Senin, 9 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Kematian Anak Gajah di Tesso Nilo, Pakar Ingatkan Bahaya Pasang Jerat Bagi Satwa Liar

Alat jerat dapat menangkap hewan apa pun yang melintas di sekitarnya, bukan hanya target utama. Sementara penggunaan jerat tidak dapat membedakan spesies.

Jumat, 6 Maret 2026
A A
Ilustrasi anak gajah da induknya. Foto cocoparisienne/pixabay.com.

Ilustrasi anak gajah da induknya. Foto cocoparisienne/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Seekor anak Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatrensis) dari populasi gajah liar telah ditemukan mati di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo, tepatnya di Resort Lancang Kuning, Seksi PTN Wilayah I, pada Kamis, 26 Februari 2026 sekitar pukul 12.00 WIB.

Satwa ditemukan dalam kondisi telah menjadi bangkai dan mengalami proses pembusukan lanjut. Berdasarkan kondisi fisik di lapangan, kematian diperkirakan telah terjadi lebih dari satu minggu sebelum ditemukan.

Hasil pemeriksaan awal di lokasi menunjukkan dugaan sementara penyebab kematian akibat infeksi pada bagian kaki yang diduga kuat berkaitan dengan jerat. Tim Medis Balai Taman Nasional Tesso Nilo segera melakukan penanganan lebih lanjut, termasuk pemeriksaan mendalam untuk memastikan penyebab kematian secara ilmiah.

Peristiwa ini menjadi pengingat akan ancaman nyata yang masih dihadapi satwa liar, khususnya Gajah Sumatera di habitat alaminya.

Baca juga: Serbuan Tawon di Tol Cipularang, Alarm Penurunan Kualitas Lingkungan

“Kami mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama meningkatkan kepedulian dan peran aktif dalam menjaga kelestarian satwa dilindungi,” ajak Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo,Heru Sutmantoro.

Penggunaan jerat ancam satwa liar

Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Prof. Raden Wisnu Nurcahyo mengaku prihatin atas kematian anak gajah di Taman Nasional Tesso Nilo, Riau akibat terkena jerat. Penggunaan jerat pada satwa liar merupakan ancaman kejam yang menyebabkan cidera fisik parah.

Kondisi ini dapat menyebabkan kecacatan permanen hingga kematian secara lambat akibat kelaparan, dehidrasi, atau infeksi bakteri pada hewan. Terlebih lagi pada anak gajah dapat berakibat lebih fatal.

“Anak gajah masih kurang ketahanan tubuhnya untuk mempertahankan diri akibat kelaparan dan dehidrasi dibanding gajah dewasa,” jelas Wisnu, Jumat, 6 Maret 2026.

Baca juga: Potensi Hujan Lebat Saat Libur Lebaran Idulfitri 2026

Jerat ini juga dapat memicu penurunan populasi drastis, mengganggu ekosistem, dan berisiko menularkan penyakit zoonosis karena infeksi bakteri. Untuk jangka panjang, anak gajah yang selamat sering mengalami penurunan kualitas kesehatan yang berdampak pada rendahnya tingkat keberhasilan reproduksi.

Selain itu, anak gajah yang cacat dapat menyebabkan gangguan perilaku dan pergerakan dalam bersosialisasi dengan gajah yang lain.

”Cacat fisik dapat menghambat kemampuan satwa untuk mencari makan, bergerak, dan menghindari predator yang mendorong mereka mengalami malnutrisi atau kekurangan pakan,” jelas dia.

Kematian anak gajah tersebut diduga akibat penggunaan jerat yang tidak selektif (indiscriminate). Artinya, alat ini dapat menangkap hewan apa pun yang melintas di sekitar jerat tersebut, bukan hanya target utama. Sementara penggunaan jerat tidak dapat membedakan spesies.

“Masyarakat sering kali salah sasaran ketika memasang jerat yang menjerat satwaliar lain yang dilindungi, seperti harimau, gajah, beruang madu, atau orangutan,” papar dia.

Baca juga: Edukasi Cerita Rakyat dan Sains di Balik Gerhana Bulan Total

Jika penggunaan bahan jerat berupa jerat kawat baja atau sling yang sangat kuat, maka tak hanya dapat menangkap, tetapi juga melukai, bahkan membunuh satwa liar berukuran besar maupun kecil. “Jika jerat ini tidak diperiksa dalam waktu lama atau ditinggalkan pemasangnya, tetapi tetap aktif, maka dapat membunuh satwa liar dan pemburu lain yang melewati daerah tersebut,” papar dia.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: anak gajahFakultas Kedokteran Hewan UGMJerat Kawat BajaKementerian KehutananKLH/BPLHTaman Nasional Tesso Nilo

Editor

Next Post
Aksi warga Sagea - Kiya di Halmahera Tengah menolak pertambangan. Foto Dok. Jatam.

Dugaan Kriminalisasi Warga Sagea - Kiya, Jatam: Pasal 162 UU Minerba Melanggengkan Praktik SLAPP

Discussion about this post

TERKINI

  • Aksi warga Sagea - Kiya di Halmahera Tengah menolak pertambangan. Foto Dok. Jatam.Dugaan Kriminalisasi Warga Sagea – Kiya, Jatam: Pasal 162 UU Minerba Melanggengkan Praktik SLAPP
    In Lingkungan
    Jumat, 6 Maret 2026
  • Ilustrasi anak gajah da induknya. Foto cocoparisienne/pixabay.com.Kematian Anak Gajah di Tesso Nilo, Pakar Ingatkan Bahaya Pasang Jerat Bagi Satwa Liar
    In Rehat
    Jumat, 6 Maret 2026
  • Ilustrasi serbuan tawon pada kereta api yang lewat. Foto skyvictor79/pixabay.com.Serbuan Tawon di Tol Cipularang, Alarm Penurunan Kualitas Lingkungan
    In Lingkungan
    Kamis, 5 Maret 2026
  • Ilustrasi suasana saat hujan turun. Foto Horacio30/pixabay.com.Potensi Hujan Lebat Saat Libur Lebaran Idulfitri 2026
    In News
    Kamis, 5 Maret 2026
  • Gerhana bulan total, 3 Maret 2026 pukul 18.57 WIB. Foto Observatorium Bosscha.Edukasi Cerita Rakyat dan Sains di Balik Gerhana Bulan Total
    In Rehat
    Rabu, 4 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media