Meski demikian, warna Matahari yang terlihat mata manusia tidak dapat digunakan secara langsung sebagai ukuran konsentrasi asap atau tingkat pencemaran udara.
Asap yang berada cukup tinggi di atmosfer bisa membuat Matahari tampak merah, tetapi belum tentu konsentrasi PM2.5 di permukaan tinggi.
“Jadi, warna Matahari tidak bisa dijadikan satu-satunya alat ukur kualitas udara,” kata dia.
Warna yang terlihat dari suatu lokasi juga dipengaruhi ketinggian lapisan asap, ukuran dan komposisi aerosol, kelembapan, awan, sudut Matahari, serta kondisi angin. Penentuan kualitas udara tetap perlu mengacu pada data dan informasi resmi.
Jika Matahari merah disertai kabut asap, jarak pandang menurun, dan ada sumber karhutla di sekitar atau arah datang angin, masyarakat sebaiknya meningkatkan kewaspadaan dan memeriksa informasi kualitas udara resmi.
Givo juga mengingatkan hal penting lain yang tidak boleh dilupakan: jangan melihat langsung Matahari dengan mata telanjang. Sebab, meskipun tampak redup atau merah karena asap, pengamatan langsung terhadap Matahari tetap berbahaya. [WLC02]
Sumber: IPB University






Discussion about this post