Kamis, 12 Februari 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Kepala BNPB Mendengar Kisah Komunitas Lingkungan Mengelola Tukad Bindu di Bali

Tukad Bindu sempat menjadi tempat sampah permukiman. Atas kegigihan komunitas lingkungan, Tukad Bindu menjadi eco-tourism yang ramai dikunjungi.

Minggu, 23 Juni 2024
A A
Kepala BNPB Letjend TNI Suharyanto dan rombongan meninjau Tukad Rindu yang dikelola komunitas lingkungan di Bali, 21 Juni 2024. Foto BNPB.

Kepala BNPB Letjend TNI Suharyanto dan rombongan meninjau Tukad Rindu yang dikelola komunitas lingkungan di Bali, 21 Juni 2024. Foto BNPB.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Kata “tukad” dalam bahasa Bali berarti sungai. Secara morfologi, Tukad Bindu adalah anak sungai Ayung yang menjadi sungai terpanjang di Pulau Bali dan berhulu di Danau Bratan, Kintamani.

Dahulu, Tukad Bindu menjadi salah satu sungai irigasi yang dibangun dan dikelola Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1924. Infrastruktur berupa senderan sungai dan Dam Bindu merupakan salah satu bukti yang masih beroperasi hingga sekarang.

Seiring waktu berjalan, Tukad Bindu menjadi tempat sampah raksasa masyarakat yang mulai bermukim di sepanjang bantaran. Air yang mengalir tercemar dengan berbagai ragam sampah rumah tangga, bangkai binatang hingga limbah pembuangan air dari permukiman yang kian menjamur di wilayah itu.

Baca Juga: Situs Ramsar ke-8 di Indonesia, Lahan Basah TWA Menipo Langka dan Unik

Tidak hanya sampah dan limbah, Tukad Bindu juga dipenuhi semak-semak yang lebat dan jauh dari kata indah. Kondisi itu turut diperparah dengan mitos yang beredar bahwa sungai adalah tempat makhluk halus, sehingga masyarakat enggan peduli dengan sungai itu sendiri.

Pada tahun 2010, I Gusti Rai Ari Temaja yang akrab disapa dengan Gung Nik mengajak para pemuda peduli lingkungan untuk bergerak membersihkan Tukad Bindu secara swadaya. Pro kontra yang muncul tidak menciutkan niat baktinya pada alam semesta.

Tahun 2013, komunitas “Giat Lestarikan Alam Selamatkan Lingkungan Hidup” alias “Gila Selingkuh” terbentuk. Mereka menghimpun kekuatan lebih besar lagi dalam pengelolaan lingkungan hidup. Tidak hanya fokus pada sungai saja, komunitas yang kini telah menjadi sebuah yayasan itu juga fokus ke penanganan lingkungan yang lebih besar lagi.

Baca Juga: WHO Rilis Virus Flu Burung Terdeteksi di India, Ini Pesan Kemenkes dan Mantan Menkes

Hingga saat ini, Tukad Bindu terus berbenah menjadi eco-tourism yang lebih baik. Sungai sepanjang kurang lebih 1,8 kilometer yang dulunya kritis, kini memiliki fasilitas umum seperti jogging track, camping ground, outbond, tempat gym dan olahraga, ruang meditasi, balai dan panggung budaya. Tak ketinggalan gazebo, kuliner, spot foto, wahana air, pemancingan dan semua itu gratis bagi setiap warga yang ingin berkunjung.

Keberhasilan pengelolaan Tukad Bindu juga memantik perhatian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan organisasi besar dunia lainnya. Pada tahun 2018, Presiden World Bank menyempatkan diri mengunjungi Tukad Bindu. Pada tahun yang sama, sebanyak 68 delegasi negara IMF juga diajak untuk melihat dan merasakan nuansa Tukad Bindu.

Hubungan antara Tukad Bindu, komunitas “Gila Selingkuh” dan keluarga besar Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebenarnya sudah terjalin sejak 2019. Saat itu, Kepala BNPB (2008-2015) Prof. Syamsul Ma’arif datang ke Tukad Bindu. Kepala BNPB yang pertama itu menciptakan lagu berjudul “Tukad Bindu” setelah terinspirasi dan hasil dari buah kecintaannya terhadap pesona Tukad Bindu.

Baca Juga: Cegah Bencana Kebakaran dengan TMC, OMC atau Water Bombing

Air Sumber Kehidupan

Bagaimana pun air merupakan sumber daya alam utama untuk mendukung kehidupan dan penghidupan masyarakat. Suharyanto berharap agar seluruh masyarakat dapat menjaga dan mengelola air sebijak mungkin untuk kehidupan yang lebih baik.

“Memang dunia ke depan, sumber daya alam yang paling berharga ini adalah air. Tidak bisa tidak. Indonesia ini sumber airya melimpah. Tinggal bagaimana masyarakat ini mengelolanya,” kata Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto di bantaran Tukad Bindu, Kota Denpasar, Bali pada 21 Juni 2024.

Di sisi lain, Suharyanto mengingatkan jika manusia gagal mengelola air, maka cepat atau lambat dampaknya akan dirasakan manusia itu sendiri. Bukti nyata itu pun sudah banyak dirasakan dan dihadapinya selama menjabat sebagai Kepala BNPB.

Baca Juga: Dua Kali Erupsi Menyusul Penurunan Status Gunung Ibu Jadi Siaga

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Kepala BNPB Letjen TNI SuharyantoKomunitas Gila SelingkuhKota DenpasarTukad Bindu

Editor

Next Post
Episenter gempa Laut Banda, Maluku pada Senin, 24 Juni 2024. Foto tangkap layar Google Earth berdasarkan koordinat BMKG.

Guncangan Gempa Laut Banda 6,0 Magnitudo Dirasakan Skala IV MMI

Discussion about this post

TERKINI

  • Aksi Hari Tani Nasional 2025 serukan pelaksanaan reforma agraria, 24 September 2025. Foto KPA.KPA Kritik Peran Bank Tanah, Menghidupkan Lagi Kepemilikan Tanah Negara Masa Kolonial
    In Lingkungan
    Rabu, 11 Februari 2026
  • MMA dan PPLH LRI sepakat menguatkan peran adat dalam mengelola hutan di Aceh. Foto Dok. IPB University.Kuatkan Kembali Panglima Uteun untuk Jaga Kelestarian Hutan Aceh
    In News
    Rabu, 11 Februari 2026
  • Lokasi pertambangan dekat dengan sebuah danau (L) dan Teluk Weda (R) di Indonesia Timur pada 2023. Foto Climate Rights International.Jatam Tegaskan, Empat Perusahaan Tambang di Maluku Utara Harus Ditindak Tegas, Tak Sekadar Denda
    In Lingkungan
    Selasa, 10 Februari 2026
  • Ilustrasi sistem saraf pusat manusia yang meliputi otak dan sumsusm tulang belakang. Foto VSRao/pixabay.com.Virus Nipah Menyerang Sistem Saraf Pusat yang Percepat Perburukan Klinis
    In Rehat
    Selasa, 10 Februari 2026
  • Banjir di salah satu wilayah di Pulau Jawa. Foto Dok. Walhi.Kebijakan Tata Ruang Abaikan Lingkungan, Bencana Ekologis di Pulau Jawa Terus Berlanjut
    In Lingkungan
    Senin, 9 Februari 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media