Senin, 26 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Kematian Anak Gajah di Tesso Nilo, Pakar Ingatkan Bahaya Pasang Jerat Bagi Satwa Liar

Alat jerat dapat menangkap hewan apa pun yang melintas di sekitarnya, bukan hanya target utama. Sementara penggunaan jerat tidak dapat membedakan spesies.

Jumat, 6 Maret 2026
A A
Ilustrasi anak gajah da induknya. Foto cocoparisienne/pixabay.com.

Ilustrasi anak gajah da induknya. Foto cocoparisienne/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Kasus kematian anak gajah di TN Tesso Nilo ini dapat berdampak krusial terhadap keberlangsungan populasi lokal. Hilangnya satu individu muda dapat mengurangi potensi regenerasi kelompok, melemahkan struktur sosial populasi gajah, dan menekan populasi yang sudah terancam kritis akibat jerat dan hilangnya habitat.

Kematian tersebut akan berdampak utama terhadap populasi lokal, misalnya gangguan regenerasi populasi gajah. Sebab anak gajah adalah masa depan kelompok populasi gajah. Dengan masa kehamilan panjang dan interval kelahiran 4-5 tahun, kematian anak gajah membuat pertumbuhan populasi sangat lambat atau mustahil.

Kematian salah satu anak gajah juga menyebabkan dampak psikologis dan sosial pada kelompok gajah. Sebab, gajah merupakan satwa liar yang memiliki sifat sosial dengan ikatan kekeluargaan kuat.

“Kematian anak dapat menyebabkan trauma pada induk dan kelompok, mengganggu struktur sosial,” ungkap dia.

Baca juga: Desain Kota Pesisir Berbasis Iklim Berpotensi Turunkan Suhu hingga 2 Derajat Celsius

Selain itu, kematian akibat jerat atau konflik manusia-gajah di habitat dapat menunjukkan kerentanan yang tinggi terhadap perburuan dan alih fungsi lahan. Langkah-langkah medis yang harus dilakukan apabila menemukan anak gajah yang terjerat adalah segera melaporkan segera kepada petugas BBKSDA atau Polisi Hutan atau dokter hewan terdekat. Dengan catatan tetap hati-hati dengan satwa liar lain.

Penanganan selanjutnya dengan melihat kondisi fisiknya. Apabila diperlukan dapat dilakukan pembiusan (sedasi) oleh tim medis dokter hewan untuk melepaskan jerat, membersihkan luka infeksi, dan memberikan antibiotik/anti-inflamasi. Tindakan medis darurat hanya dapat dilakukan oleh dokter hewan mulai dari imobilisasi atau pemberian sedasi pembiusan dengan melihat posisi jerat untuk melepaskan jerat dengan aman.

Pelepasan jerat dapat dilakukan dengan pemotongan kawat atau tali jerat dengan menggunakan tang pemotong baja. Setelah itu dilakukan tindakan pembersihan luka secara intensif dari kotoran dan jaringan mati. Penanganan infeksi dapat dilakukan pemberian antibiotik dan anti-inflamasi untuk mencegah septikemia.

Untuk perawatan lokal dapat menggunakan antiseptik, salep khusus, atau bahan alami seperti madu untuk membantu mempercepat penyembuhan jaringan. Sementara, untuk pasca perawatan dapat dilakukan evakuasi atau release bila luka dianggap telah sembuh dengan melepasliarkan anak gajah tersebut kembali ke kelompoknya.

Baca juga: Tahun 2026: Kemarau Datang Lebih Cepat, El Nino Pertengahan Tahun, Agustus Puncak Kemarau

Jika lukanya cukup parah, diperlukan perawatan intensif dengan mengevakuasi anak gajah tersebut ke Pusat Latihan Gajah. Pemantauan intensif perlu dilakukan untuk memastikan anak gajah dapat beradaptasi dan luka sembuh total.

Peta jasa lingkungan hidup

Sementara Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Diaz Hendropriyono menyatakan kesiapan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mendukung upaya reforestasi kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) melalui penyediaan peta Jasa Lingkungan Hidup (JLH).

Melalui peta JLH, KLH/BPLH akan membantu memprioritaskan wilayah dengan nilai jasa lingkungan tinggi untuk rehabilitasi dan restorasi.

“Dalam pembangunan ekosistem gajah atau pembuatan saltlick, kami dapat menyediakan data peta JLH pengatur air,” jelas Diaz.

Sebagaimana diketahui, TNTN tengah mengalami degradasi yang cukup serius. Lebih dari 90 persen kawasan dari 81 ribu hektare diperkirakan telah mengalami kerusakan. KLH/BPLH mendukung penghijauan kembali kawasan tersebut.

“Kami mendukung program reforestasi ini,” kata Diaz. [WLC02]

Sumber: Kementerian Kehutanan, KLH/BPLH, UGM

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: anak gajahFakultas Kedokteran Hewan UGMJerat Kawat BajaKementerian KehutananKLH/BPLHTaman Nasional Tesso Nilo

Editor

Next Post
Aksi warga Sagea - Kiya di Halmahera Tengah menolak pertambangan. Foto Dok. Jatam.

Dugaan Kriminalisasi Warga Sagea - Kiya, Jatam: Pasal 162 UU Minerba Melanggengkan Praktik SLAPP

Discussion about this post

TERKINI

  • Pertemuan 20 organisasi masyarakat sipil kawasan Asia Pasifik dalam Asia Pacific System Change Convergence 2026 di Yogyakarta, pada 17-21 Oktober 2026. Foto Istimewa.Organisasi Masyarakat Sipil Asia Pasifik Serukan Perubahan Sistem Mengakhiri Krisis Ekologis dan Ketidakadilan Global 
    In News
    Sabtu, 24 Oktober 2026
  • Aktivis Greenpeace Indonesia membentangkan spanduk raksasa di Monumen Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Selasa, 20 Oktober 2026. Foto Greenpeace Indonesia.Dua Tahun Rezim Prabowo, Aktivis Greenpeace Bentangkan Spanduk ‘Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah’
    In News
    Selasa, 20 Oktober 2026
  • Bencana Sumatra. Foto Walhi.Tidak Tetapkan Bencana Sumatra Sebagai Bencana Nasional, Prabowo Digugat
    In News
    Senin, 19 Oktober 2026
  • Kondisi Desa Sei Gita, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Selasa, 13 Oktober 2026. Foto Dok Borneo Is Burning.Mitigasi Krisis Iklim, Suhu Permukaan Meningkat Tren Curah Hujan Menurun
    In Lingkungan
    Sabtu, 17 Oktober 2026
  • Ratusan Perempuan Adat dari berbagai wilayah Nusantara berkumpul dalam Temu Nasional (Temunas) IV di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Foto Dok Perempuan AMAN.Temunas IV Perempuan AMAN: Perempuan Adat Perkuat Kepemimpinan dan Kedaulatan
    In News
    Jumat, 16 Oktober 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media