Sabtu, 28 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Menhut akan Susun Syarat Pendakian Berdasar Tingkat Kesulitan Setiap Gunung

Upaya ini dinilai untuk menambah pengamanan keselamatan, terlebih gunung-gunung di Indonesia memiliki kondisi dan tingkat kesulitan yang beragam.

Rabu, 2 Juli 2025
A A
Pemandangan indah di punggung Gunung Rinjani, 1 Mei 2023. Foto Al Mulki Fazri Ritonga/Wanaloka.com.

Pemandangan indah di punggungan Gunung Rinjani, 1 Mei 2023. Foto Al Mulki Fazri Ritonga/Wanaloka.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menjanjikan ada perbaikan di seluruh kawasan konservasi di taman nasional, khususnya untuk pendakian. Perbaikan ini merupakan bagian dari evaluasi prosedur keamanan dalam pendakian pasca insiden kecelakaan wisatawan asal Brasil, Juliana Marins yang mendaki Gunung Rinjani pada 21 Juni 2025 lalu.

“Kami harus hati-hati sekali tentang pengelolaan taman nasional untuk pendakian,” ujar Raja Juli dalam rapat, Rabu, 2 Juli 2025.

Selain dihadiri Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi, Ditjen KSDAE Nandang Prihadi, Kepala Balai TN Gunung Rinjani Yarman, beserta jajaran Kemenhut, Raja Juli juga mengundang empat dari tujuh personil rescuer yang turun ke lapangan untuk mengevakuasi jenazah Juliana. Mereka adalah Abdul Haris Agam dan Herna Hadi Prasetyo dari Rinjani Squad, Mustiadi dari Edelweiss Medical Help Center (EMHC), dan Samsul Padli dari Unit SAR Lombok Timur.

Baca juga: Koalisi Masyarakat Sipil Desak Cabut Gugatan Hukum terhadap Ahli Lingkungan

Sementara berdasarkan hasil dari rapat antara Kementerian Kehutanan dengan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) pada 30 Juni 2025 disebutkan, perlu ada peningkatan Standard Operating Procedure (SOP) yang merupakan upaya perbaikan yang dimaksud.

Tiga perbaikan yang dimaksud adalah, pertama, penting untuk mendefinisikan safety first sebelum pendakian. Dalam mendefinisikan parameter keselamatan ini perlu melibatkan guide, porter dan petugas yang bertugas di lapangan.

“Seperti apa measurement-nya. Ini dapat diperoleh dengan prinsip teori partisipatif melibatkan orang-orang yang memang berada di lapangan,” tutur dia.

Baca juga: Tambang, Limbah dan Hilir Mudik Kapal Tongkang Ancam Ekosistem Ikan Kerapu Raja Ampat

Kedua, menambahkan sign board berupa pemasangan papan penanda keselamatan di titik-titik rawan, peningkatan jumlah dan jarak posko pengamanan. Juga penerapan gelang Radio Frequency Identification (RFID) atau Emergency Locator Transmitter (ELT) untuk memudahkan pendeteksian apabila terjadi kondisi darurat. Sejauh ini, gelang RFID baru diterapkan untuk pendakian di Gunung Merbabu.

“Soal rencana gelang RFID ini harus segera diimplementasikan,” tutur dia.

Ketiga, penyusunan sistem klasifikasi tingkat bahaya jalur pendakian. Dengan sistem ini, pendaki akan diarahkan sesuai tingkat pengalaman dan kesiapan mereka.

Baca juga: DPR Janji Pantau Aksesibilitas Transportasi Masyarakat Adat di Pulau Enggano

“Jadi ada syarat pendakian berdasarkan level kesulitan tiap-tiap gunung di Indonesia,” kata Raja Juli.

Upaya ini dinilai untuk menambah pengamanan keselamatan, terlebih gunung-gunung di Indonesia memiliki kondisi dan tingkat kesulitan yang beragam. Selain itu akan meningkatkan sertifikasi bagi pemandu wisata dan pendakian.

Dalam pertemuan ini, disepakati pula penyusunan Memorandum of Understanding (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Kementerian Kehutanan dan Basarnas terkait penanganan keadaan darurat di kawasan konservasi. Peningkatan sinergi ini juga mencakup edukasi masyarakat terkait pentingnya kesiapan dan tanggung jawab sebelum beraktivitas di kawasan konservasi.

Baca juga: Ikan Napoleon, Penjaga Ekosistem Terumbu Karang yang Terancam Tambang

“Menjelajahi taman nasional bukan sekadar wisata biasa, perlu persiapan, pengetahuan, dan kesadaran akan risiko yang ada,” tegas Raja Juli.

Sementara Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menegaskan bahwa peningkatan kapasitas potensi SAR di seluruh kawasan konservasi menjadi sangat penting.

“Kami akan melibatkan lebih banyak unsur relawan dan masyarakat sekitar, termasuk porter lokal yang memiliki kemampuan fisik luar biasa, untuk dilatih dan dipersiapkan sebagai bagian dari potensi SAR,” ujar dia.

Baca juga: Jatam Tegaskan Proyek Baterai Kendaraan Listrik di Halmahera Bukan Solusi, Tapi Ecocide

Apresiasi tim evakuasi

Sebelumya, Raja Juli mengundang tim gabungan evakuasi Juliana ke Jakarta, Selasa, 1 Juli 2025 untuk menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi. Apresiasi diberikan kepada Kepala Kantor SAR Mataram Muhamad Hariyadi; Khafid As’Adi dan I Gede Lanus dari SAR Mataram; Samsul Padli, Muhammad Saopil Amri, Randi Paozan, dan Rio Pratama dari Unit SAR Lombok Timur; Gunawan Qausari dari Damkar Lombok Timur.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Basarnasgelang RFIDKementerian KehutananKementerian PariwisataSOP Pendakian EkstremSquad Rinjanisyarat pendakian

Editor

Next Post
Lumba-lumba Irrawaddy. Foto Tan Someth Bunwath/WWF.

Pesut Mahakam Tinggal 62 Ekor Akibat Limbah Tambang dan Domestik

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media