Jumat, 11 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Jutaan Remaja Alami Gangguan Mental, Hanya 2,6 Persen Konseling

Senin, 24 Oktober 2022
A A
Ilustrasi remaja. Foto Dimhou/pixabay.com

Ilustrasi remaja. Foto Dimhou/pixabay.com

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Berdasarkan Survei Kesehatan Mental Nasional Indonesia (Indonesia National Adolescent Mental Health Survey/I-NAMHS), satu dari tiga remaja Indonesia memiliki masalah kesehatan mental. Angka ini setara dengan 15,5 juta remaja. Sementara satu dari 20 remaja Indonesia memiliki gangguan mental dalam 12 bulan terakhir atau setara dengan 2,45 juta remaja.

Survei tersebut mengukur angka kejadian gangguan mental pada remaja 10 – 17 tahun di Indonesia. Hasilnya, remaja dalam kelompok ini terdiagnosis dengan gangguan mental. Acuannya adalah Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders Edisi Kelima (DSM-5) yang menjadi panduan penegakan diagnosis gangguan mental di Indonesia.

Hasil penelitian juga menunjukkan gangguan mental yang paling banyak diderita remaja adalah gangguan cemas (gabungan antara fobia sosial dan gangguan cemas menyeluruh) sebesar 3,7 persen. Kemudian diikuti gangguan depresi mayor (1,0 persen), gangguan perilaku (0,9 persen), serta gangguan stres pasca-trauma (PTSD), serta gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD) masing-masing sebesar 0,5 persen.

Baca Juga: Hutan dan Karst di Trenggalek Terancam Rusak Akibat Eksplorasi Tambang Emas

“Remaja dengan gangguan mental mengalami gangguan atau kesulitan melakukan kesehariannya akibat gejala gangguan mental yang dimiliki,” terang peneliti utama I-NAMHS, Prof. dokter Siswanto Agus Wilopo. Diseminasi hasil penelitian digelar pada 20 Oktober 2022 di Jakarta Selatan.

Persoalannya, hanya 2,6 persen remaja yang memiliki masalah kesehatan mental menggunakan fasilitas kesehatan mental atau konseling untuk membantu mengatasi masalah emosi dan perilakunya dalam 12 bulan terakhir. Meskipun pemerintah sudah meningkatkan akses ke pelbagai fasilitas kesehatan. Padahal, hampir 20 persen dari total penduduk Indonesia berada dalam rentang usia 10 – 19 tahun. Populasi remaja dapat dikatakan memiliki peran penting bagi perkembangan Indonesia, terutama untuk meraih bonus demografi dan merealisasikan visi Indonesia Emas 2024.

Baca Juga: Pakai Energi Terbarukan, Indonesia Hemat Biaya USD 600 Miliar Hingga 2050

“Angka itu pun masih sangat kecil dibandingkan jumlah remaja yang sebenarnya membutuhkan bantuan dalam mengatasi permasalahan mental mereka,” papar Siswanto yang juga Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM.

I-NAMHS juga mengumpulkan data tentang pengaruh kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan pembatasan kontak sosial selama pandemi Covid-19 terhadap kesehatan mental remaja. Sebanyak 1 dari 20 remaja melaporkan merasa lebih depresi, lebih cemas, lebih merasa kesepian, dan lebih sulit untuk berkonsentrasi dibandingkan sebelum pandemi Covid-19.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Covid-19depresifasilitas kesehatan mentalFKKMK UGMgangguan kesehatan mentalgangguan mentalI-NAMHSkonselingmerasa kesepianremaja

Editor

Next Post
Ilustrasi anak-anak yang tengah sakit. Foto sasint/pixabay.com

Menkes: 156 Obat Sirup Boleh Dikonsumsi, Obat Gagal Ginjal Akut Gratis

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media