Kamis, 2 April 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Mengenal Otter yang Ramai Dipelihara, Lucu, Liar, Dilindungi dan Berisiko

Naluri liar bisa memunculkan serangan berupa cakaran maupun gigitan, sehingga bersiko menularkan penyakit akibat penjualan tanpa melakukan skrining status kesehatan hewan.

Kamis, 6 Maret 2025
A A
Ilustrasi otter atau berang-berang. Foto KnipsKaline/pixabay.com.

Ilustrasi otter atau berang-berang. Foto KnipsKaline/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Adit juga mendukung upaya konservasi ek-situ dalam tujuan penyelamatan, pemeliharaan dan peningkatan populasi meskipun status belum dilindungi. Peran serta dokter hewan dalam meriset dan mengidentifikasi status kesehatan otter yang kini semakin meningkat sebagai hewan peliharaan eksotik.

Baca juga: Pelestarian Lingkungan Lewat Deklarasi Hutan Adat Rimba Kobar di Sekadau

“Masih jarang riset pada otter menjadi tantangan yang concern skrining, identifikasi, sampai surveilans yang belum ada data detail hingga kini,” kata dia.

Kalau digigit otter

Gigitan hewan dapat terjadi kapan pun dan di mana pun. Baik saat berada di rumah, lingkungan sekitar, maupun ketika traveling. Tidak hanya dari hewan liar saja, gigitan bisa berasal dari hewan peliharaan yang tidak sepenuhnya jinak. Termasuk kucing, anjing, hamster, otter, dan hewan terdomestikasi lain.

Dan hewan menggigit tak mengenal artis, pawang, ataupun orang biasa. Pasien yang membiarkan gigitan tanpa penanganan berpotensi terinfeksi seperti potensi rabies, tetanus, sepsis, hingga komplikasi.

Baca juga: Kepala Daerah Baru Perlu Adaptasi Merespons Cepat Peringatan Dini Cuaca Ekstrem

Dosen Kedokteran FIKKIA Unair, Kurnia Alisaputri mengatakan risiko manusia mengalami gigitan hewan semakin meningkat. Interaksi yang semakin intens dengan berbagai jenis hewan sekitar memerlukan kehati-hatian. Baik itu sekitar rumah maupun saat melakukan travelling.

Ia mengingatkan untuk jangan sampai mengabaikan hanya sekedar tergigit hewan tertentu. Sebab tidak mengetahui keberadaan agen zoonosis dari kejadian itu. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui langkah penanganan yang tepat guna mencegah infeksi dan komplikasi serius.

“Kami tidak tahu jenis kuman yang hidup pada hewan penggigit. Khawatir terdapat infeksi zoonosis yang tertransmisi pada korban gigitan,” kata dia.

Baca juga: Wilayah Jabodetabek Dikepung Banjir

Segera cuci tangan

Langkah pertama setelah gigitan hewan adalah segera mencuci luka dengan air mengalir. Bila memungkinkan tambahkan sabun saat proses irigasi. Pembersihan bertujuan untuk menghilangkan kuman yang terbawa air liur hewan maupun lokasi luka terbuka yang menyebabkan infeksi. Berikan antiseptik non korosif pada luka seperti iodine agar membunuh kuman.

“Selama pembersihan pasien dapat membuka area luka tusuk bekas gigitan sambil melakukan irigasi. Biar agen patogen dapat ikut keluar dari area luka,” jelas dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUD Blambangan Banyuwangi itu.

Segeralah pergi ke pelayanan kesehatan terdekat setelah proses pembersihan luka secara mandiri. Bila mengalami luka robek yang luas tutuplah luka dengan kain bersih agar menghindari kontaminasi sekunder selama perjalanan. [WLC02]

Sumber: Unair

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: berang-berangFIKKIA Unairhewan liarottertransmisi zoonosis

Editor

Next Post
Pusat gempa dangkal di laut mengguncang wilayah Aceh pada Jumat, 7 Maret 2025, berkekuatan 5,4 magnitudo. Foto Inatews BMKG.

Gempa Dangkal Guncang Aceh dan Luwu Timur

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media