakan batu pertama Proyek Ekosistem Industri Baterai Kendaraan Listrik Terintegrasi di Karawang, Jawa Barat, 29 Juni 2025. Foto Dok. Kementerian ESDM.

Share on FacebookShare on Twitter

Baca juga: Anggrek Biru Raja Ampat Terancam Punah, Tapi Tak Dilindungi Hukum Indonesia

Dari luasan tersebut, 338.508 hektare dikuasai perusahaan pertambangan nikel (tidak termasuk kawasan industri PT IWIP dan Harita Nickel), setara dengan sekitar 4,6 kali luas Singapura. Angka ini menggambarkan skala penguasaan sumber daya alam yang tak terbendung, yang menjadi akar dari segala persoalan sosial dan ekologis yang terjadi.

Ironisnya, karpet merah terhadap ekspansi industri pertambangan dan kawasan industri di Maluku Utara mengabaikan fakta, bahwa pencemaran telah memicu penyakit mematikan yang menggerogoti tubuh manusia, biota laut, dan lingkungan hidup.

Berbagai penelitian mengungkap pencemaran logam berat beracun seperti nikel, mangan, dan timbal di perairan Halmahera yang sudah jauh melebihi batas aman.

Baca juga: Prabowo Resmikan 55 Proyek Energi Panas Bumi dan Surya, Klaim Nol Emisi Karbon Tepat Waktu

Laporan Nexus3 Foundation bersama Universitas Tadulako menunjukkan bahwa logam berat tersebut tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga telah masuk ke dalam tubuh ikan dan manusia, mengancam kesehatan masyarakat melalui rantai makanan.

Penelitian yang sama mengungkap pula bahwa puluhan sampel darah pekerja dan warga sekitar Weda Bay Nickel Industrial Park (IWIP) di Halmahera Tengah mengandung merkuri dan arsenik dalam kadar melebihi ambang aman.

“Temuan ini menunjukkan dampak langsung pencemaran industri terhadap kesehatan masyarakat di sekitar kawasan tambang,” ucap juru bicara Save Sagea serta warga Halmahera Tengah, Mardani Legayelol.

Baca juga: Komisi IV DPR Janji Undang Aktivis Lingkungan untuk Bahas UU Baru Kehutanan

Pengujian air laut oleh Kompas pada 2023 di Teluk Weda, Halmahera Tengah, dan Teluk Buli, Halmahera Timur juga menemukan kandungan kromium heksavalen (Cr6), nikel (Ni), dan tembaga (Cu) melebihi standar baku mutu yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Selain itu, investigasi The Guardian mengungkap pencemaran sumber air bersih warga di Kawasi, Obi, dengan senyawa Cr6 yang bersifat karsinogenik, melebihi batas aman menurut WHO dan Kementerian Kesehatan. Temuan ini diperkuat oleh kolaborasi investigasi The Gecko Project, OCCRP, Deutsche Welle, KCIJ Newstapa, dan The Guardian, yang berdasarkan dokumen bocor, membuktikan kontaminasi Cr6 yang meluas di wilayah tersebut.

Bukan solusi, tapi ecocide

Berangkat dari sejumlah realitas pelik di atas, Jatam mengecam keras langkah pemerintah yang terus menjarah kekayaan alam Halmahera dengan melanjutkan pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik di Maba, Halmahera Timur. Pemerintah hanya mengincar kekayaan alam demi keuntungan ekonomi semu. Hanya dinikmati negara industri maju dan segelintir elit politik-pengusaha nasional, sementara warga Halmahera dibiarkan menderita, lingkungan rusak, dan krisis kesehatan merajalela.

Baca juga: Walhi Riau Ingatkan Penertiban Taman Nasional Tesso Nilo Jangan Represif dan Militeristik

“Pembangunan pabrik raksasa ini bukan solusi, melainkan bagian dari ecocide,” tegas Julfikar.

Lewat ecocide, terjadilah pemusnahan ekologis yang disengaja, kian memperparah penderitaan warga dan kehancuran alam.

Yang dibutuhkan saat ini bukanlah pabrik raksasa baru, tetapi perlindungan ruang hidup warga dan jaminan agar mereka dapat berdaulat atas tanah dan lingkungan, tanpa terus-menerus dihajar secara semena-mena oleh negara-korporasi.

“Rencana peresmian pabrik ini harus segera dihentikan sebelum kerusakan semakin tak terkendali,” tegas Julfikar. [WLC02]

Sumber: Jatam, BPMI Setpres, Kementerian ESDM

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: ecocideHalmaheraJatampabrik baterai kendaraan listrik

Editor

Next Post
Ikan Napoleon. Foto ClickerHappy/pixabay.com.

Ikan Napoleon, Penjaga Ekosistem Terumbu Karang yang Terancam Tambang

Discussion about this post

TERKINI

  • Ginseng Jawa (Talinum paniculatum). Foto Alam Sari Petra.Ginseng Jawa Lebih Aman Dikonsumsi Ketimbang Ginseng Korea
    In Rehat
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Gelaran Indonesia Climate Justice Summit (ICJS) 2025 hari pertama di Jakarta, 26 Agustus 2025. Foto Dok. ARUKI.ICJS 2025, Masyarakat Rentan Menuntut Keadilan Iklim
    In Lingkungan
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Kepala BMKG melakukan kunjungan ke UPT Stasiun Meteorologi (Stamet) Kelas I Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, 24 Agustus 2025. Foto BMKG.Akhir Agustus 2025, Potensi Karhutla di Riau Meningkat
    In News
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Lalat buah. Foto CABI Digital Library/digitani.ipb.ac.id.Pengendalian Lalat Buah dengan Teknologi Nuklir, Amankah?
    In IPTEK
    Senin, 25 Agustus 2025
  • Presiden Prabowo Subianto memimpin pertemuan tertutup soal penertiban tambang ilegal di Hambalang, Bogor, 19 Agustus 2025. Foto Laily Rachev/BPMI Setpres.Alasan Prabowo Tertibkan Tambang Ilegal agar Negara Tetap Memperoleh Pendapatan
    In Lingkungan
    Senin, 25 Agustus 2025
wanaloka.com

©2025 Wanaloka Media

  • Tentang
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2025 Wanaloka Media