Kamis, 5 November 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Mengenal Otter yang Ramai Dipelihara, Lucu, Liar, Dilindungi dan Berisiko

Naluri liar bisa memunculkan serangan berupa cakaran maupun gigitan, sehingga bersiko menularkan penyakit akibat penjualan tanpa melakukan skrining status kesehatan hewan.

Kamis, 6 Maret 2025
A A
Ilustrasi otter atau berang-berang. Foto KnipsKaline/pixabay.com.

Ilustrasi otter atau berang-berang. Foto KnipsKaline/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Jendela sisi kiri sebuah mobil terbuka. Muncul sosok berhidung dan bermata hitam, berkumis putih yang menyeruak seperti kucing. Imut dan lucu. Membuat sejumlah pengendara yang berhenti di sampingnya terkejut dan tersenyum.

Begitulah tayangan video pendek tentang hewan di air dan darat itu berseliweran dan viral di medsos. Backsound potongan lagu “Kita Bikin Romantis”nya Maliq & D’Essentials bikin salah tingkah. Itulah otter atau yang sering disebut berang-berang, hewan yang termasuk dalam kelompok mamalia semi-akuatik yang hidup sekitar aliran sungai atau rawa. Secara taksonomi, terdapat dua kelompok berang-berang yang berbeda.

Pertama, otter dari ordo karnivora. Mamalia ini bergantung pada konsumsi daging sebagai sumber utama nutrisi.

Kedua, beaver dari ordo rodentia sebagai herbivora dengan pola makan berbasis tumbuhan. Namun, tidak ada populasi beaver yang memiliki habitat di Indonesia.

Baca juga: Agar Operasi Modifikasi Cuaca Tak Berdampak Buruk di Wilayah Lain

Sementara otter di Indonesia berhabitat alami di tepi aliran air sebagai hewan semi akuatik. Mereka akan mencari makan ikan, crustacea, udang, maupun kepiting.

Populasi terus menyusut

Di Indonesia terdapat empat jenis otter. Namun hanya ada satu jenis tanpa status dilindungi oleh pemerintah melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106 tahun 2018. Jenis yang tidak dilindungi itu adalah berang-berang cakar kecil (Aonyx cinereus).

Sementara populasi spesies tersebut mengalami penurunan akibat eksploitasi yang tidak bertanggung jawab. Bahkan kini telah masuk daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Baca juga: Kesiapan Lahan dan Pengelolaan Sampah oleh Pemda Kunci Pengendalian Banjir Jabodetabek

Sedangkan perdagangan hewan eksotik di Indonesia bukanlah 100 persen hasil budidaya. Mayoritas penjual mendapatkan hewan tersebut dari alam.

“Jangan sampai terjadi eksploitasi untuk hobi yang tidak bertanggung jawab,” kata Dosen Satwa Liar Kedokteran Hewan FIKKIA Universitas Airlangga, Aditya Yudhana.

Bernaluri liar

Dengan asumsi tersebut, tangkapan otter dewasa langsung dari alam tentu tidak dapat jinak secara menyeluruh. Naluri liar masih dominan memunculkan serangan berupa cakaran maupun gigitan. Risiko transmisi zoonosis akibat penjualan tanpa melakukan skrining status kesehatan hewan dapat terjadi. Berupa potensi rabies, bakteri, parasit, dan fungi.

Baca juga: BNPB Pastikan Kebutuhan Dasar Warga Terdampak Banjir Jabodetabek Terpenuhi

“Jika otter berasal habitat alami dan sudah dewasa, maka tidak dapat jinak sepenuhnya. Berbeda dengan hasil dari penangkaran ek-situ yang mungkin menurunkan sifat liar menjadi jinak,” tutur dia.

Aditya menyebut masyarakat perlu mengetahui pola hidup otter yang terbiasa hidup mengeksplorasi alam. Jangan sampai membuat hewan stres yang berujung membahayakan pemilik karena ketidaktahuan akan jenis zoonosis yang akan muncul jika hewan liar tersebut sakit. Stres juga akan meningkatkan emosional hewan.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: berang-berangFIKKIA Unairhewan liarottertransmisi zoonosis

Editor

Next Post
Pusat gempa dangkal di laut mengguncang wilayah Aceh pada Jumat, 7 Maret 2025, berkekuatan 5,4 magnitudo. Foto Inatews BMKG.

Gempa Dangkal Guncang Aceh dan Luwu Timur

Discussion about this post

TERKINI

  • Kaoem Telapak desak pemerintah usut tuntas dugaan pembalakan liar dan pencucian kayu Merbau di Nabire, Papua Tengah. Foto Kaoem Telapak.Kaoem Telapak Desak Pemerintah Usut Tuntas Dugaan Pembalakan di Nabire
    In News
    Rabu, 4 November 2026
  • Media alternatif, Gejayan.id menggelar walking tour bertema “Tribute to Udin” #1 ke bekas Kantor Harian Bernas, Kota Yogyakarta. Foto Istimewa.Gejayan Civic Memory Lab: Napak Tilas Jurnalistik Udin di ‘Kantor Bernas’
    In News
    Senin, 2 November 2026
  • Episenter gempa 6,4 magnitudo di Laut Banda, Maluku, pada Kamis, 29 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Laut Banda Maluku Digoyang Gempa Menengah 6,4 Magnitudo
    In News
    Kamis, 29 Oktober 2026
  • Kondisi Desa Sei Gita, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Selasa, 13 Oktober 2026. Foto Dok Borneo Is Burning.Karhutla 2026, HRWG Tuntut Pemerintah Transparan Soal Data Lahan Terbakar dan Mengusut Pihak Bertanggungjawab
    In Lingkungan
    Senin, 26 Oktober 2026
  • Pertemuan 20 organisasi masyarakat sipil kawasan Asia Pasifik dalam Asia Pacific System Change Convergence 2026 di Yogyakarta, pada 17-21 Oktober 2026. Foto Istimewa.Organisasi Masyarakat Sipil Asia Pasifik Serukan Perubahan Sistem Mengakhiri Krisis Ekologis dan Ketidakadilan Global 
    In News
    Sabtu, 24 Oktober 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media