Wanaloka.com – Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan (Ditjen Gakkum Kehutanan) Kementerian Kehutanan melakukan investigasi dan penelusuran jaringan menyusul ditemukannya seekor Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) dalam kondisi mati tanpa kepala di kawasan lindung Blok Ukui, Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau. Lokasi penemuan itu merupakan bagian dari wilayah jelajah gajah pada kantong habitat Tesso Tenggara.
“Kami tidak akan memberikan ruang sedikit pun bagi pelaku kejahatan satwa liar. Tim kami di lapangan saat ini sedang bekerja intensif untuk mengidentifikasi jaringan pemburu ini. Fokus kami bukan hanya pelaku di lapangan, tapi hingga ke pemodal atau aktor intelektual di baliknya,” kata Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, Minggu, 8 Februari 2026.
Kematian gajah ini pertama kali dilaporkan PT Riau Andalan Pulp and Paper (PT RAPP) kepada Polres Pelalawan dan Balai Besar KSDA Riau, Senin, 2 Februari 2026. Berdasarkan keterangan awal di lapangan, Tim Penanggulangan Konflik Satwa Liar (TPKSL) Blok Ukui menemukan seekor gajah jantan telah mati dengan kondisi pembusukan lanjut.
Baca juga: Program Gentengisasi, Pakar Ingatkan Rumah Tradisional di Indonesia Tak Seragam
Balai Besar KSDA Riau kemudian melakukan nekropsi guna memastikan penyebab kematian secara medis dan ilmiah. Hasil pemeriksaan menunjukkan gajah berjenis kelamin jantan yang diperkirakan berumur di atas 40 tahun ini telah mati sekitar dua minggu sebelum ditemukan.
Dari hasil bedah bangkai ditemukan indikasi cidera kepala berat. Secara medis, dugaan sementara mengarah pada trauma kepala akibat luka tembak. Temuan ini memperkuat dugaan adanya tindak kejahatan terhadap satwa liar yang dilindungi.
Sejalan dengan proses penyelidikan yang dilakukan Polres Pelalawan dan Polda Riau, Gakkum Kehutanan saat ini memfokuskan upaya penelusuran aktor dan jaringan di balik peristiwa tersebut. Termasuk kemungkinan keterkaitan dengan praktik perburuan satwa liar secara terorganisir.
Baca juga: Diet Karnivora Tidak Aman, Ini Risikonya







Discussion about this post