“ACF ini melengkapi metode passive case finding yang selama ini dilakukan,” jelas Ismono.
Kegiatan ACF yang dilakukan Zero TB Yogyakarta menggunakan rontgen dada untuk meningkatkan peluang penemuan kasus TBC.
“Orang-orang yang tidak bergejala, nanti bisa ketahuan dari rontgen-nya,” jelas Direktur Zero TB Yogyakarta, Rina Triasih.
Jika hasil rontgen menunjukkan adanya dugaan TBC, maka pemeriksaan dilanjutkan dengan tes dahak guna memastikan diagnosis.
Rina menjelaskan, ACF penting dilakukan untuk menemukan pasien TBC secara dini di masyarakat, agar dapat segera mendapatkan pengobatan sehingga mengurangi risiko penularan dari pasien TBC yang belum terdiagnosis di masyarakat. Untuk mewujudkan eliminasi TBC yang ditargetkan tercapai pada tahun 2030, penemuan kasus TBC secara aktif menggunakan rontgen dada merupakan salah satu upaya yang harus digalakkan.
Selain penemuan kasus secara aktif, upaya ini juga perlu diimbangi dengan pemberian obat yang tepat dan langkah pencegahan, antara lain dengan pemberian Terapi Pencegahan TBC (TPT). Terapi pencegahan ini diberikan kepada individu yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC untuk mencegah berkembangnya penyakit. Melalui kombinasi penemuan kasus secara aktif, pengobatan yang adekuat, dan upaya pencegahan, target eliminasi TBC di Indonesia diharapkan dapat tercapai. [WLC02]






Discussion about this post